PAMEKASAN, MADURANET – Pasar Rakyat atau lebih dikenal dengan sebutan Pasar Malam atau Sarmalem dalam bahasa Madura bertempat Lapangan Sedandang, Jalan Kemayoran, Kelurahan Barurambat Kota, Kabupaten Pamekasan, bukan sekadar tempat berjualan dan mencari hiburan. Kegiatan tersebut memiliki sejarah panjang yang disebut telah berlangsung sejak 1982.
Danramil Kota Pamekasan, Joko Wulyo yang juga menjadi koordinator Pasar Rakyat mengatakan, kegiatan tersebut awalnya berkaitan erat dengan tradisi masyarakat Pamekasan, saat pelaksanaan “Gubeng” karapan sapi.
“Ini sudah 44 tahun berlalu, sebenarnya tahun 82 sudah mulai digelar Sarmalem ini,” kata Joko saat ditemui Maduranet di lokasi Pasar Rakyat, Kamis (17/9/2026).
Menurut dia, informasi mengenai awal penyelenggaraan tersebut, juga diperoleh dari para pedagang yang telah mengikuti kegiatan itu sejak puluhan tahun lalu. Mereka menceritakan bahwa sejak 1982, Sarmalem telah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat di kawasan tersebut.
Joko menyebut, pada masa itu karapan sapi Gubeng menjadi salah satu kegiatan yang menarik banyak orang datang ke Pamekasan. Saat perlombaan berlangsung, masyarakat yang menunggu waktu perlombaan, membutuhkan ruang untuk berbelanja, makan, sekaligus mendapatkan hiburan.
“Dulu kan ada kerapan sapi Gubeng di stadion. Nah, untuk menunggu, di sini ada pasar, karena kegiatannya itu lumayan lama. Dalam sejarah alur ceritanya dibukanya itu sebenarnya,” ujarnya.
Joko menjelaskan, Pasar Rakyat kemudian berkembang menjadi ruang hiburan masyarakat. Kehadirannya tidak hanya berkaitan dengan aktivitas perdagangan, tetapi juga menjadi bagian dari suasana perayaan dan tradisi masyarakat Pamekasan.
Joko mengatakan, penyelenggaraan Pasar Sarmalem juga berkaitan dengan momentum perayaan kemerdekaan dan masa liburan santri. Karena itu, kegiatan tersebut menjadi salah satu hiburan yang dinantikan masyarakat.
“Pusat hiburan masyarakat Pamekasan. Ya, tempo dulu lah,” katanya.
Konsep Pasar Rakyat saat ini pun berkembang. Selain menyediakan wahana permainan, lokasi tersebut juga diisi berbagai lapak makanan dan pedagang dari sejumlah daerah.

Joko menyebut, terdapat dua titik wahana hiburan, yakni di bagian utara dan selatan area pasar. Sementara itu, pedagang yang terdaftar mencapai 427 pelaku usaha.
“Kalau yang terdaftar itu 427,” ujarnya.
Sejumlah pedagang makanan bahkan datang dari luar Jawa. Joko menyebut terdapat pedagang dari Padang dan Jambi, sementara pedagang dari berbagai wilayah di Jawa juga ikut membuka lapak.
Tahun ini, Sarmalem dibuka mulai 15 September hingga 25 Oktober. Saat ditemui, tingkat kesiapan lokasi disebut telah mencapai sekitar 95 persen dan sebagian wahana sudah mulai beroperasi.
Menurut Joko, keberadaan pedagang dari luar daerah turut membawa perputaran uang masuk ke Pamekasan. Pengunjung yang datang juga tidak hanya berasal dari Kabupaten Pamekasan, tetapi dari sejumlah kabupaten lain di Madura.
“Yang belanja di sini juga bukan dari Pamekasan saja, dari Sumenep banyak, dari Sampang juga banyak, sampai dengan Bangkalan pun ke sini,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, terutama pelaku usaha kecil dan pedagang kaki lima yang mendapatkan ruang untuk mencari penghasilan.
“Di samping untuk acara ini itu memang untuk pertumbuhan ekonomi lah. Ya otomatis orang jauh-jauh belanja ke sini itu juga untuk masyarakat Pamekasan,” ujar Joko.
Pengelola juga tidak membatasi pedagang berdasarkan asal daerah. Menurut Joko, seluruh pedagang diberikan kesempatan untuk berjualan dan ditempatkan sesuai ketersediaan lokasi.
Ia mengatakan, pengelompokan pedagang berdasarkan daerah asal justru dikhawatirkan menimbulkan sekat antarpedagang.
“Jadi kalau kita pengkhususan pengelompokan gitu nanti timbulnya kesukuan. Jadi kita bebas, di sini-sini sudah campur,” katanya.
Joko mengatakan, pedagang kecil yang belum mendapatkan tempat, juga akan diupayakan memperoleh ruang. Menurut dia, Sarmalem sejak awal tidak hanya dipandang sebagai tempat hiburan, tetapi juga sebagai ruang bagi masyarakat untuk mencari nafkah.
“Yang penting mereka sabar saja, pasti dapat tempat. Kita wadahi, kasihan. Mereka nyari nafkah kecil-kecil yang penting dapat,” ujarnya.
Sarmalem kini menjadi bagian dari tradisi hiburan masyarakat Pamekasan yang terus beradaptasi. Dari ruang pendukung kerapan sapi dan hiburan masyarakat pada masa lalu, kegiatan tersebut berkembang menjadi tempat yang mempertemukan pedagang, pelaku usaha, wahana hiburan, dan pengunjung dari berbagai daerah.













