SURABAYA, MADURANET – Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur masa khidmat 2026–2028 resmi dilantik di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Sabtu (14/2/2026) malam.
Pelantikan dilakukan oleh Sekretaris Bidang Keagamaan dan Hubungan Antar Agama PB PMII, Fuad Muhammad, mewakili Ketua PB PMII, berdasarkan SK PB PMII Nomor 173.PB-XXI.01.173.A-1.02.2026.
Turut hadir Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang menyampaikan ucapan selamat kepada kepengurusan baru.
Khofifah menegaskan posisi Cipayung Plus, yang di dalamnya terdapat PMII, memiliki peran strategis dalam menjaga keutuhan bangsa.
“Selamat dilantik untuk kepengurusan baru. PMII memiliki peran penting untuk negeri ini,” ujarnya.
Ia berharap PMII aktif menggelar diskusi dari tingkat lokal hingga global guna merawat keberagaman Indonesia yang terdiri atas berbagai suku dan bahasa.
Menurut dia, keberagaman tersebut dapat terus bertahan apabila dirawat dengan gagasan dan dialog yang berkelanjutan.
“Negeri ini bisa terus survive dengan adanya PMII. Maka sahabat Edo harus memiliki peta pemikiran local wisdom dan global mindset,” katanya.
Khofifah menekankan pentingnya mengasah wawasan global tanpa meninggalkan kearifan lokal sebagai fondasi berpikir.
”Ingat! kita ini disatukan oleh Indonesia, bukan agama. Oleh karena itu, penting kita menjaga lokal wisdom guna meneguhkan kesatuan Indonesia,” tegasnya.
Ia berharap, dengan dilantiknya PKC PMIII Jatim ini bisa melahirkan nilai-nilai kebangsaan yang akan menjadi fondasi penting keutuhan negara.
Sementara itu, Ketua PKC PMII Jawa Timur Mohammad Ivan Akiedozawa atau yang akrab disapa Edo menyebut pelantikan bukan sekadar seremoni, melainkan peneguhan tanggung jawab sejarah organisasi.
Ia mengingatkan Surabaya merupakan kota kelahiran PMII 65 tahun silam.
“Jika tahun 1960 Surabaya menjadi titik lahir pergerakan, maka tahun 2026 Surabaya harus menjadi titik kebangkitan pergerakan,” ujarnya disambut tepuk tangan kader.
Edo menegaskan, kepengurusannya akan memprioritaskan kaderisasi yang profesional, terstruktur, berjenjang, dan terukur.
Menurut dia, kader PMII harus memiliki kapasitas intelektual, kepemimpinan, literasi digital, serta kemampuan manajerial yang kuat, tanpa meninggalkan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai manhaj berpikir moderat.
Selain penguatan internal, PKC PMII Jatim juga berkomitmen mengawal isu-isu kerakyatan seperti krisis agraria dan kerusakan lingkungan sebagai bentuk keberpihakan terhadap keadilan sosial.
Transformasi digital, kata dia, menjadi keniscayaan agar gerakan PMII tetap relevan di ruang fisik maupun digital.
“PMII tidak lahir untuk gagah-gagahan. PMII lahir untuk merawat Indonesia dan menjaga Islam Ahlussunnah wal Jama’ah tetap menjadi rahmat bagi semesta. Ilmu dan bakti kuberikan, adil dan makmur kuperjuangkan,” seru Edo.













