PAMEKASAN,MADURANET — Pemerintah Kabupaten Pamekasan menggelar Apel Trantibum dan Kesiapsiagaan Mengantisipasi Terjadinya Bencana Hidrometeorologi Tahun 2025 di Monumen Arek Lancor Selasa (11/11/2025).
Dalam kesempatan ini, Bupati Pamekasan, Kholilurrahman, menegaskan pentingnya kesiapsiagaan seluruh unsur pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana serta gangguan ketertiban umum.
Acara tersebut turut dihadiri jajaran Forkopimda, Sekretaris Daerah, pimpinan OPD, organisasi kepemudaan, serta para relawan. Dalam sambutannya, bupati mengapresiasi seluruh pihak yang selama ini telah bersinergi secara cepat dan akurat dalam penanganan bencana melalui berbagai saluran koordinasi.
Bupati menyampaikan bahwa Pamekasan memiliki potensi bencana yang beragam, mulai dari banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, gelombang pasang dan abrasi, bahkan tsunami.
Ia juga memaparkan secara data, bencana alam sepanjang 2024 yang tercatat ialah, 20 kejadian banjir, 103 cuaca ekstrem, 23 tanah longsor, 31 kejadian kebakaran hutan dan lahan.
”yang paling sering itu kekeringan dengan 269 kasus, juga 1 kasus gempa bumi dengan total terdampak 212.938 jiwa atau 66.390 KK,” tambah Bupati.
Sementara hingga 31 Oktober 2025, lanjut Bupati Kholil, terjadi 25 kejadian banjir, 45 cuaca ekstrem, 24 tanah longsor, 20 kasus kebakaran hutan dan lahan, 231 kekeringan 3 kali gempa bumi, dengan penyintas sebanyak 186.661 jiwa atau 57.945 KK.
Bupati menilai persoalan tersebut tidak terlepas dari kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia, termasuk pembangunan yang tidak memperhatikan mitigasi bencana.
Untuk meningkatkan kesiapsiagaan, Bupati menegaskan empat poin penting. Pertama, SDM harus memahami tugas dan alur tanggung jawab agar mampu memberi contoh bagi masyarakat. Kedua, optimalisasi sarana-prasarana, seperti perahu karet, alat komunikasi, kendaraan patroli dan evakuasi, serta pemadam kebakaran.
”Yang ke tiga, kesiapan fasilitas pengungsian dan dapur umum demi layanan terbaik dan yang terakhir, ialah kolaborasi media dan relawan dalam mengedukasi masyarakat,” tegas Bupati.
Selain fokus bencana, Bupati juga menyinggung dua kasus pembunuhan yang terjadi baru-baru ini di wilayah Pamekasan. Ia menyebut kejadian itu sebagai “bencana sosial” yang merusak nilai kemanusiaan dan martabat hukum.
Untuk mengatasinya, ia mengarahkan masyarakat untuk berpartisipasi menjaga ketenteraman,memaksimalkan media sosial untuk pelaporan kejadian mencurigakan, serta menggerakkan OPD terkait untuk patroli terkoordinasi bersama TNI–Polri.
Tidak hanya itu, kata Bupati, lembaga pendidikan diminta membina karakter siswa dan membatasi aktivitas luar rumah hingga pukul 22.00 WIB serta mengoptimalkan kegiatan keagamaan dan ruang aktivitas pemuda termasuk Pramuka.
Menutup sambutan, Bupati mengajak seluruh elemen untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam maupun sosial demi mewujudkan Pamekasan yang aman.
“Semoga Allah SWT senantiasa memberi petunjuk kepada kita dalam melaksanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana, serta mewujudkan Pamekasan yang aman dari bencana,” pungkasnya.













