PAMEKASAN, MADURANET — Di tengah perbincangan publik tentang praktik pendidikan di pesantren, Direktur IBS PKMKK Achmad Muhlis menegaskan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan karakter paling lengkap di Indonesia. Ia menilai tudingan yang menyamakan sistem pesantren dengan bentuk perbudakan adalah kekeliruan memahami esensi pendidikan Islam.
Ia yang juga merupakan Senat Universitas IsIam Negeri (UIN) Madura menjelaskan, dalam diri manusia terdapat tiga aspek utama: kognitif, psikomotorik, dan afektif, yang semua itu ditempa oleh pesantren 24 jam.
“Kalau hanya berbicara soal ilmu pengetahuan, kita bisa belajar di mana saja. Namun di pesantren, yang dicari bukan sekadar ilmu, melainkan barokah yang lahir dari ketaatan kepada guru dan penulis kitab,”ujar Muhlis di wawancara wartawan di ruang Senat, akhir pekan lalu.
Muhlis menjelaskan bahwa konsep ketaatan di pesantren bukan bentuk kepasrahan tanpa berpikir, melainkan sistem pendidikan karakter yang terintegrasi.
“Dalam ketaatan itu, pesantren sedang membentuk karakter tanggung jawab, kompeten, dan ulet,” katanya.
Ia mencontohkan tiga tahapan pendidikan ketaatan yang dikenal di pesantren: sam’an (mendengar tanpa tindakan), sam’an wa tha’atan (mendengar dan melaksanakan perintah), serta sam’an wa tha’atan wa khidmatan (melaksanakan dengan hati yang senang).
“Tahapan terakhir inilah yang melahirkan barokah. Santri mengerjakan tugas dengan kesadaran dan keikhlasan, bukan keterpaksaan,” tutur Muhlis.
Pernyataan Muhlis sejalan dengan hasil riset akademik tentang pendidikan karakter di pesantren. Dalam jurnal Character Education: Its Implementation at Islamic Boarding School karya Imam Fauzi dkk. (2021, Jurnal Al-IdarahUIN Raden Intan Lampung), dijelaskan bahwa pendidikan karakter di pesantren mencakup tiga pilar utama: keteladanan (exemplary), pembiasaan (habituation), dan bimbingan/nasihat (guidance). Ketiganya berperan menyeimbangkan aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif sebagaimana disebut Muhlis.
Penelitian lain oleh Try Heni Aprillia (2023) dalam Pesantren and Tradition: Study of Ta’dzim Affiliates in Character Education Al-Ghazali and Thomas Lickona menegaskan bahwa nilai ta’dzim atau penghormatan kepada guru merupakan unsur paling khas dalam pendidikan karakter pesantren. Melalui penghormatan ini, santri belajar ketaatan yang beradab, bukan tunduk tanpa kesadaran.
Muhlis menegaskan bahwa barokah bukan sesuatu yang dapat diberikan manusia, melainkan anugerah dari Allah.
“Di dunia pesantren, esensinya adalah mencari barokah. Ketaatan kepada guru hanyalah jalan untuk membentuk keikhlasan hati. Itulah pendidikan sejati,” katanya.
Pernyataan tersebut memiliki dasar spiritual yang juga diangkat dalam riset akademik. Dalam Artikel Of Character Education for Cosmological and Ecological Awareness in Pesantren oleh Evita Nur (2021, Edukasia Islamika UIN Gus Dur), dijelaskan bahwa pendidikan pesantren tidak sekadar membentuk moral sosial, tetapi juga kesadaran spiritual dan kosmologis melalui praktik ikhlas, khidmah, dan penghormatan terhadap ilmu.
Menanggapi tudingan bahwa sistem di pesantren menyerupai bentuk perbudakan, Muhlis menilai hal itu muncul karena salah tafsir terhadap nilai ketaatan.
“Kalau kita melihat sejarah bangsa, banyak tokoh besar lahir dari rahim pesantren. Mereka tumbuh dengan karakter kuat dan kearifan tinggi. Jadi, apakah pesantren tempat perbudakan, atau sekolah ketaatan yang melahirkan keberkahan?” ujarnya retoris.a
Pandangan ini sejalan dengan riset Y Rahman (2022) dalam Religious-Nationalism Based Character Education in Traditional Pesantren (Tadris Journal, IAIN Madura), yang menunjukkan bahwa pesantren berperan penting dalam membangun karakter religius sekaligus nasionalis melalui tradisi ketaatan, kesederhanaan, dan keikhlasan.
Pada akhirnya, konsep barokah yang dikemukakan Muhlis menegaskan perbedaan mendasar antara pesantren dan lembaga pendidikan umum. Pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga tempat mendidik hati dan perilaku.
“Inti dari pendidikan pesantren adalah mencari barokah, dan barokah itu, sejatinya, adalah jalan menuju kemuliaan,”pungkas Muhlis.













