PAMEKASAN,MADURANET – Menjelang waktu sahur, tikar-tikar digelar di emperan kantor PT Pegadaian Cabang Pamekasan. Di sana, puluhan ibu-ibu duduk berkelompok sambil menunggu imsak, Sabtu (7/3/2026).
Ada yang membawa nasi bungkus, ada pula yang hanya memegang air mineral. Tempat ini bukan rumah mereka. Namun selama tiga hari terakhir, di situlah mereka bertahan.
Sebanyak 47 emak-emak korban dugaan investasi emas bodong menduduki kantor Pegadaian sejak Kamis (5/3/2026). Pada hari kedua, sebagian dari mereka bahkan berbuka puasa di depan kantor.
Di antara mereka ada Rizkiana yang akrab disapa Ana. Ia masih mengingat betul bagaimana semuanya bermula.
Menurut Ana, perempuan bernama H., yang diduga menjadi pelaku penipuan, awalnya dikenal sebagai sosok yang sangat dipercaya warga di Kecamatan Palengaan.
“Dia dikenal dermawan dan royal. Kalau ada kegiatan, sering membantu. Orang-orang jadi cepat percaya,” kata Ana saat ditemui di lokasi.
Kepercayaan itu semakin kuat karena H. memiliki toko pakaian di Palengaan. Dari toko itulah ia sering berinteraksi dengan para ibu rumah tangga yang datang berbelanja.
Hubungan yang awalnya sekadar pelanggan dan pemilik toko perlahan berubah menjadi kedekatan.
“Kalau sudah akrab, baru dia mulai menawarkan investasi emas,” ujar Ana.
Modusnya beragam. Kepada sebagian orang, H. mengaku membutuhkan emas untuk mengejar target kerja di Pegadaian. Kepada yang lain, ia mengatakan sedang mengalami kekurangan atau minus dalam pekerjaannya.
Tak jarang ia meminta korban meminjamkan emas mereka untuk sementara waktu.
“Katanya cuma sebentar, nanti dikembalikan lagi. Karena sudah percaya, banyak yang akhirnya menyerahkan emas,” kata Ana.
Status H. sebagai guru juga membuat warga semakin yakin.
“Dia dikenal guru, jadi orang makin percaya,” ungkapnya.
Namun kepercayaan itu akhirnya berujung pada kerugian besar bagi puluhan perempuan. Sumiati, salah satu korban lain, duduk tak jauh dari Ana. Ia mengaku mengalami kerugian hingga sekitar Rp 1 miliar.
Bagi Sumiati, kerugian itu bukan hanya soal uang. Tapi juga soal rasa percaya yang berubah menjadi tekanan.
“Semua itu karena saya percaya sama dia,” katanya.
Ia bercerita bahwa emas yang diserahkan kepada H. tidak semuanya miliknya sendiri. Sebagian adalah titipan dari beberapa orang yang ia kumpulkan.
“Itu bertahap. Ada milik saya, ada milik orang lain yang saya kumpulkan,” ujarnya.
Masalah semakin berat ketika emas tersebut digadaikan atas namanya. Saat jatuh tempo, pihak Pegadaian mendesak agar ia segera menebus.
Jika tidak, emas tersebut terancam dilelang dan bunga pinjaman terus bertambah.
“Saya waktu itu benar-benar tertekan,” kata Sumiati.
Agar emas tidak dilelang, ia mengambil keputusan besar, menjual sawah miliknya.
“Saya jual tanah untuk menebus emas itu. Selain itu juga pinjam uang dari orang-orang,” tuturnya dengan suara pelan.
Kini, setelah semuanya terjadi, Sumiati hanya berharap hartanya kembali.
Selama tiga hari terakhir, ia menjadi salah satu yang paling sering terlihat di depan kantor Pegadaian. Pada hari pertama aksi, ia pulang setelah berbuka puasa. Namun pada hari kedua, ia memutuskan bertahan.
“Kami dengar kantornya buka sampai malam. Jadi kami menginap di sini,” katanya.
Koordinator korban, Mansur F, mengatakan pihaknya sebenarnya telah menerima informasi bahwa perwakilan Pegadaian wilayah Jawa Timur akan menemui mereka pada Rabu (11/3/2026).
Namun para korban berharap pertemuan itu bisa dipercepat.
“Kami ingin dipercepat, tapi sampai sekarang belum ada kepastian,” ujar Mansur.
Bagi mereka, ucap Mansur, menunggu di emperan kantor itu mungkin melelahkan. Namun pulang tanpa kejelasan, terasa jauh lebih menyakitkan.













