PAMEKASAN, MADURANET – Puluhan perahu nelayan di Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, terlihat terparkir rapi di bibir pantai, Kamis (5/2/2026). Tak ada mesin perahu yang meraung atau aktivitas bongkar muat hasil tangkapan seperti biasanya.
Bukan karena gelombang tinggi atau cuaca buruk. Para nelayan terpaksa berhenti melaut akibat sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dari SPBU.
Ketua Nelayan Branta Pesisir, Warda, mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Menurut dia, kesulitan solar sebenarnya sudah dirasakan sejak awal Desember 2025, namun hingga kini belum ada solusi nyata.
“Saya prihatin terhadap sulitnya solar ini. Nelayan tidak bisa bekerja, otomatis perekonomian lumpuh,” kata Warda.
Ia mengaku, sudah sepekan terakhir puluhan nelayan memilih menepi. Tanpa solar, kapal dan mesin penangkap ikan tak bisa dioperasikan.
Ia meminta pemerintah membagi kuota solar secara adil antara kebutuhan darat dan laut. Sebab, sektor perikanan sangat bergantung pada pasokan BBM tersebut.
“Pemerintah harus adil, membagi kebutuhan solar ini, darat berapa dan laut berapa. Dengan kelangkaan ini timbul pertanyaan, benar enggak jatah solar untuk laut ini disalurkan 100 persen,” ujarnya.
Warda juga menyinggung kemungkinan adanya permainan dalam distribusi. Ia berharap ada transparansi agar nelayan tidak terus dirugikan.
“Bisa saja jatah seminggu 1.000 liter disalurkan 700 liter. Nah ini siapa yang bermain harus dipastikan. Nelayan yang jadi korban,” ucapnya.
Akibat tak melaut, penghasilan nelayan nyaris nol. Padahal, hasil tangkapan harian menjadi sumber utama untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Menurut Warda, selama masa sulit seperti pandemi Covid-19 pun nelayan masih bisa bekerja. Namun kali ini, aktivitas benar-benar terhenti karena persoalan distribusi BBM.
“Nelayan itu masyarakat mandiri. Saat Covid saja kami tetap bekerja. Kalau bicara swasembada pangan, sektor perikanan yang paling terdepan,” katanya.
Pihaknya berharap, pemerintah segera mengambil langkah konkret agar pasokan solar kembali normal. Mereka ingin kembali melaut tanpa dihantui kekhawatiran kehabisan bahan bakar.
Selama solar masih langka, tutup Warda, dermaga Branta Pesisir kemungkinan akan tetap dipenuhi perahu-perahu yang menganggur, sementara roda ekonomi pesisir ikut tersendat.
Terdampak kelangkaan tersebut, sebagian nelayan terlihat mengisi waktu dengan memperbaiki jaring, menambal perahu, hingga membersihkan alat tangkap. Ratusan meter jaring terlihat dihampar di dermaga tersebut.













