PAMEKASAN,MADURANET – Dibawah langit teduh sore itu, angin seperti sengaja menahan diri. Daun-daun anting putri di sekitar monumen Arek Lancor hanya bergetar pelan, seolah ikut menyimak percakapan yang berlangsung di bawahnya.
Di tengah riuh persiapan Festival Bonsai Bupati Cup yang digelar berskala nasional oleh Rumah Bonsai Indonesia (RUBI) sebagai penanggung jawab, seorang lelaki tua berdiri menunggui puluhan pohon kecil di di halaman Arek Lancor. Tangannya bergerak pelan, menyentuh satu per satu batang mungil itu dengan cara seorang tua menyentuh kepala cucunya.
Dialah Akhmad Mulyono, lelaki 63 tahun asal Desa Panaguan, Kecamatan Larangan, salah satu dari sembilan pendiri RUBI, sebuah organisasi yang kini memiliki 100 cabang di berbagai kabupaten/kota di Nusantara.
RUBI berdiri pada 2017 dengan Zudan Arif Fakrulloh (Kepala Badan Kepegawaian Negara disingkat BKN) sebagai Ketua Umum. Mulyono adalah salah satu motor utamanya, hingga kini masih menjadi promotor sentral dalam festival bonsai bergengsi di Pamekasan itu.
Ketika ditemui di tengah keramaian senja Arek Lancor pada Sabtu (15/11/2025), ia tidak membuka percakapan dengan selamat sore, melainkan menunduk pada sebatang pohon mini berusia puluhan tahun.
Kadang, ujar Mulyono pelan, pohon lebih jujur daripada manusia. Ia menunjukkan hasil dari apa yang kita lakukan padanya.
Mulyono mulai menekuni dunia bonsai sejak tahun 1980-an. Waktu itu, bonsai belum menjadi hobi yang menampilkan gengsi seperti sekarang. Yang ia lakukan hanyalah memungut bibit liar di tepian sungai dan pegunungan, lalu mengikat ranting-rantingnya dengan kawat mengatur bentuknya.
“Belajar bonsai pada masa itu seperti belajar bahasa asing tanpa kamus,” katanya sambil terkekeh. “Tidak ada YouTube. Tidak ada grup Facebook. Semua trial and error,” tambahnya.
Ia menjelaskan, kesalahan berarti pohon mati. Keberhasilan berarti memiliki karya yang dapat berbicara.
Sore itu, ia membocorkan sebuah rahasia sambil mengambil sebuah bonsai. Ia menyentuh pangkal batangnya, lalu menggambar bentuk ideal di udara, sebuah tekukan batang, arah ranting, karakter akar.
“Kalau pintar membaca karakter pohon, Rp 100 ribu bisa menjadi satu juta. Bahkan lebih,” katanya.
Dirinya menambahkan, bahan bonsai Rp 500 ribu dapat menjadi Rp 3–5 juta hanya dalam hitungan minggu atau satu bulan, tergantung ketepatan memilih bahan dan kejelian membaca pasar.
Mulyono tidak menampik bahwa bonsai adalah hobi yang menghasilkan. Kalimat itu ia sebutkan tanpa ragu.
Namun, setelah itu ia selalu menambahkan satu kalimat, “Untung itu bonus. Yang utama tetap seni.”
Ia menepuk salah satu bonsai anting putri yang dipajang di festival kelas silver.
“Kalau hanya mengejar uang, pohon jadi korban,” katanya.
Seni bonsai, menurutnya, adalah seni yang tidak pernah selesai. Perubahan kecil seperti daun baru, akar yang membengkak, kulit batang yang mengeras, merupakan bagian dari pertumbuhan estetika yang tidak dapat dilakukan tergesa-gesa.
“Bonsai itu meditasi, hanya orang sabar yang menang,” katanya.
RUBI berdiri pada 2017 sebagai wadah nasional bagi pecinta bonsai. Mulyono termasuk tokoh yang sejak awal mematangkan organisasi itu hingga memiliki struktur kuat dan jaringan seni hingga tingkat nasional.
Pada Festival Bonsai Bupati Cup, perannya sebagai promotor utama terlihat jelas. Ia hilir mudik, mengarahkan panitia, menyapa peserta dari berbagai kota, hingga mengatur pencahayaan agar akar-akarnya terlihat dramatis saat penjurian.
“Bonsai ini hidup, jadi kita harus mempertemukannya dengan orang yang tepat,” kata Mulyono.
Ia tidak sedang bercanda. Bonsai memang hidup melampaui umur manusia. Di situlah seni bonsai berdiri, di antara kesementaraan hidup dan keteguhan pohon-pohon kecil itu untuk tumbuh menuju keindahan yang tidak terburu-buru.
“Bonsai,” katanya sebelum berpisah, “adalah seni yang tidak ada habisnya. Yang habis itu hanya waktu kita.”













