PAMEKASAN, MADURANET – Kepercayaan masyarakat terhadap Islamic Boarding School (IBS) Padepokan Kiyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) Desa Lancar, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, terus tumbuh. Untuk tahun ajaran 2026-2027, sudah ada 46 calon santri yang sudah mendaftar lebih awal.
Para santri tersebut tidak hanya berasal dari Madura saja, namun berasal dari berbagai daerah, seperti Surabaya, Malang, Sidoarjo dan Bali.
“Untuk tahun pelajaran tahun depan, sudah ada yang order tahun ini sebanyak 46 calon santri,” ujar Achmad Muhlis, Direktur IBS PKMKK, saat menggelar silaturahmi dengan para wali santri, Ahad (27/7/2024).
Pria yang juga dosen UIN Madura ini menambahkan, adanya minat masyarakat yang lebih awal mendapatkan anaknya ke IBS PKMKK merupakan kepercayaan mereka kepada lembaga yang dirintis 4 tahun yang lalu. Jika masyarakat tidak percaya, mustahil mereka akan mendaftarkan anaknya lebih awal.
“Semua santri yang ada saat ini, semuanya mendaftar lebih awal, bukan kami menunggu untuk mendapatkan santri. Tahun ini, ada 80 lebih santri yang kami tolak,” imbuhnya.
Muhlis menceritakan pengalamannya, ada orang yang datang langsung ingin memondokkan anaknya tanpa mendaftar lebih awal, orang tersebut langsung ditolak. Alasannya karena pihaknya membatasi jumlah santri yang harus disesuaikan dengan fasilitas yang ada.
“Banyak yang datang langsung ingin mondok, tapi mohon maaf kami tolak karena kami membatasi,” ungkapnya.
Di IBS PKMKK, santri mendapatkan fasilitas yang cukup memadai. Mulai dari asrama, kamar mandi, ruang belajar, fasilitas pembelajaran, konsumsi, tempat olahraga, tempat ibadah. Bahkan ruang belajar dilengkapi dengan AC, iceboard, smart tv, internet, yang membuat nyaman para santri dalam belajar.
“Fasilitas kami maksimalkan, meskipun biaya pendidikan tidak dimaksimalkan. Anak yatim kami tampung, anak orang miskin juga kami tampung, agar mereka sama-sama memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang memadai,” ungkapnya.
Muhlis menegaskan, dalam mendirikan IBS PKMKK pihaknya tidak berorientasi kepada keuntungan finansial. Sebab, jika pendidikan mahal, orang miskin dan anak yatim susah untuk bisa mengakses pendidikan berkualitas.
“Mohon doanya, semoga kami bisa seperti pesantren yang fasilitasnya bagus tapi mahal, sedangkan di IBS PKMKK fasilitasnya bagus tapi murah,” pungkasnya.













