• Terkini
  • Trending
  • Semua

Kisah 3 Guru di Pamekasan Terima Honor 200 Ribu Saat Sore Garap Sawah

9 bulan lalu

Pamekasan Raih Penghargaan dari BKN Terkait Digitalisasi Sistem Merit ASN

12 jam lalu

Bupati Pamekasan Akan Ajukan Perda Halal-Tourism

1 hari lalu

Pamekasan Targetkan Produksi Tembakau Berkualitas di Musim 2026

1 hari lalu

Bupati Pamekasan Dorong Pantai Jumiang Jadi Destinasi Wisata Halal dan Penggerak Ekonomi Masyarakat

2 hari lalu

Harga Beras dan Minyak Goreng di Pasar Kolpajung Ditemukan HET

2 hari lalu

Sebanyak 1.174 KK di Desa Ambat Tlanakan Terima Bantuan Pangan Bulog

3 hari lalu

Bupati Pamekasan Optimistis Persepam Melaju Mulus di Liga 4

3 hari lalu

Tundukkan Persipuncak Persepam Kokoh di Puncak Grup O Liga 4 Piala Presiden

3 hari lalu

Korwil MBG Pamekasan Ingin Tuduhan Negatif Kepadanya Diproses Hukum Tuntas

4 hari lalu

Akademisi Soroti Rencana Pengembangan Proyek Lapangan Gas Paus Biru

4 hari lalu

Potensi Energi Melimpah, Madura Masih Dihadapkan pada Tantangan SDM dan Kesejahteraan

4 hari lalu

Pamekasan Tanam 370 Pohon di Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia 2026

5 hari lalu
  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Periklanan
  • Login
  • Register
Rabu, Juni 10, 2026
Maduranet.com
  • Home
  • Politik
  • Bola
  • Khazanah
  • Gaya
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
Maduranet.com
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Bola
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Budaya
  • Agama
  • Olahraga
  • Daras
  • Gaya
  • Plesir
  • Kulinari
  • Editorial
Home Peristiwa Pendidikan

Kisah 3 Guru di Pamekasan Terima Honor 200 Ribu Saat Sore Garap Sawah

Bertahan mengajar meskipun honor tak cukup membiayai hidupnya

oleh Ahmad Daifi Al Farrozi
16 September 2025
in Pilihan
17 1
0
0
SHARES
175
VIEWS

PAMEKASAN, MADURANET — Tak terasa putaran waktu sudah 25 tahun. Bahrawi (47), Hanafi (50) dan Mohammad Ali (48) mengajar di Madrasah Nurul Islam, di Desa Dempo Timur, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan. Ketiganya, memulai pengabdiannya sejak tahun 2000.

Tanpa modal ijazah sarjana, ketiganya menjalani rutinitas sehari-hari. Selain mengajar di pagi hari, ketiganya melepas baju sebagai guru, menjadi petani di siang sampai sore hari.

Pilihan menjadi guru, menurut ketiganya adalah jalan jihad. Ilmu yang mereka peroleh saat menimba di salah satu pondok pesantren di Pamekasan, menjadi beban untuk diamalkan di tengah-tengah masyarakat.

“Demi mengamalkan ilmu, pagi hari saya mengajar. Kalau siang sampai sore, turun ke sawah menjadi petani,” ujar Muhammad Ali.

Setelah seperempat abad mengabdi, ketiga pria yang tinggal di Desa Sempong Barat, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, tak pernah mengharapkan honor. Namun demikian, pihak lembaga tempat ketiganya mengajar, memberinya horor Rp 200 ribu per bulan.

“Sejak awal, kami sadar bahwa mengajar di sekolah swasta bukan jalan menuju kesejahteraan. Kami ikhlas dan honor bukan tujuan kami,” imbuhnya.

Meski begitu, semangat mereka di kelas tidak pernah padam. Mereka hadir setiap hari, meski perjalanan dari rumah ke sekolah memakan waktu dan tenaga.

Keterbatasan tak menghalangi mereka menemukan kebahagiaan. Bagi ketiganya, sukses murid adalah upah yang tak ternilai. Sebagian besar mantan siswa kini bekerja sebagai guru, melanjutkan estafet pengabdian di dunia pendidikan.

“Kebahagiaan kami adalah ketika murid sukses. Itu hadiah terbesar,” ucap Ali.

Di saat para guru lain di Indonesia sibuk mengejar kesejahteraan melalui tunjangan sertifikasi, ketiganya memilih diam. Mereka sadar bahwa lulusan pesantren yang tak punya ijazah sarjana, tak akan mampu menembus dunia itu.

“Dedikasi kami tidak akan berhenti meski gaji seperti ini. Biarkan orang lain mengejar sertifikasi, kami istikamah di jalur pengabdian,” kata Ali.

Kisah tiga guru ini adalah potret nyata pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka bekerja ganda, mengajar di kelas sekaligus menggarap sawah, demi memastikan roda kehidupan terus berputar.

Bagi Mohammad Ali, Hanafi, dan Bahrawi, murid yang berhasil adalah gaji sejati, sebuah kebanggaan yang tidak bisa ditukar dengan rupiah.

“Rata-rata guru disini juga murid saya,“ pungkas Ali.

Tags: Dinas PendidikanGuruPahlawan Tanpa Tanda JasaPamekasanpendidikan
ShareTweetSendShareShare

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Berhenti berlangganan
Ahmad Daifi Al Farrozi

Ahmad Daifi Al Farrozi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Maduranet.com

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Navigate Site

  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
    • Pemerintahan
    • Parlementaria
  • Peristiwa
    • Hukum
    • Kriminal
    • Ekonomi
    • Agama
    • Kesehatan
  • Olahraga
    • Bola
  • Plesir
    • Budaya
    • Gaya
    • Kulinari
  • Daras
  • Editorial

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
Go to mobile version