PAMEKASAN, MADURANET – Perpaduan budaya Madura, Arab, dan China, melebur di malam perayaan Hari Jadi ke-496 Kabupaten Pamekasan, menjadi simbol keberagaman dalam memperkuat persaudaraan masyarakat.
Agenda yang mementaskan musik Daul dan tari tradisional Pamekasan hingga barongsai, tontonan khas China tersebut, berhasil menyita waktu ribuan masyarakat yang memadati kawasan Monumen Arek Lancor, Senin (2/11/2026) malam.
Tidak hanya itu, perpaduan dari tiga budaya tersebut juga tersaji pada menu makanan khas masing-masing sebanyak 6.000 porsi.
Turut memeriahkan moment tersebut, Founder Bani Insan Peduli (Bashra BIP), Ali Zainal Abidin, mengatakan, keberagaman budaya yang ditampilkan dalam acara Malam Kemilau Madura, mencerminkan semangat kebersamaan yang perlu terus dijaga.
“Penggabungan tradisi Madura, Arab, dan China malam ini, dinyatakan dengan ukhuwah Islamiyah untuk mempererat persaudaraan kita,” kata Ali dalam sambutannya.
Dia juga mengingatkan masyarakat agar menjaga persatuan, sebagaimana pesan Al-Qur’an dalam Surah Ali Imran ayat 103, yakni berpegang teguh pada tali Allah, dan tidak bercerai-berai. Menurut dia, perbedaan latar belakang tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun kebersamaan.
Ali turut mengajak seluruh elemen masyarakat, mengedepankan semangat fastabiqul khairat, atau berlomba-lomba dalam kebaikan. Dia juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Pamekasan Kholilurrahman atas penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan masyarakat tersebut.
”Saya sampaikan apresiasi pada Bupati Pamekasan, selamat hari Jadi Kabupaten Pamekasan ke 496,” ucap Ali.
Sejalan dengan pesan itu, Bupati Kholilurrahman dalam kesempatan yang sama, menekankan pentingnya menjaga keberagaman, sekaligus merawat identitas budaya Pamekasan.
Dia juga mengajak masyarakat menjadikan capaian daerah sebagai hasil kerja bersama, bukan keberhasilan pemerintah semata.
”Kontribusi warga sebagai lilin-lilin kecil yang menerangi desa, dan ikut mendorong kemajuan daerah,” tegasnya.
Tidak lupa, Kholilurrahman juga mengingatkan pentingnya pelestarian bahasa dan budaya Madura. Dia meminta penggunaan bahasa daerah dibiasakan kembali, termasuk melalui rencana satu hari khusus berbahasa Madura di lingkungan pemerintahan, serta penguatan pendidikan budaya lokal sejak dini.













