PAMEKASAN, MADURANET – Penutupan aktivitas warung nasi Barokah, milik Syaiful Bahri, di Jalan Raya Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) Surabaya, pada Rabu (21/10/2026) menyisakan persoalan bagi Syaiful Bahri.
Sebab sejak warung nasi itu ditutup dengan menggunakan seng setinggi 2 meter, karena dianggap berdiri di lahan sengketa milik PT KAI, namun sampai saat ini Syaiful Bahri, belum mendapatkan berita acara penutupan warung, sehingga Syaiful menilai penutupan warungnya dinilai ilegal.
Ketua DPD Rumah Juang Prabowo (Rampas) Pamekasan, H Abd Gafur, selaku pendamping kuasa Syaiful Bahri mengatakan, ketika warung nasi itu ditutup paksa, pihaknya saat itu meminta surat penutupan berupa berita acara. Namun kala itu, Bima perwakilan PT KAI tidak membawa dan berjanji akan diberikan pada esok harinya, Kamis (22/10/2026). Alasannya berita acara masih belum dibuat.
Kemudian karena hingga H+3 penutupan, berita acara belum dikirim, sehingga Abd Gafur kirim pesan via WA, kepada Surya, menanyakan tentang kapan berita acara itu diberikan. Karena pada saat penutupan warung, Surya dari PT KAI Daop 8, juga ikut di dalam proses eksekusi itu. Tetapi hingga 2 kali kirim via WA, sampai saat ini tidak ada tanggapan.
“Kalau seperti ini, kami dibohongi oleh PT KAI. Sekarang sudah menginjak hari ke-10, namun belum ada tanda-tanda KAI akan buat berita acara penutupan warung milik Syaiful. Agar tidak main-main, kami akan kirim surat ke Bapak Kapolri, Direktur PT KAI, Kapolda Jatim dan Dirjen Perhubungan,” ujar Gafur, kepada Maduranet.com, Jumat (30/10/2026).
Sementara karena warung nasinya ditutup sampai batas waktu yang tidak ditentukan, Syaiful terpaksa mendirikan warung terbuka, berjarak sekitar 50 meter ke utara, dari lokasi warung yang lama. Dan warung ini, beratap plastik. Untuk tempat duduk pembeli, hanya disediakan satu kursi kayu memanjang.
Demi keamanan perabotannya, saat warung tutup, semua peralatan masak, termasuk piring dan gelas dibawa pulang. Sebagian besar pelanggannya, meminta pesanan dibungkus untuk dibawa pulang.
“Pelanggan kami kesulitan makan di tempat sehingga minta dibungkus karena susah tempat duduknya,” tegasnya.













