• Terkini
  • Trending
  • Semua

Kisah 3 Guru di Pamekasan Terima Honor 200 Ribu Saat Sore Garap Sawah

1 tahun lalu

Cek Fakta: Salah, Anggaran Kacang Otok Prokopim Rp 543 Juta

7 jam lalu

Mayat Pria Ditemukan Mengering di Perbukitan Plakpak Pegantenan

13 jam lalu

Kabar Gembira, Marbot dan Muazin Masjid di Pamekasan Berpeluang Dapat Jaminan Sosial

17 jam lalu

Bupati Pamekasan Ajak Pemuda Berkreasi Melalui Kesenian dan Kebudayaan

17 jam lalu

Haji Her dan Ning Inayah Wahid Hadiri Stand Up Comedy Santri Berbicara di Pamekasan

1 hari lalu

594 Ibu Hamil di Pamekasan Alami Kekurangan Energi Kronis

1 hari lalu

Cek Fakta, Disporapar Pamekasan Tegaskan Anggaran Tisu Rp 2,41 Juta Setahun

1 hari lalu

Pembacaan Puisi Anak Yatim Iringi Pembukaan Traditional Pamekasan Culture

2 hari lalu

Dari Buruh Plafon ke Mimbar Doktor, Perjalanan Elman Duro Melawan Keterbatasan

4 hari lalu

Bupati Minta Pamekasan Tidak Bergantung Pemain Bon-bonan

4 hari lalu
Nilai SPI Pamekasan 79,4, Inspektorat Soroti Pengawasan Internal dan Sosialisasi Antikorupsi

Nilai SPI Pamekasan 79,4, Inspektorat Soroti Pengawasan Internal dan Sosialisasi Antikorupsi

5 hari lalu

Bupati Pamekasan Kholilurrahman: Santri Harus Paham Politik

5 hari lalu
  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Periklanan
  • Login
  • Register
Rabu, Oktober 28, 2026
27 °c
Pamekasan
29 ° Rab
30 ° Kam
30 ° Jum
30 ° Sab
Maduranet.com
  • Home
  • Politik
  • Bola
  • Khazanah
  • Gaya
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
Maduranet.com
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Bola
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Budaya
  • Agama
  • Olahraga
  • Daras
  • Gaya
  • Plesir
  • Kulinari
  • Editorial
Home Peristiwa Pendidikan

Kisah 3 Guru di Pamekasan Terima Honor 200 Ribu Saat Sore Garap Sawah

Bertahan mengajar meskipun honor tak cukup membiayai hidupnya

oleh Ahmad Daifi Al Farrozi
16 September 2025
in Pilihan
17 1
0
0
SHARES
177
VIEWS

PAMEKASAN, MADURANET — Tak terasa putaran waktu sudah 25 tahun. Bahrawi (47), Hanafi (50) dan Mohammad Ali (48) mengajar di Madrasah Nurul Islam, di Desa Dempo Timur, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan. Ketiganya, memulai pengabdiannya sejak tahun 2000.

Tanpa modal ijazah sarjana, ketiganya menjalani rutinitas sehari-hari. Selain mengajar di pagi hari, ketiganya melepas baju sebagai guru, menjadi petani di siang sampai sore hari.

Pilihan menjadi guru, menurut ketiganya adalah jalan jihad. Ilmu yang mereka peroleh saat menimba di salah satu pondok pesantren di Pamekasan, menjadi beban untuk diamalkan di tengah-tengah masyarakat.

“Demi mengamalkan ilmu, pagi hari saya mengajar. Kalau siang sampai sore, turun ke sawah menjadi petani,” ujar Muhammad Ali.

Setelah seperempat abad mengabdi, ketiga pria yang tinggal di Desa Sempong Barat, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, tak pernah mengharapkan honor. Namun demikian, pihak lembaga tempat ketiganya mengajar, memberinya horor Rp 200 ribu per bulan.

“Sejak awal, kami sadar bahwa mengajar di sekolah swasta bukan jalan menuju kesejahteraan. Kami ikhlas dan honor bukan tujuan kami,” imbuhnya.

Meski begitu, semangat mereka di kelas tidak pernah padam. Mereka hadir setiap hari, meski perjalanan dari rumah ke sekolah memakan waktu dan tenaga.

Keterbatasan tak menghalangi mereka menemukan kebahagiaan. Bagi ketiganya, sukses murid adalah upah yang tak ternilai. Sebagian besar mantan siswa kini bekerja sebagai guru, melanjutkan estafet pengabdian di dunia pendidikan.

“Kebahagiaan kami adalah ketika murid sukses. Itu hadiah terbesar,” ucap Ali.

Di saat para guru lain di Indonesia sibuk mengejar kesejahteraan melalui tunjangan sertifikasi, ketiganya memilih diam. Mereka sadar bahwa lulusan pesantren yang tak punya ijazah sarjana, tak akan mampu menembus dunia itu.

“Dedikasi kami tidak akan berhenti meski gaji seperti ini. Biarkan orang lain mengejar sertifikasi, kami istikamah di jalur pengabdian,” kata Ali.

Kisah tiga guru ini adalah potret nyata pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka bekerja ganda, mengajar di kelas sekaligus menggarap sawah, demi memastikan roda kehidupan terus berputar.

Bagi Mohammad Ali, Hanafi, dan Bahrawi, murid yang berhasil adalah gaji sejati, sebuah kebanggaan yang tidak bisa ditukar dengan rupiah.

“Rata-rata guru disini juga murid saya,“ pungkas Ali.

Tags: Dinas PendidikanGuruPahlawan Tanpa Tanda JasaPamekasanpendidikan
ShareTweetSendShareShare

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Berhenti berlangganan
Ahmad Daifi Al Farrozi

Ahmad Daifi Al Farrozi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Maduranet.com

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Navigate Site

  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
    • Pemerintahan
    • Parlementaria
  • Peristiwa
    • Hukum
    • Kriminal
    • Ekonomi
    • Agama
    • Kesehatan
  • Olahraga
    • Bola
  • Plesir
    • Budaya
    • Gaya
    • Kulinari
  • Daras
  • Editorial

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Not enough quota to unlock this post
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
Go to mobile version