• Terkini
  • Trending
  • Semua

UIN Madura Dorong Pembatik Candi Burung Kuasai Akuntansi Biaya

9 bulan lalu
Guru Besar UIN Madura Tawarkan Kurikulum Cinta Tekan Perundungan di Pesantren

Guru Besar UIN Madura Soroti Fenomena Kritik yang Krisis Moral dan Pengetahuan

38 menit lalu
Gubernur Khofifah Borong Produk Unggulan Koperasi IKAFA di Pamekasan

Gubernur Khofifah Borong Produk Unggulan Koperasi IKAFA di Pamekasan

5 jam lalu

Menkop: Pedagang Sate hingga Konten Kreator Bisa Bentuk Koperasi

6 jam lalu

Menteri Koperasi Akan Jadikan KDKMP Pusat Penyaluran Program Pemerintah

20 jam lalu

Pamekasan Sukses Gelar Puncak Harkop Jatim Ke-79

23 jam lalu
Panitia Harkopnas Jatim Kekurangan Dana Haji Her Sumbang Rp 465 Juta

Panitia Harkopnas Jatim Kekurangan Dana Haji Her Sumbang Rp 465 Juta

1 hari lalu

Sarasehan Harkopnas di Pamekasan Soroti Masa Depan Koperasi

2 hari lalu

Warga Palengaan Tolak Pembangunan Indomaret

2 hari lalu

Pasar Murah ke-84 Digelar di Pamekasan, Khofifah Jual Sembako di Bawah Harga Pasar untuk Tekan Inflasi

2 hari lalu

Pemkab Pamekasan Rampungkan Penyusunan BPP Tembakau 2026, Biaya Produksi Dipastikan Naik

2 hari lalu
Ilustrasi Gemini Pinterest.

Kasus Pemerkosaan Anak di Pulau Raas Sumenep Mandeg Keluarga Korban Resah

5 hari lalu

Puluhan ASN, TNI, dan Petugas Pasar Bersihkan Pasar 17 Agustus Pamekasan

5 hari lalu
  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Periklanan
  • Login
  • Register
Rabu, Juli 22, 2026
Maduranet.com
  • Home
  • Politik
  • Bola
  • Khazanah
  • Gaya
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
Maduranet.com
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Bola
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Budaya
  • Agama
  • Olahraga
  • Daras
  • Gaya
  • Plesir
  • Kulinari
  • Editorial
Home Peristiwa Ekonomi

UIN Madura Dorong Pembatik Candi Burung Kuasai Akuntansi Biaya

Pelatihan partisipatif ubah cara pandang pembatik terhadap nilai kerja dan harga batik

oleh Ahmad Daifi Al Farrozi
28 Oktober 2025
in Ekonomi
13 1
0

Tim pengabdian UIN Madura yang dipimpin Sri Handayani dan Safarin Maulani bersama puluhan pengerajin batik Desa Candi Burung, Kecamatan Proppo.

0
SHARES
135
VIEWS

PAMEKASAN, MADURANET — Di tengah geliat batik Madura yang terus berjuang menembus pasar modern, sekelompok dosen dan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Madura memilih langkah berbeda. Mereka turun langsung ke Desa Candi Burung, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan pada Ahad (19/10/2025).

Giat itu dilakukan oleh tim pengabdian yang dipimpin Sri Handayani bersama Safarin Maulani, dan diikuti oleh puluhan pengerajin batik setempat. Agenda tersebut bertujuan mengajarkan hal yang jarang disentuh, yaitu akuntansi pembiayaan bagi para pberdaya.

“Kegiatan ini bertema Peningkatan Modal Intelektual Melalui Pelatihan Akuntansi Biaya Produksi Batik itu digelar sebagai bagian dari program pengabdian kepada masyarakat,” ujar Sri Handayani.

Ia menjelaskan, pendekatan yang dilakukan tidak sekadar pelatihan teknis, tetapi juga upaya membangun kesadaran baru tentang nilai kerja dan pengelolaan usaha batik.

