• Terkini
  • Trending
  • Semua

Jalan Terjal Batik Pamekasan Menghadapi Gempuran Batik Cetakan

11 bulan lalu

Tidak Etis Anggota F-PPP Tinggalkan Forum Tanpa Izin dalam Sidang Paripurna DPRD Pamekasan

5 jam lalu

Peresmian Kopdes Merah Putih di Pamekasan Masih Terkatung-katung

7 jam lalu

Bupati Pamekasan Bakal Hidupkan Kembali Nomor Pengaduan Masyarakat

12 jam lalu

AJP Salurkan Air Bersih, 11 Kecamatan di Pamekasan Jadi Sasaran

1 hari lalu

ASKAB PSAI Pamekasan Resmi Dilantik, Buka Ruang Prestasi Atlet Disabilitas

2 hari lalu

Bupati Pamekasan Apresiasi Gotong Royong Perbaikan Jalan Desa Mangar Sepanjang 3,5 Kilometer

2 hari lalu

12 Santri Padepokan Kiyai Mudrikah Jajal Baca Kitab Kuning dan Tajwid

3 hari lalu

Antrean BBM di Sejumlah SPBU Pamekasan Karena Konsumen Panik

3 hari lalu

Pertamina Ungkap Penyebab Kelangkaan BBM karena Ulah Konsumen Sendiri

3 hari lalu

Warga Blumbungan Keluhkan Bau Menyengat dari Gudang Tembakau

3 hari lalu

Kehabisan Kuota Pertalite dan Solar di Pamekasan Picu Antrean di SPBU

4 hari lalu

PMII Soroti 17 Anggota DPRD Pamekasan Bolos dalam Paripurna

4 hari lalu
  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Periklanan
  • Login
  • Register
Selasa, September 8, 2026
Maduranet.com
  • Home
  • Politik
  • Bola
  • Khazanah
  • Gaya
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
Maduranet.com
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Bola
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Budaya
  • Agama
  • Olahraga
  • Daras
  • Gaya
  • Plesir
  • Kulinari
  • Editorial
Home Budaya

Jalan Terjal Batik Pamekasan Menghadapi Gempuran Batik Cetakan

Pengrajin batik menanti uluran tangan pemerintah

oleh Ahmad Daifi Al Farrozi
2 Oktober 2025
in Budaya
13 0
0

Hamim, pengerajin Batik Toket, Owner Batik Kholifah, kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan.

0
SHARES
129
VIEWS

PAMEKASAN, MADURANET – Hamim (Owner Batik Kholifah) duduk di serambi rumahnya di Desa Toket, Kecamatan Proppo, Pamekasan. Tangan lelaki 35-an tahun itu masih cekatan menggoreskan malam cair ke atas kain putih. Motif bunga dan garis-garis khas batik Pamekasan perlahan muncul, seperti sedang ditulis dengan kesabaran panjang. Namun, di balik ketekunan itu, wajah Hamim menyimpan kegelisahan.

“Sekarang peminat batik Pamekasan menurun drastis. Kalau dibiarkan, bisa hilang dimakan waktu,” ujarnya lirih, Kamis (2/10/2025).

Hamim bukan sekadar perajin. Ia juga pengusaha batik yang dulu sempat menampung lulusan muda Pamekasan untuk ikut bekerja. Tapi kini, dengan penjualan yang makin seret, ia tak lagi sanggup merekrut kalangan muda untuk produktif.

Hamim masih ingat masa jaya batik Pamekasan di periode pertama kepemimpinan Bupati Kholilurrahman. Penjualan saat itu melonjak, batik Pamekasan dikenal hingga ke panggung nasional. Bahkan, batik tulis Toket sempat mencuri perhatian internasional saat tampil di New York-Indonesia Fashion Week pada 2021.

“Bahkan saya kaget ketika tahu batik kami dipakai desainer Amerika dan Eropa,” kenangnya.

Tapi selepas itu, gairah pasar kian meredup. Banyak instansi beralih memakai batik print modern untuk seragam, alih-alih produk lokal. Bagi Hamim, keputusan ini seperti menutup pintu harapan perajin kecil.

Menurut hamim, bagi warga Toket, Klampar, hingga Kowel, batik bukan sekadar sandang. Ia adalah napas kehidupan sekaligus warisan budaya yang mengikat. Setiap motif menyimpan makna, setiap warna menyiratkan harapan.

Namun di tengah derasnya batik cetak pabrikan, batik tulis terasa makin terpojok. Proses panjang dan penuh detail, kadang butuh waktu seminggu untuk selembar kain, membuat harganya tak bisa bersaing dengan batik print yang murah dan instan.

“Kalau pemerintah mau, cukup semua instansi pakai batik lokal untuk seragam. Itu sudah sangat membantu ekosistem batik Pamekasan,” kata Hamim dengan nada penuh harap.

Desa Toket selama ini dikenal sebagai surga batik. Mayoritas warganya menggantungkan hidup dari membatik, di samping bertani cabai, padi, dan tembakau. Bakat mereka sudah diakui dunia, tapi di rumah sendiri justru kerap terpinggirkan.

Hamim mengaku khawatir. Jika generasi muda enggan lagi membatik karena tak ada jaminan pasar, maka batik Pamekasan hanya akan tersisa di cerita masa lalu.

“Batik ini bukan cuma soal ekonomi. Ini soal warisan budaya. Kalau hilang, kita kehilangan identitas,” ujarnya tegas.

Kini, Hamim dan para perajin Toket menanti. Mereka menanti kebijakan nyata, bukan sekadar pujian seremonial. Sebab bagi mereka, selembar kain batik adalah harapan, agar warisan budaya Pamekasan tetap hidup, dan perut keluarga mereka tetap terisi.

Tags: batik KholilurrahmanBatik PamekasanBatik ToketHari BatikPamekasan
ShareTweetSendShareShare

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Berhenti berlangganan
Ahmad Daifi Al Farrozi

Ahmad Daifi Al Farrozi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Maduranet.com

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Navigate Site

  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
    • Pemerintahan
    • Parlementaria
  • Peristiwa
    • Hukum
    • Kriminal
    • Ekonomi
    • Agama
    • Kesehatan
  • Olahraga
    • Bola
  • Plesir
    • Budaya
    • Gaya
    • Kulinari
  • Daras
  • Editorial

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
Go to mobile version