• Terkini
  • Trending
  • Semua

Direktur IBS PKMKK Ingatkan Pesantren Tak Hilangkan Nilai Barokah

8 bulan lalu

RSUD Smart Pamekasan Bangun Ruang Operasi Baru dan Tambah 10 Unit Hemodialisis

18 jam lalu

Investor Asal Yordania Tertarik Kembangkan Kerja Sama Pendidikan dan Wisata di IBS PKMKK Pamekasan

1 hari lalu

Guru di Pamekasan Boleh Libur tapi Wajib Piket Bergantian

1 hari lalu

Pemkab Pamekasan Kebut Penetapan 121 Kepala Sekolah Definitif

2 hari lalu

Demam Piala Dunia 2026 Menjalar ke Pesisir Pamekasan Madura

2 hari lalu

9 Kapus di Pamekasan Masih Berstatus Plt, Pemkab Targetkan Tahun Ini Definitif

2 hari lalu

Bupati Sidak RSUD Smart, Nilai Pelayanan Sudah Baik dan Minta Evaluasi Dilakukan Berkala

3 hari lalu

1.384 Jemaah Pamekasan Raih Predikat Haji Pemkab Ajak Mereka Jadi Teladan Masyarakat

4 hari lalu

DBHCHT Pamekasan Turun 50 Persen, BLT 2026 Hanya Cukup untuk Buruh Rokok

5 hari lalu

Guru ASN Tetap Masuk Meskipun Liburan

5 hari lalu

Setengah Ons Narkoba Jerat Tiga Tersangka di Pamekasan

6 hari lalu

Pamekasan Raih Penghargaan SDM Kesehatan Terbaik se-Jawa Timur, Geser Surabaya dari Posisi Puncak

6 hari lalu
  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Periklanan
  • Login
  • Register
Kamis, Juni 25, 2026
Maduranet.com
  • Home
  • Politik
  • Bola
  • Khazanah
  • Gaya
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
Maduranet.com
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Bola
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Budaya
  • Agama
  • Olahraga
  • Daras
  • Gaya
  • Plesir
  • Kulinari
  • Editorial
Home Peristiwa Pendidikan

Direktur IBS PKMKK Ingatkan Pesantren Tak Hilangkan Nilai Barokah

Direktur IBS PKMKK: Dalam Al-Hujurat ayat 11 Allah melarang keras perbuatan saling merendahkan

oleh Ahmad Daifi Al Farrozi
22 Oktober 2025
in Pendidikan
25 1
0

Sejumlah santri IBS PKMKK saat kegiatan belajar kitab kuning di ruangan gedung setempat.

0
SHARES
255
VIEWS

PAMEKASAN, MADURANET— Direktur Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK), Achmad Muhlis, mengingatkan agar pesantren tidak kehilangan ruh dan nilai keberkahannya ditengah sorotan publik terhadap berbagai kasus yang menimpa lembaga pesantren.

Ia menginginkan bahwa barokah ilmu hanya akan hadir bila santri menjaga adab terhadap guru, bukan sebaliknya menjadi bentuk penghinaan atau pelecehan yang kini kerap muncul dalam bentuk simbolik.

“Ketakdiman dan kepatuhan santri jangan sampai meleset dari hakikatnya,” ujar Muhlis saat momen Hari Santri Nasional, Rabu (22/10/2025).

Peringatan itu disampaikan di tengah meningkatnya perbincangan publik tentang klaim perbudakan di pesantren dan sejumlah video viral, termasuk tayangan di Trans7 yang menampilkan dugaan praktik perbudakan simbolik. Salah satu yang ramai di media sosial adalah video seorang kiai yang memberikan jeruk kepada santrinya menggunakan kaki, aksi yang memicu perdebatan tentang batas antara penghormatan dan pelecehan.

Muhlis menilai fenomena tersebut tidak bisa disederhanakan sebagai “tradisi” atau “penghinaan”, melainkan perlu dikaji dari sisi nilai sufistik dan pendidikan karakter yang sejatinya menjadi ruh utama pesantren.

Ia mengutip surat Al-Hujurat ayat 11 dalam Al-Quran, bahwa Allah melarang keras perbuatan saling merendahkan.

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum lain, karena boleh jadi mereka lebih baik dari yang mengolok-olok,” ujarnya menukil ayat tersebut.

Peringatan ini, kata Muhlis, sejalan dengan hasil riset ilmiahnya bersama Moch. Cholid Wardi dan Iik Arifin Mansurnoor dalam jurnal Ulumuna (2025) berjudul “The Demise of Sufi Values in Islamic Educational Institution: Bullying in Madurese Pesantrens.”

Penelitian tersebut menemukan menurunnya nilai-nilai sufisme, seperti akhlak dan tasawuf di sejumlah pesantren di Madura, yang berimplikasi pada meningkatnya perilaku bullying antara santri dan ustaz.

Dalam riset itu, Muhlis menjelaskan bahwa struktur hierarki di pesantren dan lemahnya kontekstualisasi ajaran tasawuf dalam kehidupan sehari-hari menjadi pemicu utama munculnya perbudakan simbolik yang dibalut dalam bentuk kedisiplinan dan kepatuhan.

“Pesantren seharusnya menjadi ruang pembentukan spiritualitas dan akhlak, bukan tempat reproduksi kekerasan simbolik,” ujar Muhlis.

Ia menegaskan bahwa lemahnya integrasi nilai-nilai sufisme menyebabkan munculnya pola relasi kekuasaan yang timpang antara guru dan murid.

Tags: Bully di PesantrenHari SantriIBS PKMKKKemenagPamekasan
ShareTweetSendShareShare

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Berhenti berlangganan
Ahmad Daifi Al Farrozi

Ahmad Daifi Al Farrozi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Maduranet.com

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Navigate Site

  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
    • Pemerintahan
    • Parlementaria
  • Peristiwa
    • Hukum
    • Kriminal
    • Ekonomi
    • Agama
    • Kesehatan
  • Olahraga
    • Bola
  • Plesir
    • Budaya
    • Gaya
    • Kulinari
  • Daras
  • Editorial

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
Go to mobile version