PAMEKASAN, MADURANET – Juara Duta Daerah Kacong-Cebbing dan Putra-Putri Batik Pamekasan 2026 telah ditetapkan panitia pada malam grand final di Lapangan Negara Bhakti Pendopo Ronggosukowati, Sabtu (11/7/2026). Empat wajah baru akan merepresentasikan generasi muda Kabupaten Pamekasan.
Mereka yaitu; Barielwis Habiburrohman sebagai Kacong Pamekasan 2026, dan Sitti Zahratus Sieta, sebagai Cebbing Pamekasan 2026. Mohammad Alfian Zainal Arif, sebagai Putra Batik Pamekasan 2026, dan Rihadatul Aisyi Ali, sebagai Putri Batik Pamekasan 2026.
Keempatnya, datang dari latar belakang yang berbeda. Ada mahasiswa psikologi, pelajar, hingga lulusan sekolah kejuruan, yang kini menekuni dunia model. Namun, mereka memiliki tujuan yang sama, yakni mengenalkan potensi wisata, budaya, dan batik Pamekasan, kepada masyarakat luas.

Kacong Barielwis Habiburrohman, pemuda 19 tahun asal Kelurahan Jungcangcang. Saat ini, ia menempuh pendidikan di Program Studi Psikologi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Bangkalan. Anak bungsu dari empat bersaudara itu, mengaku tumbuh di keluarga sederhana, dengan ayah seorang guru sekolah dasar dan ibu rumah tangga.
Barielwis, juga aktif sebagai Duta Kampus Universitas Trunojoyo Madura, Wakil I Putra Kampus, serta menjadi konselor sebaya, di komunitas Tigaruangan. Ia juga kerap dipercaya menjadi pembawa acara, pada berbagai kegiatan daerah maupun kampus.
Perjalanan menuju gelar Kacong Pamekasan, tidak diraihnya dengan mudah. Pada 2024, ia gagal lolos sebagai finalis. Dua tahun kemudian, ia kembali mencoba dan akhirnya berhasil menjadi juara.
“Saya sempat berpikir untuk tidak ikut lagi. Tetapi, saya meyakinkan diri bahwa keberhasilan datang kepada mereka yang terus mencoba,” katanya, kepada Maduranet, Ahad (12/7/2026).
Ke depan, Barielwis ingin menjalankan program bertajuk Tresna (cinta) Pamekasan, yang menyasar pelajar. Program itu, bertujuan untuk menumbuhkan rasa bangga generasi muda terhadap daerahnya.
“Potensi Pamekasan sangat besar. Saya ingin mengajak anak-anak muda, lebih tresna dan bangga terhadap tempat mereka dilahirkan,” ujarnya.
Sementara itu, Cebbing Pamekasan 2026, Sitti Zahratus Sieta, meruapakan siswi kelas XII SMAN 1 Pamekasan asal Desa Ponteh, Kecamatan Galis.
Bagi Sieta, ajang tersebut merupakan pengalaman pertamanya di dunia model. Ia mengaku sempat minder melihat kemampuan finalis lain. Namun memilih fokus meningkatkan kualitas dirinya.
“Saya lebih memilih memperbaiki diri setiap hari, daripada membandingkan diri dengan orang lain,” katanya.
Di sekolah, Sieta aktif sebagai pembawa acara, aktif di organisasi, serta menghasilkan berbagai karya jurnalistik. Ia juga menorehkan prestasi di bidang olimpiade IPS, esai, debat, karya tulis ilmiah, hingga jurnalistik Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N).
Menurutnya, gelar Cebbing bukan sekadar penghargaan, melainkan amanah untuk menjadi perempuan muda yang mampu menginspirasi sekaligus melestarikan budaya daerah.
“Saya ingin membuktikan bahwa perempuan muda Pamekasan, mampu berprestasi, percaya diri, dan tetap menjunjung budaya lokal,” ujarnya.

Putra Batik Pamekasan, Mohammad Alfian Zainal Arif, merupakan pelajar kelas XI SMAN 1 Pamekasan. Ia kini sudah memasuki usia 16 tahun.
Putra tunggal dari seorang kepala sekolah dasar ini mengaku, semula tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai batik Pamekasan. Namun, sejak lolos sebagai finalis, ia mulai mendalami filosofi, sejarah, dan motif batik, hingga akhirnya berhasil menjadi juara.
“Saya banyak belajar tentang batik selama mengikuti proses seleksi. Justru setelah menjadi finalis, rasa cinta saya terhadap batik, semakin tumbuh,” katanya.
Di luar aktivitas sebagai pelajar, Alfian aktif di cabang olahraga bola voli dan pernah meraih Juara I Kacabdin Cup Pamekasan.
Ia ingin mendorong lahirnya regenerasi perajin batik, serta membiasakan masyarakat mengenakan batik dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun gelar Putri Batik Pamekasan 2026, Rihadatul Aisyi Ali, merupakan lulusan SMKN 3 Pamekasan asal Kelurahan Bugih.
Perempuan 18 tahun ini, bekerja sebagai penjahit sesuai bidang keahliannya di dunia desain busana. Di sela-sela aktivitasnya, ia terus mengembangkan kemampuan public speaking, personal branding, serta seni.
Bagi Aisyi, batik bukan sekadar kain, melainkan identitas masyarakat Madura yang menyimpan nilai, sejarah dan filosofi.
“Batik Pamekasan adalah identitas daerah. Lewat batik, orang bisa mengenal Pamekasan, bahkan sebelum datang langsung ke sini,” katanya.
Ia ingin mengajak generasi muda menjadikan batik sebagai bagian dari life style, bukan hanya dikenakan saat acara resmi saja.
“Anak muda jangan malu berbatik. Batik bisa dipadukan dengan gaya berpakaian masa kini, tanpa menghilangkan nilai budayanya,” ujarnya.
Keempat duta tersebut, akan mengemban tugas sebagai mitra Pemerintah Kabupaten Pamekasan, dalam mempromosikan riwisata, budaya, dan ekonomi kreatif, sekaligus menjadi wajah generasi muda yang diharapkan mampu membawa nama Pamekasan semakin dikenal di tingkat regional maupun nasional.













