• Terkini
  • Trending
  • Semua
Demokrasi Efisiensi

Demokrasi Efisiensi

5 bulan lalu
Jualan Sabu di Warung Warga Sampang Diciduk Satresnarkoba Pamekasan

Jualan Sabu di Warung Warga Sampang Diciduk Satresnarkoba Pamekasan

11 jam lalu

Kompak bersama DPRD Predikat WTP ke-12 Dipertahankan Pemkab Pamekasan

19 jam lalu

Pemkab Pamekasan Bantu 250 Drum Aspal untuk Jalan Swadaya

2 hari lalu

Empat Lokasi Masuk Kandidat Lahan Sekolah Rakyat Pamekasan

2 hari lalu

Bupati Desak Disdikbud Pamekasan Gerak Cepat

3 hari lalu

BLT DBHCHT 2026 Pamekasan Hanya untuk Buruh Pabrik Rokok

4 hari lalu

Polres Pamekasan Jaring 16 Motor Modifikasi Drag di Malam Takbiran 

4 hari lalu

MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning Resmi Berdiri, Usung Konsep Madrasah Ramah Anak 

4 hari lalu

Tergiur Umrah Murah Rp 18,5 Juta, Belasan Calon Jemaah di Pamekasan Gagal Berangkat 

4 hari lalu

Pengusaha Rokok Madura Tolak SKM Layer 3 Berlaku Nasional, Bupati Siapkan Tim Perumus ke Jakarta

5 hari lalu

Bupati Pamekasan Raih Penghargaan Nasional dari Kemendikdasmen

5 hari lalu

Pamekasan Dapat Jatah 20 Revitalisasi Sekolah dari Kemendikdasmen

6 hari lalu
  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Periklanan
  • Login
  • Register
Minggu, Mei 31, 2026
Maduranet.com
  • Home
  • Politik
  • Bola
  • Khazanah
  • Gaya
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
Maduranet.com
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Bola
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Budaya
  • Agama
  • Olahraga
  • Daras
  • Gaya
  • Plesir
  • Kulinari
  • Editorial
Home Daras

Demokrasi Efisiensi

Pilkada langsung bukan sekadar suara rakyat tetapi edukasi politik bagi anak-anak muda dan penggerak ekonomi masyarakat

oleh Taufiqur Rahman
12 Januari 2026
in Daras
11 0
0
Demokrasi Efisiensi
0
SHARES
111
VIEWS

MADURANET – Wacana pengembalian pemilihan kepala daerah melalui DPRD kembali mengemuka. Alasannya terdengar sederhana dan masuk akal: Pilkada langsung dianggap mahal, melelahkan, dan kerap memicu konflik. Negara, kata para pendukungnya, butuh efisiensi. Namun, di titik inilah publik patut bertanya lebih dalam: efisiensi untuk siapa, dan dengan harga apa?

Selama lebih dari dua dekade terakhir, pilkada langsung bukan sekadar prosedur elektoral. Ia telah menjelma menjadi simbol keterlibatan rakyat dalam menentukan arah daerahnya sendiri. Karena itu, tak mengherankan jika berbagai survei menunjukkan mayoritas masyarakat menolak gagasan pilkada melalui DPRD. Penolakan ini datang dari lintas generasi dan lintas pilihan politik, menandakan bahwa pilkada langsung telah menjadi nilai bersama, bukan agenda kelompok tertentu.

Belajar dari perjalanan Pilkada, Indonesia memilih jalan yang tidak mudah: menyerahkan pemilihan kepala daerah langsung kepada rakyat. Pilihan ini memang tidak sempurna. Politik uang, konflik horizontal, dan polarisasi kerap muncul. Namun, dari proses itulah masyarakat belajar.

Di banyak daerah, Pilkada langsung menjadi ruang pendidikan politik yang nyata. Warga belajar membandingkan program, menilai rekam jejak, bahkan berani menggugat pemimpinnya. Demokrasi tidak lagi berhenti di bilik suara lima tahunan, tetapi hidup dalam percakapan warung kopi, ruang kelas, dan media sosial.

Menghapus Pilkada langsung berarti menghapus ruang belajar kolektif itu. Demokrasi kemudian berisiko direduksi menjadi urusan elite, rapi secara prosedural, tetapi hampa secara partisipatif.

Efisiensi yang menyisakan pertanyaan, karena argumen penghematan anggaran memang menggoda. Namun, demokrasi tidak pernah dirancang untuk menjadi murah. Ia dirancang agar sah dan dipercaya. Ketika pemimpin lahir dari pilihan rakyat, legitimasi sosial terbentuk dengan sendirinya.

Sebaliknya, jika kepala daerah dipilih melalui DPRD, legitimasi itu menjadi rapuh. Secara hukum mungkin sah, tetapi secara sosiologis mudah dipertanyakan. Apalagi, publik masih menyimpan trauma masa lalu ketika politik transaksional di parlemen daerah kerap menjadi cerita utama.

Tak hanya itu, Pilkada langsung juga menggerakkan ekonomi lokal. Dari pekerja informal, percetakan, hingga UMKM, banyak sektor hidup dari denyut demokrasi elektoral. Ketika Pilkada dipangkas, yang hilang bukan hanya suara rakyat, tetapi juga mata pencaharian sebagian warga.

Jika pilkada langsung benar-benar ditinggalkan, dampaknya mungkin tidak terasa seketika. Namun, di masa depan, risikonya bisa serius.

Pertama, masyarakat bisa mengalami kelelahan demokrasi. Ketika suara tidak lagi menentukan, partisipasi perlahan berubah menjadi apatisme.

Kedua, pendidikan politik generasi muda akan semakin elitis. Demokrasi hanya dipelajari di buku, bukan dialami secara nyata.

Ketiga, budaya politik berpotensi kembali ke pola lama: negosiasi tertutup, kompromi elite, dan jarak yang lebar antara penguasa dan warga.

Lebih jauh, perubahan ini dapat menjadi pintu masuk bagi sentralisasi kekuasaan secara halus. Otonomi daerah tetap ada di atas kertas, tetapi ruhnya perlahan memudar.

Demokrasi bukan sekadar kalkulasi. Demokrasi memang mahal. Ia melelahkan. Kadang berisik. Namun, justru di situlah nilainya. Demokrasi adalah investasi jangka panjang, bukan proyek efisiensi jangka pendek.

Dua puluh tahun lalu, Indonesia memilih mempercayai rakyatnya. Dua puluh tahun ke depan, pilihan itu seharusnya diperdalam, bukan dipersingkat. Jika ada masalah dalam pilkada langsung, jawabannya adalah perbaikan tata kelola, bukan penarikan hak rakyat.

Karena pada akhirnya, negara yang kuat bukanlah negara yang paling efisien memangkas demokrasi, melainkan negara yang berani merawatnya, meski dengan segala kerumitannya.

______________

*( Syaiful Bahri, Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Tinggi Universitas Negeri Jakarta

Tags: DemokrasiDPRDEkonomi KerakyatanPemiluPendidikan PolitikPilkada
ShareTweetSendShareShare

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Berhenti berlangganan
Taufiqur Rahman

Taufiqur Rahman

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Maduranet.com

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Navigate Site

  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
    • Pemerintahan
    • Parlementaria
  • Peristiwa
    • Hukum
    • Kriminal
    • Ekonomi
    • Agama
    • Kesehatan
  • Olahraga
    • Bola
  • Plesir
    • Budaya
    • Gaya
    • Kulinari
  • Daras
  • Editorial

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
Go to mobile version