PAMEKASAN, MADURANET – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pamekasan mengungkap hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menunjukkan obesitas dan prehipertensi menjadi dua temuan terbanyak di kalangan masyarakat.
Berdasarkan data CKG, obesitas tingkat I menempati urutan pertama dengan 15.616 kasus, disusul prehipertensi sebanyak 10.160 kasus. Selanjutnya karies gigi mencapai 7.594 kasus, obesitas tingkat II sebanyak 3.955 kasus, prediabetes sebanyak 2.980 kasus, dan hipertensi sebanyak 1.748 kasus.
Selain itu, CKG juga menemukan dislipidemia sebanyak 777 kasus, curiga katarak 218 kasus, gangguan fungsi ginjal 203 kasus, serta albuminuria 184 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Pamekasan, Saifudin, mengatakan tingginya temuan obesitas dan prehipertensi menjadi perhatian serius karena keduanya merupakan indikator awal pola hidup yang tidak sehat.
“Obesitas adalah kondisi kelebihan berat badan akibat penumpukan lemak yang melebihi batas sehat. Sedangkan prehipertensi merupakan kondisi tekanan darah berada di atas normal, tetapi belum masuk kategori hipertensi,” kata Saifudin, Senin (14/7/2026).
Ia menjelaskan, seseorang dikatakan mengalami prehipertensi apabila memiliki tekanan darah sistolik 120–139 mmHg dan/atau diastolik 80–89 mmHg.
Menurut Saifudin, kedua kondisi tersebut menjadi sinyal awal yang tidak boleh diabaikan karena berpotensi berkembang menjadi penyakit metabolik, seperti diabetes melitus dan hipertensi.
“Diagnosis ini mengindikasikan adanya pola atau gaya hidup yang tidak sehat. Karena itu harus menjadi perhatian dan dicegah agar tidak berkembang menjadi penyakit metabolik seperti diabetes melitus dan hipertensi,” ujarnya.
Saifudin menilai tingginya temuan tersebut berkaitan erat dengan kebiasaan masyarakat dalam menjalani pola hidup sehari-hari.
Ia menyebut pola makan yang berlebihan, tingginya konsumsi garam, serta minimnya aktivitas fisik menjadi faktor utama yang memicu obesitas maupun gangguan tekanan darah.
“Pola makan yang salah, yaitu berlebihan, kemudian prehipertensi dan hipertensi juga dipengaruhi tingginya konsumsi garam. Aktivitas fisik yang kurang mengakibatkan penumpukan lemak dalam tubuh,” katanya.
Sebagai tindak lanjut hasil CKG, Dinkes Pamekasan mengedepankan edukasi kepada masyarakat agar segera memperbaiki pola hidup sebelum kondisi tersebut berkembang menjadi penyakit yang lebih berat.
Menurut Saifudin, perubahan gaya hidup menjadi langkah utama yang harus dilakukan, sedangkan pengobatan belum tentu diperlukan apabila kondisi kesehatan membaik setelah masyarakat menerapkan pola hidup sehat.
“Edukasi dilakukan agar masyarakat mengubah pola hidupnya menjadi lebih sehat. Jika dengan pola hidup sehat gejala-gejala tersebut membaik, maka tidak perlu pengobatan,” ucapnya.
Ia pun mengimbau masyarakat menjadikan hasil CKG sebagai momentum untuk lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya.
“Yang paling penting adalah menjaga gaya hidup sehat dan mencegah agar kondisi tersebut tidak berlanjut menjadi penyakit yang lebih berat,” pungkas Saifudin.













