PAMEKASAN, MADURANET — Tekanan ekonomi menjadi faktor paling dominan di balik munculnya kasus gangguan kesehatan jiwa di Kabupaten Pamekasan sepanjang tahun 2025. Dinas Sosial (Dinsos) Pamekasan mencatat, dari 40 warga yang mengalami gangguan jiwa, mayoritas berada pada usia produktif dan berasal dari kalangan laki-laki.
Kepala Dinsos Pamekasan Herman Hidayat Santoso mengatakan, 30 dari 40 Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang terdata merupakan laki-laki, sementara 10 lainnya perempuan, dengan rentang usia 30 hingga 60 tahun.
“Bahkan di data kami, ada yang kelahiran 1996 dan kelahiran 2002, usia masih dibilang muda,” kata Herman, Senin (15/12/2025).
Ia menjelaskan, hasil asesmen menunjukkan gangguan jiwa dipicu oleh berbagai faktor, seperti pengangguran, konflik rumah tangga, hingga persoalan ekonomi. Namun, tekanan ekonomi masih menjadi penyebab paling banyak ditemukan di lapangan.
“Tekanan ekonomi menjadi faktor yang paling dominan memicu gangguan kesehatan jiwa,” ujarnya.
Petugas pendamping sosial Dinsos Pamekasan, Amir, menambahkan bahwa sejumlah kasus berawal dari konflik keluarga akibat pernikahan dini. Ketidaksiapan secara ekonomi dan emosional sering kali memicu pertengkaran berkepanjangan yang berdampak pada kondisi psikologis.
“Konflik rumah tangga yang tidak terselesaikan sering berujung pada penurunan kondisi ekonomi, lalu memicu depresi hingga gangguan jiwa,” jelas Amir.
Untuk penanganan, seluruh ODGJ tersebut telah dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur Surabaya dan RSJ Lawang guna mendapatkan perawatan intensif. Sebagian pasien sudah selesai menjalani perawatan dan dipulangkan, sementara lainnya masih dalam proses penanganan medis.
Meski begitu, Amir menegaskan bahwa peran keluarga tetap menjadi kunci utama dalam proses pemulihan pasien.
“Selain perawatan medis dari rumah sakit, dukungan dan pendampingan keluarga sangat menentukan kesembuhan pasien,” pungkasnya.













