PAMEKASAN, MADURANET – Potensi sumber daya energi yang melimpah di Pulau Madura dinilai belum cukup untuk membawa daerah tersebut menuju kemajuan tanpa didukung kualitas sumber daya manusia (SDM) yang memadai.
Pandangan itu disampaikan perwakilan PT POMI/Paiton Energy, Rochman Hidayat, Jumat (5/6/2026). Menurutnya, pembangunan Madura ke depan tidak hanya bergantung pada pengelolaan sumber daya alam, tetapi juga pada kemampuan masyarakat dalam meningkatkan kapasitas diri agar mampu bersaing di berbagai sektor.
Ia menilai masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, mulai dari pembangunan infrastruktur, penyempurnaan regulasi, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Orang Madura juga bisa bermimpi besar. Latar belakang pendidikan tidak selalu menjadi patokan utama dalam karier seseorang,” ujar Rochman.
Karena itu, ia mendorong generasi muda Madura untuk terus belajar, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, memperkuat literasi, serta mengembangkan keterampilan komunikasi sebagai bekal menghadapi persaingan global.
Rochman juga mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap berbagai stereotipe yang selama ini melekat pada masyarakat Madura.
Menurut dia, masyarakat Madura memiliki potensi besar untuk berkembang dan berprestasi apabila memperoleh kesempatan yang sama serta didukung kemauan untuk terus meningkatkan kemampuan diri.
“Kita harus mematahkan stereotipe bahwa orang Madura itu keras. Faktanya, orang Madura mampu berkembang, bersaing, dan berprestasi ketika diberikan kesempatan dan mau berusaha,” katanya.
Sejumlah akademisi turut memeberi perhatian akan isu pengelolaan sumber daya energi di Pulau Garam ini.
Dosen Universitas Wiraraja Sumenep, Mohammad Hidayaturrahman, menyoroti paradoks antara melimpahnya potensi minyak dan gas bumi (migas) dengan masih tingginya angka kemiskinan di sejumlah daerah penghasil migas di Madura.
Ia menjelaskan bahwa berbagai penelitian menunjukkan kekayaan sumber daya alam tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila tidak didukung kebijakan yang tepat.
“Potensi migas Madura sangat besar, tetapi angka kemiskinan di beberapa daerah penghasil migas masih relatif tinggi. Artinya, ada faktor lain yang memengaruhi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Hidayaturrahman, pengelolaan sumber daya alam harus dibarengi kebijakan yang mampu memastikan manfaat ekonomi dirasakan langsung oleh masyarakat.
Sementara itu, Dosen Universitas Annuqayah, Damanhuri, mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan kelestarian lingkungan.
Ia menilai maraknya aktivitas tambang ilegal di sejumlah wilayah Madura tidak lepas dari lemahnya regulasi, penegakan hukum, serta faktor ekonomi masyarakat.
“Bumi akan tetap ada, kitalah yang tidak akan bertahan,” kata Damanhuri.
Karena itu, ia menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya alam harus dilakukan secara bijaksana melalui pengawasan yang kuat dan kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan bagi generasi mendatang.













