• Terkini
  • Trending
  • Semua
Akademisi UIN Madura Menilai Kasus SMAN 1 Cimarga Bisa Merusak Masa Depan Bangsa

Direktur IBS PKMKK: Pendidikan Pesantren Tak Sekadar Kognisi Namun Afeksi dan Psikomotori

1 tahun lalu

Haji Her Raih CNN Indonesia Awards 2026 atas Kontribusi bagi Petani Madura

15 jam lalu

PLN Minta Maaf atas Gangguan Listrik di Pamekasan, Sebut Penyebab Harus Dipastikan di Lokasi

16 jam lalu

Dua Guru MTs Kyai Mudrikah Pamekasan Raih Juara Kompetisi Inovasi Pembelajaran

1 hari lalu

Pamekasan Finalisasi Perencanaan Program LSDP, Siapkan Penanganan Sampah dari Hulu

1 hari lalu

Tegangan Listrik Tak Stabil, Warga Pamekasan Keluhkan AC hingga Kulkas Rusak

2 hari lalu

Polres Pamekasan Larang Pengisian BBM Subsidi Pakai Jerigen dengan Barcode Kendaraan

2 hari lalu

UHC Prioritas Pamekasan Sasar Warga Desil 1-7

2 hari lalu

Pamekasan Bentuk Tim Akselerasi PAD, Bidik Optimalisasi Pajak dan Retribusi

3 hari lalu

Pemkab Sisihkan APBD Demi Pelayanan Kesehatan Gratis untuk Semua

3 hari lalu

Oréng Seppo Paḍâbuna, Oréng Ngodâ Panḍâbâna, Ketika Guru Kehilangan Kebijaksanaan dan Murid Kehilangan Kepercayaan Diri

4 hari lalu

Masyarakat Apresiasi Bupati Pamekasan, Malam Kemilau Madura Dinilai Hidupkan Budaya Lokal

4 hari lalu

Libatkan 84 Orang Binaan, Dinkes Pamekasan Gelar Festival Kesehatan Mental

4 hari lalu
  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Periklanan
  • Login
  • Register
Minggu, November 8, 2026
28 °c
Pamekasan
30 ° Ming
30 ° Sen
29 ° Sel
29 ° Rab
Maduranet.com
  • Home
  • Politik
  • Bola
  • Khazanah
  • Gaya
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
Maduranet.com
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Bola
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Budaya
  • Agama
  • Olahraga
  • Daras
  • Gaya
  • Plesir
  • Kulinari
  • Editorial
Home Peristiwa Pendidikan

Direktur IBS PKMKK: Pendidikan Pesantren Tak Sekadar Kognisi Namun Afeksi dan Psikomotori

Direktur IBS PKMKK Achmad Muhlis: Pesantren bukan ruang perbudakan, tapi sekolah ketaatan yang melahirkan keberkahan

oleh Ahmad Daifi Al Farrozi
20 Oktober 2025
in Pendidikan
17 1
0
Akademisi UIN Madura Menilai Kasus SMAN 1 Cimarga Bisa Merusak Masa Depan Bangsa

Direktur IBS PKMKK Dr. Achmad Muhlis

0
SHARES
178
VIEWS

PAMEKASAN, MADURANET — Di tengah perbincangan publik tentang praktik pendidikan di pesantren, Direktur IBS PKMKK Achmad Muhlis menegaskan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan karakter paling lengkap di Indonesia. Ia menilai tudingan yang menyamakan sistem pesantren dengan bentuk perbudakan adalah kekeliruan memahami esensi pendidikan Islam.

Ia yang juga merupakan Senat Universitas IsIam Negeri (UIN) Madura menjelaskan, dalam diri manusia terdapat tiga aspek utama: kognitif, psikomotorik, dan afektif, yang semua itu ditempa oleh pesantren 24 jam.

“Kalau hanya berbicara soal ilmu pengetahuan, kita bisa belajar di mana saja. Namun di pesantren, yang dicari bukan sekadar ilmu, melainkan barokah yang lahir dari ketaatan kepada guru dan penulis kitab,”ujar Muhlis di wawancara wartawan di ruang Senat, akhir pekan lalu.

Muhlis menjelaskan bahwa konsep ketaatan di pesantren bukan bentuk kepasrahan tanpa berpikir, melainkan sistem pendidikan karakter yang terintegrasi.

