Jalan Terjal Batik Pamekasan Menghadapi Gempuran Batik Cetakan

Pengrajin batik menanti uluran tangan pemerintah

Hamim, pengerajin Batik Toket, Owner Batik Kholifah, kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan.

PAMEKASAN, MADURANET – Hamim (Owner Batik Kholifah) duduk di serambi rumahnya di Desa Toket, Kecamatan Proppo, Pamekasan. Tangan lelaki 35-an tahun itu masih cekatan menggoreskan malam cair ke atas kain putih. Motif bunga dan garis-garis khas batik Pamekasan perlahan muncul, seperti sedang ditulis dengan kesabaran panjang. Namun, di balik ketekunan itu, wajah Hamim menyimpan kegelisahan.

“Sekarang peminat batik Pamekasan menurun drastis. Kalau dibiarkan, bisa hilang dimakan waktu,” ujarnya lirih, Kamis (2/10/2025).

Hamim bukan sekadar perajin. Ia juga pengusaha batik yang dulu sempat menampung lulusan muda Pamekasan untuk ikut bekerja. Tapi kini, dengan penjualan yang makin seret, ia tak lagi sanggup merekrut kalangan muda untuk produktif.

Hamim masih ingat masa jaya batik Pamekasan di periode pertama kepemimpinan Bupati Kholilurrahman. Penjualan saat itu melonjak, batik Pamekasan dikenal hingga ke panggung nasional. Bahkan, batik tulis Toket sempat mencuri perhatian internasional saat tampil di New York-Indonesia Fashion Week pada 2021.

“Bahkan saya kaget ketika tahu batik kami dipakai desainer Amerika dan Eropa,” kenangnya.

Tapi selepas itu, gairah pasar kian meredup. Banyak instansi beralih memakai batik print modern untuk seragam, alih-alih produk lokal. Bagi Hamim, keputusan ini seperti menutup pintu harapan perajin kecil.

Menurut hamim, bagi warga Toket, Klampar, hingga Kowel, batik bukan sekadar sandang. Ia adalah napas kehidupan sekaligus warisan budaya yang mengikat. Setiap motif menyimpan makna, setiap warna menyiratkan harapan.

Namun di tengah derasnya batik cetak pabrikan, batik tulis terasa makin terpojok. Proses panjang dan penuh detail, kadang butuh waktu seminggu untuk selembar kain, membuat harganya tak bisa bersaing dengan batik print yang murah dan instan.

“Kalau pemerintah mau, cukup semua instansi pakai batik lokal untuk seragam. Itu sudah sangat membantu ekosistem batik Pamekasan,” kata Hamim dengan nada penuh harap.

Desa Toket selama ini dikenal sebagai surga batik. Mayoritas warganya menggantungkan hidup dari membatik, di samping bertani cabai, padi, dan tembakau. Bakat mereka sudah diakui dunia, tapi di rumah sendiri justru kerap terpinggirkan.

Hamim mengaku khawatir. Jika generasi muda enggan lagi membatik karena tak ada jaminan pasar, maka batik Pamekasan hanya akan tersisa di cerita masa lalu.

“Batik ini bukan cuma soal ekonomi. Ini soal warisan budaya. Kalau hilang, kita kehilangan identitas,” ujarnya tegas.

Kini, Hamim dan para perajin Toket menanti. Mereka menanti kebijakan nyata, bukan sekadar pujian seremonial. Sebab bagi mereka, selembar kain batik adalah harapan, agar warisan budaya Pamekasan tetap hidup, dan perut keluarga mereka tetap terisi.

Exit mobile version