PAMEKASAN, MADURANET – Di Mapper, Kecamatan Proppo, Pamekasan, Mohammad Elman, yang lebih akrab disapa Elman Duro, tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Ayahnya meninggal ketika ia berusia delapan bulan. Sejak itu, ia dibesarkan oleh ibunya, seorang petani yang juga bekerja sebagai buruh tani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Elman menjadi anak satu-satunya di keluarga.
Sang ibu tidak menikah lagi. Di tengah kehidupan yang serba terbatas, ia tetap berusaha menyekolahkan anaknya. Elman sempat ingin menjadi petani setelah lulus dari SDN 2 Mapper agar bisa membantu ibunya. Namun, sang ibu mengarahkannya ke Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata. Ia menempuh pendidikan di sana hingga lulus Madrasah Aliyah pada 2006.
Dari ibunya, Elman belajar bahwa bekerja bukan sekadar mencari uang. Ada nilai ibadah dan kejujuran yang harus dijaga, apa pun pekerjaan yang dijalani.
”Pesan itu yang saya pegangan, ketika merantau dan menghadapi pilihan hidup yang tidak mudah,” ucapnya.
Selepas lulus madrasah, ia meninggalkan kampung halaman untuk mencari penghidupan, sekaligus peluang melanjutkan pendidikan. Ia pernah menjadi loper koran, pekerja mebel, pembuat sandal, bahkan pengamen.
”Ya itu lika liku. Awalnya ke Malang untuk mencari orang yang bersedia membiayai kuliah. Setelah sekitar dua bulan tanpa hasil, lalu pindah ke Jember,” sahutnya.
Di Jember, Elman bekerja serabutan. Di kota itu pula ia mengenal pekerjaan pemasangan plafon, dan menjadi buruh di usaha tersebut. Pengalaman itu kelak menjadi bekal ketika ia merintis usaha sendiri. Namun, saat itu, pikirannya masih tertuju pada satu hal, bagaimana bisa kuliah.
Dia sempat berencana mendaftar di Fakultas Hukum Universitas Jember. Namun, kendala yang dihadapinya, membuat ia pulang ke Madura dan melanjutkan pendidikan di STAIN Pamekasan, yang kini menjadi UIN Madura.
”Untuk membayar biaya kuliah awal, saya menanam sekitar 1.500 pohon tembakau, berdua sama ibu,” ungkap Elman.
Hasil penjualan tembakau mencapai Rp 1,4 juta, sedangkan biaya kuliah pada 2008 sebesar Rp 1,1 juta. Sisa uang Rp 300.000 ia gunakan untuk membeli sepeda motor GL100 bekas. Karena motor itu kerap mogok, ibunya menjual kayu jati seharga Rp 2,3 juta untuk membelikannya sepeda motor FIZ-R, agar ia bisa pulang-pergi ke kampus.
Elman menyelesaikan pendidikan sarjana, lalu melanjutkan studi magister di UIN Madura dengan biaya sendiri. Ia aktif berorganisasi, termasuk di Ikatan Mahasiswa Mambaul Ulum Bata-Bata (Imaba) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Pada 2011–2012, ia menjadi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa STAIN Pamekasan. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia menjadi tenaga edukatif di UIN Madura.
Pada Rabu (21/10/2026), Elman menjalani ujian promosi doktor di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan predikat cumlaude. Disertasinya berjudul “Adaptasi dan Integrasi Nilai Sosio-Edukatif dalam Pembelajaran Agama Islam pada Anak Pekerja Migran di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Mambaul Ulum Bata-Bata Madura.”
Di tengah perjalanan akademiknya, Elman tidak meninggalkan dunia kerja yang pernah memberinya penghidupan. Pada 2015, ia merintis usaha interior rumah bernama Potre Anom Plafon. Usaha itu menyediakan pemasangan plafon, rangka atap baja ringan, kanopi, tiang, dan lisplang.
Elman mengatakan, pilihannya menekuni usaha plafon berangkat dari pengalaman merantau dan kondisi pemuda di kampungnya. Ia melihat banyak pemuda belum memiliki pekerjaan, sementara sebagian mempunyai keterampilan di bidang interior setelah pulang dari Jakarta.
“Ketika banyak pemuda menganggur, saya memilih berwirausaha. Kenapa plafon? Karena pemuda punya bakat di bidang interior,” kata Elman, Sabtu (24/10/2026).
Ia kemudian mempekerjakan pemuda di lingkungan tempat tinggalnya. Bagi Elman, usaha itu bukan hanya cara memperoleh pendapatan, tetapi juga kesempatan bagi anak-anak muda untuk bekerja dan menghindari kegiatan negatif, terutama penyalahgunaan narkoba.
Keputusan mempertahankan usaha di tengah kesibukan mengajar juga berkaitan dengan kebutuhan ekonomi keluarga. Elman tidak ingin penghasilan dari mengajar menjadi satu-satunya penopang kehidupan. Ia memandang pekerjaan sebagai pengajar sebagai bentuk pengabdian, sedangkan usaha menjadi sumber utama pendapatan.
“Pekerjaan utama ngajar, tapi penghasilan utama usaha,” ujarnya.
Menurut Elman, kegiatan mengajar tidak semestinya hanya dijadikan ladang mencari nafkah. Ia ingin menjalankan peran sebagai pendidik dengan orientasi pengabdian, tanpa mengabaikan tanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga.
Selain mengajar dan mengelola Potre Anom Plafon, Elman aktif di GP Ansor. Ia pernah menjadi Ketua PAC GP Ansor Proppo dan kini tercatat sebagai pengurus PW Ansor Jawa Timur di bidang pendistribusian kader.
Dari Mapper, Elman menempuh jalan panjang yang dibentuk oleh keterbatasan keluarga, pekerjaan serabutan, dan usaha membiayai pendidikan. Pengalaman menjadi buruh plafon di perantauan tidak berhenti sebagai bagian dari masa lalunya. Ia mengubah pengalaman itu menjadi usaha yang menopang keluarga sekaligus membuka pekerjaan bagi pemuda di kampungnya.













