PAMEKASAN, MADURANET – Aksi unjuk rasa ribuan petani tembakau dan buruh pabrik rokok lokal di depan Kantor Bupati Pamekasan, Selasa (10/2/2026), tak hanya menjadi ruang penyampaian aspirasi. Keramaian massa juga membawa berkah tersendiri bagi pedagang kaki lima (PKL) di sekitar lokasi.
Sejak pagi, deretan penjual es, gorengan, telur gulung, kopi, hingga pentol memenuhi bahu jalan depan kantor pemerintahan itu. Suasana berubah seperti pasar dadakan. Peserta aksi yang datang bergelombang memanfaatkan waktu menunggu orasi dengan membeli makanan dan minuman.
Wahyudi, penjual es, mengaku dagangannya laris manis sejak pagi. Tidak hanya menyampaikan aspirasi, para massa juga sambil melepas dahaga di penjual pinggir jalan.
“Saya dari pagi sampai siang berhasil dapat Rp 500.000. Saya berjualan di sisi utara jalan bagian timur,” kata Wahyudi di sela melayani pembeli.
Ia mengaku sengaja mengganti dagangan hari itu. Biasanya ia berjualan mainan, namun melihat potensi keramaian, ia memilih menjual minuman dingin.
“Kalau sehari-hari saya jual mainan. Tapi lihat banyak orang, langsung jual es. Alhamdulillah, rezeki,” ujarnya.
Ia pun bersyukur aksi yang diikuti ribuan orang itu mendatangkan pembeli lebih banyak dari hari biasa.
“Dengan ribuan orang yang datang, jadi rezeki buat kami. Kalau bisa demo tiap hari,” ucapnya sambil tersenyum.
Hal serupa dirasakan Muhlis, penjual pentol yang mangkal tak jauh dari gerbang kantor bupati. Ia mengaku pendapatannya melonjak tajam.
“Saya dari pagi sudah dapat Rp 1.500.000,” kata Muhlis.
Menurut dia, omzet hariannya biasanya hanya sekitar Rp 1 juta. Namun kali ini, setengah hari saja sudah melampaui pendapatan normal.
“Biasanya satu jutaan sehari. Sekarang setengah hari saja sudah segini. Alhamdulillah,” ujarnya.
Ia bahkan menyampaikan terima kasih kepada para peserta jala, “terima kasih ke para petani dan buruh. Tetap semangat,” katanya.
Pada hari itu, sekitar 6.000 petani tembakau dan buruh pabrik rokok lokal yang tergabung dalam Forum Petani Tembakau dan Buruh Pabrik Lokal Madura (FPBM) memadati depan Kantor Bupati Pamekasan sejak pagi.
Massa datang menggunakan truk bak terbuka dan mobil pribadi dari berbagai desa. Laki-laki dan perempuan, tua hingga muda, memenuhi halaman serta bahu jalan.
Mereka menyuarakan sejumlah tuntutan, di antaranya penertiban LSM tanpa badan hukum, perlindungan industri hasil tembakau rakyat, serta penurunan tarif cukai hasil tembakau (CHT) yang dinilai memberatkan pabrikan kecil dan berdampak pada harga tembakau petani.













