PAMEKASAN, MADURANET – Pemanfaatan teknologi di Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning menunjukkan bahwa perangkat digital bukan menjadi alat candu, melainkan penunjang pembelajaran.
Guru multimedia IBS PKMKK, Badrud Tamam Khafi membenarkan fasilitas Smart TV, pendingin ruangan (AC), CCTV, hingga satu laptop untuk setiap siswa di setiap kelas.

“Materi pelajaran disajikan melalui presentasi visual dan animasi, sehingga tidak terkesan monoton. Siswa juga diberi ruang untuk mencari referensi tambahan secara mandiri melalui internet atau AI saat mengalami kebuntuan dalam memahami materi,” jelasnya, Rabu (6/5/2026).
Guru multimedia tersebut mengatakan, integrasi teknologi dengan ilmu agama dan sains menjadi tantangan sekaligus peluang dalam pendidikan. Ia menjelaskan, kesalahan dalam pemanfaatan akan berdampak terhadap skill dan nalar, lebih parah lagi menyebabkan candu terhadap siswa.
“Disini teknologi membuat pembelajaran lebih efisien dan menarik, sekaligus mendorong nalar kritis siswa. Peran guru penting agar siswa tidak bergantung, tetapi mampu memanfaatkan teknologi dengan baik,” ujarnya.
Menurut dia, dengan dukungan fasilitas yang memadai, siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menghasilkan karya. Sejumlah siswa bahkan telah menulis buku ber-ISBN, menghafal Al Quran, hingga menguasai dasar-dasar multimedia seperti sinematografi dan videografi.
“Bahkan mereka sudah bisa membuat karya sendiri tanpa harus terus dipandu. Dan poin terpenting mereka juga lebih patuh dan mudah di arahkan,” katanya.
Dalam praktiknya, tegas dia, pembelajaran dilakukan secara kelompok maupun mandiri dengan pendekatan berbasis teknologi. Materi disampaikan melalui audio visual sehingga siswa lebih mudah memahami konsep secara konkret.
Direktur IBS PKMKK, Achmad Muhlis, menjelaskan pendekatan tersebut merupakan bagian dari transformasi pendidikan berbasis STREAM (Science, Technology, Engineering, Art, dan Mathematics) yang diintegrasikan dengan nilai keagamaan.
Menurut dia, penerapan STEAM di lingkungan pesantren bukan sekadar perubahan metode, tetapi juga pergeseran cara berpikir dalam memandang ilmu dan masa depan santri.
“Teknologi bukan tujuan, tetapi alat untuk memperluas cara belajar dan memperkuat pemahaman,” ujarnya.
Ia menambahkan, tradisi keilmuan di pesantren justru menjadi modal kuat dalam menerima inovasi. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam kesiapan guru dan adaptasi terhadap metode baru.
Karena itu, tambah Muhlis, pelatihan berkelanjutan dan kolaborasi antar pengajar menjadi kunci agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal.
Dengan pendekatan tersebut, Direktur IBS PKMKK yang merupakan Guru Besar Sosiologi Pendidikan IsIam di Universitas Islam Negeri (UIN) Madura menegaskan, bahwa teknologi dalam pendidikan bukanlah ancaman, melainkan sarana untuk menciptakan pembelajaran yang lebih relevan, kreatif, dan kontekstual bagi santri.












