• Terkini
  • Trending
  • Semua
Demokrasi Efisiensi

Demokrasi Efisiensi

9 bulan lalu

Job Fair Pamekasan Buka Ribuan Lowongan Kerja, Digelar 28-30 Oktober

20 jam lalu

Warga Pegantenan Rasakan Manfaat Program Paduka, Urus KTP Tak Perlu ke Kota

21 jam lalu

Dua Kali Rencana Demo di Polres Pamekasan Batal

23 jam lalu

Bupati Pamekasan dan Haji Her Minta Semua Pihak Menahan Diri soal Perusakan Indomaret

2 hari lalu

74 Koperasi Merah Putih di Pamekasan Siap Beroperasi, 8 Titik Terkendala Lahan

3 hari lalu

Haji Her Tawarkan Diri Carikan Solusi Kasus Perusakan Indomaret di Palengaan

3 hari lalu

Pemkab Pamekasan Perluas Layanan Kependudukan, Warga Pegantenan Tak Perlu Lagi ke Kota

3 hari lalu

Bupati Pamekasan Tinjau Jembatan Swadaya, Dorong Peningkatan Status Jalan Desa

3 hari lalu

Pemkab Pamekasan Sebut TMMD Percepat Pembangunan Desa

4 hari lalu

Dinsos Pamekasan Optimalkan Pemutakhiran Data Bansos Lewat Desa dan Partisipasi Mandiri

4 hari lalu

TMMD ke-130 di Pamekasan Sasar Pembangunan Jalan hingga Bedah 10 Rumah Warga

4 hari lalu

DPO Kasus Dugaan Investasi Bodong di Pamekasan Ditangkap di Bojonegoro

5 hari lalu
  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Periklanan
  • Login
  • Register
Sabtu, Oktober 17, 2026
Maduranet.com
  • Home
  • Politik
  • Bola
  • Khazanah
  • Gaya
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
Maduranet.com
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Bola
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Budaya
  • Agama
  • Olahraga
  • Daras
  • Gaya
  • Plesir
  • Kulinari
  • Editorial
Home Daras

Demokrasi Efisiensi

Pilkada langsung bukan sekadar suara rakyat tetapi edukasi politik bagi anak-anak muda dan penggerak ekonomi masyarakat

oleh Taufiqur Rahman
12 Januari 2026
in Daras
11 0
0
Demokrasi Efisiensi
0
SHARES
111
VIEWS

MADURANET – Wacana pengembalian pemilihan kepala daerah melalui DPRD kembali mengemuka. Alasannya terdengar sederhana dan masuk akal: Pilkada langsung dianggap mahal, melelahkan, dan kerap memicu konflik. Negara, kata para pendukungnya, butuh efisiensi. Namun, di titik inilah publik patut bertanya lebih dalam: efisiensi untuk siapa, dan dengan harga apa?

Selama lebih dari dua dekade terakhir, pilkada langsung bukan sekadar prosedur elektoral. Ia telah menjelma menjadi simbol keterlibatan rakyat dalam menentukan arah daerahnya sendiri. Karena itu, tak mengherankan jika berbagai survei menunjukkan mayoritas masyarakat menolak gagasan pilkada melalui DPRD. Penolakan ini datang dari lintas generasi dan lintas pilihan politik, menandakan bahwa pilkada langsung telah menjadi nilai bersama, bukan agenda kelompok tertentu.

Belajar dari perjalanan Pilkada, Indonesia memilih jalan yang tidak mudah: menyerahkan pemilihan kepala daerah langsung kepada rakyat. Pilihan ini memang tidak sempurna. Politik uang, konflik horizontal, dan polarisasi kerap muncul. Namun, dari proses itulah masyarakat belajar.

Di banyak daerah, Pilkada langsung menjadi ruang pendidikan politik yang nyata. Warga belajar membandingkan program, menilai rekam jejak, bahkan berani menggugat pemimpinnya. Demokrasi tidak lagi berhenti di bilik suara lima tahunan, tetapi hidup dalam percakapan warung kopi, ruang kelas, dan media sosial.

Menghapus Pilkada langsung berarti menghapus ruang belajar kolektif itu. Demokrasi kemudian berisiko direduksi menjadi urusan elite, rapi secara prosedural, tetapi hampa secara partisipatif.

Efisiensi yang menyisakan pertanyaan, karena argumen penghematan anggaran memang menggoda. Namun, demokrasi tidak pernah dirancang untuk menjadi murah. Ia dirancang agar sah dan dipercaya. Ketika pemimpin lahir dari pilihan rakyat, legitimasi sosial terbentuk dengan sendirinya.

Sebaliknya, jika kepala daerah dipilih melalui DPRD, legitimasi itu menjadi rapuh. Secara hukum mungkin sah, tetapi secara sosiologis mudah dipertanyakan. Apalagi, publik masih menyimpan trauma masa lalu ketika politik transaksional di parlemen daerah kerap menjadi cerita utama.

Tak hanya itu, Pilkada langsung juga menggerakkan ekonomi lokal. Dari pekerja informal, percetakan, hingga UMKM, banyak sektor hidup dari denyut demokrasi elektoral. Ketika Pilkada dipangkas, yang hilang bukan hanya suara rakyat, tetapi juga mata pencaharian sebagian warga.

Jika pilkada langsung benar-benar ditinggalkan, dampaknya mungkin tidak terasa seketika. Namun, di masa depan, risikonya bisa serius.

Pertama, masyarakat bisa mengalami kelelahan demokrasi. Ketika suara tidak lagi menentukan, partisipasi perlahan berubah menjadi apatisme.

Kedua, pendidikan politik generasi muda akan semakin elitis. Demokrasi hanya dipelajari di buku, bukan dialami secara nyata.

Ketiga, budaya politik berpotensi kembali ke pola lama: negosiasi tertutup, kompromi elite, dan jarak yang lebar antara penguasa dan warga.

Lebih jauh, perubahan ini dapat menjadi pintu masuk bagi sentralisasi kekuasaan secara halus. Otonomi daerah tetap ada di atas kertas, tetapi ruhnya perlahan memudar.

Demokrasi bukan sekadar kalkulasi. Demokrasi memang mahal. Ia melelahkan. Kadang berisik. Namun, justru di situlah nilainya. Demokrasi adalah investasi jangka panjang, bukan proyek efisiensi jangka pendek.

Dua puluh tahun lalu, Indonesia memilih mempercayai rakyatnya. Dua puluh tahun ke depan, pilihan itu seharusnya diperdalam, bukan dipersingkat. Jika ada masalah dalam pilkada langsung, jawabannya adalah perbaikan tata kelola, bukan penarikan hak rakyat.

Karena pada akhirnya, negara yang kuat bukanlah negara yang paling efisien memangkas demokrasi, melainkan negara yang berani merawatnya, meski dengan segala kerumitannya.

______________

*( Syaiful Bahri, Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Tinggi Universitas Negeri Jakarta

Tags: DemokrasiDPRDEkonomi KerakyatanPemiluPendidikan PolitikPilkada
ShareTweetSendShareShare

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Berhenti berlangganan
Taufiqur Rahman

Taufiqur Rahman

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Maduranet.com

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Navigate Site

  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
    • Pemerintahan
    • Parlementaria
  • Peristiwa
    • Hukum
    • Kriminal
    • Ekonomi
    • Agama
    • Kesehatan
  • Olahraga
    • Bola
  • Plesir
    • Budaya
    • Gaya
    • Kulinari
  • Daras
  • Editorial

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
Go to mobile version