PAMEKASAN, MADURANET – Kebiasaan tidak sehat mulai terendus di Puskesmas Talang, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, setelah adanya pengurangan jasa pelayanan (Japel) bagi karyawan. Pengurangan itu didasarkan kepada kinerja mereka yang selama ini pengawasannya kurang ketat.
Kehadiran Kepala Puskesmas Baru, Khaliliya Syaifiyati mulai memperketat Japel. Karyawan ‘nakal’, tidak disipilin, sering absen, tidak mengerjakan tugas sesuai target, terpaksa dipangkas Japelnya.
Terobosan ini menuai reaksi dari para karyawan. Akibatnya, berhembus isu pemotongan dana kapitasi untuk Japel karyawan. Dinkes Pamekasan bergerak cepat mendalami isu tersebut dengan mengadakan supervisi ke Puskesmas Talang.
Kepala Dinkes Pamekasan, Syaifuddin membantah adanya pemotongan dana kapitasi. Setelah ditelusuri, ternyata adanya pengurangan pendapatan Japel karyawan yang disebabkan pengetatan regulasi berupa Perbup Kabupaten Pamekasan nomor 7 tahun 2020 tentang Pedoman Tekhnis Penyelanggaraan Pola Pengelolaan Badan Layanan Umum Daerah pada UPT Dinas Kesehatan.
“Pemberian Japel itu berdasarkan poin jasa pelayanan, termasuk di dalamnya kedisiplinan, presensi, mengerjakan tugas dengan baik. Jika ada karyawan nakal minta Japel yang sama dengan yang rajin, maka ada hak orang yang rajin yang diambil. Ini tidak adil dan tidak sesuai dengan poin-poin remunerasi yang benar,” ujar Syaifuddin dalam pernyataan pers, Kamis (17/7/2025).
Pengetatan kebijakan inilah yang menyebabkan gejolak di internal Puskesmas Talang. Ada karyawan yang tidak puas sehingga menyebarkan isu negatif.
Kepala Puskesmas Talang, Khaliliya Syaifiyati enggan menyebut siapa sosok karyawan yang telah menghembuskan informasi tersebut. Bahkan nama inisial AH yang disebut-sebut dalam pemberitaan di sejumlah media, tidak ada yang identik dengan nama-nama karyawan Puskesmas.
“Saya tidak mencari tahu siapa staf Puskesmas AH dalam berita itu. Harusnya media jujur menyampaikan, tapi asumsi saya mungkin itu ‘anak haram’, bukan staf Puskesmas”, kata Khaliliya.
Semakin meluasnya informasi pemotongan dana kapitasi itu, tidak membuat Khaliliya kehilangan semangat. Apalagi informasi itu tidak benar. Hal itu hanya menimbulkan aura negatif di lingkungan kerjanya.
“Saya fokus bekerja karena banyak target Puskesmas yang harus diselesaikan. Saya enggan menanggapinya terlalu jauh karena menyebut angkanya saja di berita itu sudah salah. Mungkin itu selentingan yang dibesar-besarkan,” imbuh perempuan yang juga dokter gigi ini.













