PAMEKASAN, MADURANET – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mendorong pelestarian Bahasa Madura, dalam forum diskusi pendidikan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di SDN Jalmak 1 Pamekasan, Ahad (24/5/2026).
Forum bertema “Pembelajaran Transformatif melalui Penguatan Keunggulan Lokal untuk Mewujudkan Masa Depan Inspiratif” itu, Abdul Mu’ti menegaskan bahasa daerah memiliki peran penting dalam pembelajaran anak usia dini sekaligus menjaga identitas budaya bangsa.
“Program kami adalah utamakan bahasa Indonesia, kuasai bahasa asing, dan lestarikan bahasa daerah,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menjelaskan, banyak penelitian menunjukkan anak-anak lebih mudah mempelajari bahasa Indonesia maupun bahasa asing apabila pada jenjang awal pendidikan menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar.
“Tidak apa-apa sebenarnya di tingkat TK dan SD kelas awal menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar,” katanya.
Menurut Abdul Mu’ti, Indonesia memiliki kekayaan bahasa daerah yang luar biasa dibanding negara lain. Ia menyebut jumlah bahasa daerah di Indonesia kini mencapai 729 bahasa.
“Tidak ada satu pun negara di dunia yang bahasa daerahnya sebanyak Indonesia,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti juga menyinggung kontribusi tokoh Madura terhadap sejarah bahasa Indonesia. Ia menyebut perumus konsep Bahasa Indonesia dalam Sumpah Pemuda berasal dari Madura, yakni M. Tabrani.
“Yang merumuskan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan adalah putra Madura,” katanya.
Ia berharap Bahasa Indonesia ke depan semakin diakui dunia internasional. Bahkan, ia menargetkan pada peringatan 100 tahun kemerdekaan Indonesia tahun 2045, Bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Bahasa Indonesia sekarang sudah menjadi bahasa resmi di UNESCO. Mudah-mudahan tahun 2045 menjadi bahasa resmi PBB,” ucapnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Madura (UNIRA), Moh. Zayyadi, menyampaikan tujuh rekomendasi kepada Kemendikdasmen terkait pelestarian Bahasa Madura.
Salah satu rekomendasi tersebut adalah pengakuan status guru Bahasa Madura sebagai bagian resmi dalam sistem pendidikan.
“Kami berharap guru Bahasa Madura bisa diakui secara resmi,” ujar Zayyadi.
Ia juga mengungkapkan rencana UNIRA membuka program studi Bahasa Madura dan meminta dukungan pemerintah pusat agar program tersebut dapat direalisasikan.
Forum diskusi pendidikan tersebut juga dihadiri Bupati Pamekasan Kholilurrahman, Kadisdik Pamekasan, serta sejumlah guru.













