PAMEKASAN, MADURANET – Dua monumen ikonik di Kabupaten Pamekasan, yakni Tugu Garuda dan Arek Lancor, bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda.
Fakta sejarah tersebut terekam dalam naskah yang kini tersimpan di Museum Umum Mandilaras, Jalan Cokroaminoto No. 01 Pamekasan, tak jauh dari kawasan Monumen Arek Lancor.
Naskah tersebut mencatat, Tugu Garuda didirikan sebagai penanda kuburan massal pejuang Hizbullah dan Sabilillah yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda pada 16 Agustus 1945 di depan Masjid Agung Assyuhada.
Dijelaskan juga, jenazah para pejuang yang gugur tidak dimakamkan secara layak, melainkan dibuang ke satu lubang, dituangi bensin, lalu dibakar oleh Belanda. Hingga kini, lokasi tersebut ditandai dengan Monumen Tugu Garuda sebagai pengingat atas pengorbanan para syuhada.
Tercatat, dalam pertempuran tersebut juga menewaskan 65 orang dari kubu Belanda dan 85 pejuang Hizbullah serta Sabilillah.
Sementara itu di naskah lain dijelaskan, Monumen Arek Lancor dibangun untuk mengenang pertempuran besar yang terjadi pada 15 Juli 1947, ketika rakyat Pamekasan bahu-membahu melawan serangan Belanda.
Dijelaskan dalam naskah yang berbeda di museum Mandilaras, pertempuran sengit tersebut berlangsung selama 5 jam, melibatkan dua kelompok besar:
1. Pasukan Resmi Pemerintah, terdiri dari Tentara Nasional Indonesia (TNI/TKR) dan Polisi Negara.
2. Pasukan Sukarela, yakni Hizbullah, Sabilillah, Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPR), Pemuda Sosialis Indonesia (PESINDO), Ikatan Pemuda Indonesia (IPI), dan Palang Merah Indonesia (PMI).
Untuk mengenang perjuangan rakyat Pamekasan, monumen tersebut dibangun oleh Bupati H. Adiatoellah pada tahun 1985, dan kini menjadi salah satu maskot kebanggaan daerah.
Zainuddin, penjaga Museum Umum Mandilaras yang sudah bertugas sejak 2016, mengungkapkan bahwa museum tersebut menyimpan 499 peninggalan bersejarah, mulai dari keris, tombak, kitab kuno, hingga perabotan peninggalan masa lampau.
Beberapa koleksi lain di antaranya, batik tulis sepanjang 1.530 meter yang dibuat pada pemerintahan Kholilurrahman periode pertama. Batik tulis itu kemudian meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai batik terpanjang. Panjang batik tulis 1.530 merupakan makna dari lahirnya Kabupaten Pamekasan. Batik tersebut dikerjakan oleh 600 pebatik dari berbagai daerah di Pamekasan.
“Pengunjung kebanyakan dari kalangan pelajar. Masuk ke museum ini juga gratis, tidak dipungut biaya, sehingga sangat terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar sejarah,” jelasnya, Rabu (20/8/2025).













