PAMEKASAN, MADURANET – Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw, tidak hanya seremonial belaka, yang diisi pembacaan salawat dan kisah kelahiran Rasulullah. Momentum tersebut, dinilai perlu menjadi ruang untuk menerapkan nilai akhlak Nabi dalam kehidupan sehari-hari.
Padangan itu dikemukakan oleh Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Madura, Achmad Muhlis. Ia menyampaikan, kecintaan kepada Nabi seharusnya tidak berhenti pada pengetahuan tentang sejarah maupun ekspresi emosional. Menurut dia, kecintaan tersebut harus diwujudkan dalam tindakan dengan menjadikan akhlak Rasulullah sebagai pedoman kehidupan.
“Maulid merupakan momentum untuk melakukan rekonstruksi etika kenabian, yaitu menghadirkan kembali nilai-nilai moral Rasulullah ke dalam struktur kehidupan manusia,” kata Muhlis, Selasa (25/8/2026).
Ia menyoroti tiga perilaku yang menurutnya penting dihidupkan dalam kehidupan sosial, yakni berbuat baik kepada orang yang tidak berbuat baik kepada kita, memaafkan orang yang menzalimi, serta menyambung silaturahmi dengan orang yang memusuhi.
“Ketiga sikap tersebut, mengajarkan manusia berbuat baik bukan karena mengharapkan balasan, tetapi karena kebaikan itu sendiri merupakan nilai moral,” jelasnya.
Menurut Muhlis, sikap itu juga menjadi cara untuk mengendalikan ego dan memutus rantai konflik. Membalas keburukan dengan kebaikan berarti menghentikan reproduksi keburukan, sedangkan memaafkan orang yang menzalimi dapat mencegah dendam berkembang menjadi konflik baru. Sementara menyambung silaturahmi dengan pihak yang bermusuhan membuka ruang bagi dialog dan rekonsiliasi.
Direktur Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK) itu, menilai hali itu dapat diterapkan dalam persoalan sederhana.
“Guru, misalnya, tidak seharusnya mempermalukan peserta didik karena kelemahannya, tetapi mendampinginya,” paparnya sambil tersenyum.
Ia melanjutkan, Begitu pula seseorang yang berselisih dengan tetangga, tidak harus memutus komunikasi, melainkan tetap membuka ruang untuk saling menyapa dan berdamai.
Karena itu, Muhlis menyebut ukuran keberhasilan peringatan Maulid Nabi bukan terletak pada kemeriahan acaranya, melainkan perubahan perilaku setelah peringatan tersebut.
Shalawat, kata dia, semestinya melahirkan kelembutan dalam bertutur, kisah Nabi melahirkan keteladanan, sedangkan kecintaan kepada Rasulullah mendorong seseorang untuk lebih mudah memaafkan dan peduli kepada sesama.
“Maulid Nabi bukan hanya menghidupkan memori tentang Nabi, tetapi menghidupkan nilai kenabian dalam struktur kehidupan sosial,” ujarnya.
Dengan demikian, tegas Muhlis, Maulid Nabi dapat dimaknai sebagai proses mengubah memori menjadi moralitas, kecintaan menjadi keteladanan, dan ritual menjadi tindakan sosial yang nyata.













