PAMEKASAN, MADURANET – Musyawarah Kabupaten (Muskab) Dewan Kesenian Pamekasan (DKP) Tahun 2025 resmi digelar di Pendopo Budaya Pamekasan, Sabtu (15/11/2025). Forum lima tahunan tersebut menjadi ruang evaluasi kinerja pengurus periode 2022–2025 sekaligus memilih ketua umum baru untuk periode 2025–2030.
Kegiatan dihadiri Bupati Pamekasan Kholilurrahman, Wakil Bupati Sukriyanto, Wakil Ketua DPRD Pamekasan, perwakilan Kemenag, serta sejumlah pejabat daerah. Dari 47 delegasi sanggar dan komunitas seni budaya yang diundang, 33 perwakilan hadir untuk mengikuti jalannya musyawarah.
Dalam sambutannya, Bupati Kholilurrahman menekankan pentingnya revitalisasi Dewan Kesenian sebagai lembaga yang mampu menggerakkan ekosistem seni budaya di Pamekasan.
“DKP harus hidup, dan pada saat yang sama menghidupkan kesenian Pamekasan. Kita memiliki kekayaan budaya luar biasa. Jangan sampai warisan ini hilang,” ujarnya.
Muskab menurutnya bukan sekadar agenda pergantian pengurus, tetapi momentum penyatuan visi antar-sanggar, budayawan, dan pegiat seni di kabupaten tersebut.
Selain agenda pemilihan, Muskab menjadi ajang temu lintas komunitas budaya dari 13 kecamatan. Para budayawan, pemerhati seni, dan penggerak komunitas bertemu dalam forum besar yang jarang terselenggara.
Ketua panitia, Arief Wibisono, menyebut kegiatan ini harus mendapat perhatian khusus pemerintah, sejalan dengan tema Muskab, “Rekonstruksi Seni Budaya Menuju Pamekasan Maju.”
Ia menilai tema tersebut sejalan dengan visi pemerintah daerah, mulai dari transformasi sosial produktif, peningkatan pelayanan dasar, hingga penguatan karakter agamis dan berbudaya.
“Kegiatan ini harus dipahami sebagai semangat bersama membangun Pamekasan maju,” ucapnya.
Setelah serangkaian sidang komisi dan laporan pertanggung jawaban pengurus sebelumnya, Muskab memasuki tahap pemilihan ketua umum.
Sebanyak 32 perwakilan sanggar yang mengikuti sidang pemilihan memilih Arief Wibisono secara aklamasi sebagai Ketua DKP periode 2025–2030.
Arief, yang dikenal sebagai pelestari kriya keris dan tokoh aktif seni tradisi, menyatakan kesiapannya mengemban amanah besar tersebut.
“Ini amanah besar. Tantangannya adalah bagaimana menyatukan seluruh elemen seni budaya agar terakomodasi dalam setiap program DKP. Dengan segala keterbatasan, semoga semangat ini tidak redup,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa DKP harus menjadi wadah inklusif bagi seluruh disiplin seni: musik, tari, teater, sastra, seni rupa, hingga kerajinan tradisional.
Dalam pernyataannya, Arief menyinggung kondisi kebudayaan Madura yang mulai tergerus zaman. Ia menekankan pentingnya karya sebagai identitas seniman.
“Kesenian tidak boleh berhenti. Dengan berkarya, keberadaan kita diakui,” katanya.
Menurutnya, DKP memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga pondasi kebudayaan para leluhur dan mengenalkan khazanah Madura ke tingkat regional, nasional, hingga internasional.
“Harapannya, orang luar mau belajar ke Madura, baik bahasa, busana, karakter, hingga nilai-nilai luhur kita. Kebudayaan adalah PR besar, dan kita harus mengukir peradaban yang lebih baik,” ucapnya.
Arief juga menyinggung soal ketidakpastian dukungan pemerintah terhadap DKP pada tahun depan.
“Kondisi dukungan pemerintah masih belum jelas. Tapi kita berharap keterbatasan ini tidak memadamkan semangat,” ujarnya.
Meski demikian, ia optimistis bahwa gerakan seni budaya akan tetap hidup berkat kekuatan komunitas dan para pelaku seni di Pamekasan.