“Dalam ketaatan itu, pesantren sedang membentuk karakter tanggung jawab, kompeten, dan ulet,” katanya.

Ia mencontohkan tiga tahapan pendidikan ketaatan yang dikenal di pesantren: sam’an (mendengar tanpa tindakan), sam’an wa tha’atan (mendengar dan melaksanakan perintah), serta sam’an wa tha’atan wa khidmatan (melaksanakan dengan hati yang senang).

“Tahapan terakhir inilah yang melahirkan barokah. Santri mengerjakan tugas dengan kesadaran dan keikhlasan, bukan keterpaksaan,” tutur Muhlis.

Pernyataan Muhlis sejalan dengan hasil riset akademik tentang pendidikan karakter di pesantren. Dalam jurnal Character Education: Its Implementation at Islamic Boarding School karya Imam Fauzi dkk. (2021, Jurnal Al-IdarahUIN Raden Intan Lampung), dijelaskan bahwa pendidikan karakter di pesantren mencakup tiga pilar utama: keteladanan (exemplary), pembiasaan (habituation), dan bimbingan/nasihat (guidance). Ketiganya berperan menyeimbangkan aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif sebagaimana disebut Muhlis.

Penelitian lain oleh Try Heni Aprillia (2023) dalam Pesantren and Tradition: Study of Ta’dzim Affiliates in Character Education Al-Ghazali and Thomas Lickona menegaskan bahwa nilai ta’dzim atau penghormatan kepada guru merupakan unsur paling khas dalam pendidikan karakter pesantren. Melalui penghormatan ini, santri belajar ketaatan yang beradab, bukan tunduk tanpa kesadaran.

Muhlis menegaskan bahwa barokah bukan sesuatu yang dapat diberikan manusia, melainkan anugerah dari Allah.

“Di dunia pesantren, esensinya adalah mencari barokah. Ketaatan kepada guru hanyalah jalan untuk membentuk keikhlasan hati. Itulah pendidikan sejati,” katanya.

Pernyataan tersebut memiliki dasar spiritual yang juga diangkat dalam riset akademik. Dalam Artikel Of Character Education for Cosmological and Ecological Awareness in Pesantren oleh Evita  Nur (2021, Edukasia Islamika UIN Gus Dur), dijelaskan bahwa pendidikan pesantren tidak sekadar membentuk moral sosial, tetapi juga kesadaran spiritual dan kosmologis melalui praktik ikhlas, khidmah, dan penghormatan terhadap ilmu.

Menanggapi tudingan bahwa sistem di pesantren menyerupai bentuk perbudakan, Muhlis menilai hal itu muncul karena salah tafsir terhadap nilai ketaatan.

“Kalau kita melihat sejarah bangsa, banyak tokoh besar lahir dari rahim pesantren. Mereka tumbuh dengan karakter kuat dan kearifan tinggi. Jadi, apakah pesantren tempat perbudakan, atau sekolah ketaatan yang melahirkan keberkahan?” ujarnya retoris.a

Pandangan ini sejalan dengan riset Y Rahman (2022) dalam Religious-Nationalism Based Character Education in Traditional Pesantren (Tadris Journal, IAIN Madura), yang menunjukkan bahwa pesantren berperan penting dalam membangun karakter religius sekaligus nasionalis melalui tradisi ketaatan, kesederhanaan, dan keikhlasan.

Pada akhirnya, konsep barokah yang dikemukakan Muhlis menegaskan perbedaan mendasar antara pesantren dan lembaga pendidikan umum. Pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga tempat mendidik hati dan perilaku.

“Inti dari pendidikan pesantren adalah mencari barokah, dan barokah itu, sejatinya, adalah jalan menuju kemuliaan,”pungkas Muhlis.

Tags: IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK)Perbudakan di pesantrenPesantrenUIN Madura
ShareTweetSendShareShare

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Berhenti berlangganan
Ahmad Daifi Al Farrozi

Ahmad Daifi Al Farrozi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Maduranet.com

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Navigate Site

  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
    • Pemerintahan
    • Parlementaria
  • Peristiwa
    • Hukum
    • Kriminal
    • Ekonomi
    • Agama
    • Kesehatan
  • Olahraga
    • Bola
  • Plesir
    • Budaya
    • Gaya
    • Kulinari
  • Daras
  • Editorial

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Go to mobile version