Selama ini, tambah dia, sebagian besar pembatik di Candi Burung masih mencatat biaya produksi secara sederhana. Catatan mereka biasanya hanya berisi pembelian kain, malam, dan pewarna. Biaya tenaga kerja, transportasi, atau biaya tidak langsung sering kali diabaikan.

“Kami menemukan, kalau pengerajin mengerjakan sendiri, tidak dihitung upahnya. Karena takut harga batik jadi mahal dan tidak laku,” ucapnya.

Ia menambahkan, perhitungan berbeda dilakukan jika ada pesanan dalam jumlah besar. “Kalau pesanan banyak dan harus dibantu orang lain, baru si pengerajin tambahkan biayanya,” ujarnya.

Temuan itu menunjukkan bahwa sebagian pembatik masih memiliki persepsi sederhana soal biaya produksi. Akibatnya, mereka kerap tidak mengetahui keuntungan riil dari setiap potongan kain yang dihasilkan.

Tim pengabdian tersebut, menyadari bahwa mengubah pola pikir bukan perkara mudah. Karena itu, mereka menggunakan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD), metode yang berangkat dari potensi dan aset lokal masyarakat.

“Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai subjek, bukan objek,” kata Sri Handayani.

Ia menjelaskan bahwa para pembatik diajak mengenali aset yang mereka miliki, baik keterampilan, jaringan sosial, maupun pengalaman produksi.

“Kami tidak datang membawa resep, tapi belajar bersama. Tujuannya agar pembatik bisa mengenali nilai kerja mereka sendiri,” tambahnya.

Ia menjabarkan,dalam pelatihan ini peserta belajar mengidentifikasi komponen biaya produksi, menghitung harga pokok produksi (HPP), dan menentukan harga jual realistis tanpa merugikan diri sendiri.

Tim tersebut juga melakukan pengukuran pemahaman, dengan dilakukan pre-test dan post-test, yang hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam literasi keuangan peserta.

“Ketika pembatik mampu mencatat biaya secara lengkap dan memahami nilai kerja mereka, mereka tidak hanya menjadi pengrajin, tapi juga manajer bagi usahanya,” ujar Sri.

Hasil pendampingan menunjukkan perubahan kecil namun berarti. Beberapa pembatik mulai menyadari pentingnya menghitung seluruh komponen biaya, termasuk tenaga kerja pribadi. Bagi mereka, hal itu bukan sekadar soal angka, melainkan penghargaan terhadap jerih payah sendiri.

Tim UIN Madura menilai, kesadaran itu menjadi pondasi penting bagi keberlanjutan industri batik lokal. “Kami tidak sedang mengajarkan pembukuan rumit. Kami hanya ingin pembatik bisa memahami bagaimana kerja mereka memiliki nilai ekonomi yang layak,” jelas Sri.

Batik Madura dikenal dengan motif berani dan warna mencolok yang melambangkan karakter masyarakat pesisirnya. Namun di balik keelokan itu, sebagian besar pembatik masih bergantung pada sistem ekonomi tradisional, tanpa pencatatan usaha yang terstruktur.

Melalui pelatihan ini, UIN Madura berupaya menjembatani antara tradisi dan manajemen modern.

“Ketika pembatik bisa menghitung biaya dengan benar, mereka akan tahu berapa sebenarnya nilai batik yang mereka hasilkan. Dari situ muncul kemandirian,” ujar Sri.

Dari sinilah, tegas Sri Handayani, lahir harapan baru. Pihaknya ingin, batik Madura tidak hanya dikenal karena keindahannya, tapi juga karena pembatiknya sejahtera dan berdaya.

Tags: Batik CandiBatik PamekasanBudaya PamekasanUIN Madura
ShareTweetSendShareShare

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Berhenti berlangganan
Ahmad Daifi Al Farrozi

Ahmad Daifi Al Farrozi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Maduranet.com

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Navigate Site

  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
    • Pemerintahan
    • Parlementaria
  • Peristiwa
    • Hukum
    • Kriminal
    • Ekonomi
    • Agama
    • Kesehatan
  • Olahraga
    • Bola
  • Plesir
    • Budaya
    • Gaya
    • Kulinari
  • Daras
  • Editorial

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
Go to mobile version