PAMEKASAN, MADURANET – Direktur IBS PKMKK, Achmad Muhlis, menilai kegiatan takbir keliling yang dikemas dengan doorprize hingga kembang api bukan sekadar seremonial.
Ia menyebut, cara tersebut merupakan strategi kultural untuk membangun kesadaran spiritual masyarakat, terutama di tengah derasnya pengaruh modernitas, Jumat (20/3/2026).
Menurut Muhlis, yang juga Guru Besar Sosiologi Islam UIN Madura, masyarakat saat ini menghadapi tantangan besar berupa distraksi digital, hiburan instan, hingga kecenderungan individualisme.
“Kesadaran spiritual tidak selalu muncul secara spontan. Karena itu, perlu pendekatan yang bisa ‘memaksa’ secara kultural, namun tetap persuasif,” ujarnya saat malam takbiran Idul Fitri 1447 Hijriah.
Ia menjelaskan, takbir keliling yang melibatkan masyarakat secara langsung mampu menciptakan ruang religius bersama. Dalam kegiatan itu, warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut terlibat dalam ekspresi keagamaan.
Dalam perspektif sosiologi, kata dia, aktivitas tersebut dapat memperkuat kesadaran kolektif. Lantunan takbir bersama menjadi medium yang menyatukan emosi, identitas, dan keyakinan dalam satu pengalaman bersama.
Muhlis juga menyoroti penggunaan doorprize sebagai strategi untuk menarik minat, khususnya kalangan remaja. Menurut dia, insentif tersebut menjadi pintu masuk untuk mendorong partisipasi.
“Awalnya mungkin karena hadiah, tetapi dari situ bisa tumbuh kesadaran yang lebih dalam,” katanya.
Selain itu, lanjut dia, penutupan kegiatan dengan kembang api dinilai memiliki makna simbolik sebagai ekspresi kebahagiaan dan rasa syukur setelah menjalani ibadah Ramadan.
”Namun, tidak menafikan adanya kritik terhadap pendekatan tersebut. Sebagian pihak menilai unsur hiburan berpotensi menggeser makna spiritual menjadi sekadar euforia,” terangnya.
Namun, Muhlis menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan tetap diarahkan pada nilai keagamaan melalui tausiah yang disampaikan sebelum acara dimulai.
“Tausiah menjadi fondasi agar semua kegiatan tetap berada dalam kerangka ibadah dan syukur,” ujarnya.
Ia menambahkan, kombinasi antara ceramah, aktivitas kolektif, dan elemen hiburan justru dapat menciptakan pengalaman yang lebih membekas bagi masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, IBS PKMKK berupaya menjembatani antara pesan keagamaan dan realitas sosial saat ini.
“Dakwah harus adaptif. Yang penting substansinya tetap, yaitu mengajak masyarakat kembali mengingat Allah,” pungkas Muhlis.













