PAMEKASAN, MADURANET – Petani tembakau di Kabupaten Pamekasan merasakan ketidakadilan akhir-akhir ini. Harga tembakau di sawah, tegal dan gunung, mengalami potongan harga sepihak dari pedagang. Potongan harga itu memcapai 10 persen dari kesepakatan harga awal.
Salah satu petani asal Desa Murtajih, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan menjelaskan, harga tembakau miliknya sudah terjual ke pedagang Rp 10 juta. Namun, saat tembakau hendak dipanen, pedagang mengurangi pembayaran sebesar Rp 1 juta.
“Di awal hanya bayar uang tanda jadi Rp 1 juta. Saat mau dipanen, pedagangnya melunasi Rp 8 juta. Kena potong Rp 1 juta,” kata Erfan, Senin (22/9/2025).
Erfan menambahkan, alasan pedagang memotong harga karena berat tembakau setelah dirajang, meleset dari prediksi. Satu petak biasanya dapat 1 kwintal, turun hanya 800 kilo.
“Alasan pedagang karena berat tembakau tahun ini beda setelah sering kena hujan. Daunnya lebih tipis dan aromanya tidak sebagus tahun kemarin,” imbuhnya.
Salah satu pedagang tembakau basah, Ahmad asal Desa Kertagena Tengah, Kecamatan Kadur membenarkan soal berkurangnya berat timbangan tembakau tahun ini. Namun, dirinya tidak sampai memotong harga ke petani. Alasannya, karena petani dirugikan dan praktik itu dianggap haram.
“Kalau sudah jadi Rp 5 juta, saya tidak berani motong harga seenaknya. Kasihan petani dan itu tidak berkah bagi kita,” kata Ahmad.
Ahmad sendiri, akhir-akhir ini mengurangi tawaran harga tembakau petani. Faktanya, berat timbangan jauh berkurang karena pola tanam tembakau tahun ini berbeda. Petani sudah tidak menyiram tembakau seperti dulu, kemudian ditambah kehujanan.
“Kalau dulu tembakau disiram satu-satu. Sekarang langsung diairi sampai bidangan tanah basah semua agar tidak usah menyiram dalam jangka waktu lama. Ini berdampak kepada ketebalan daun tembakau,” ungkap Ahmad.
Fenomena semacam ini, sudah lumrah bagi petani tembakau, baik yang ada di sawah, di tegal ataupun di gunung. Oleh sebab itu, tidak ada pengaruhnya ketika tembakau sawah diopolos dengan tembakau tegal atau tembakau gunung.
“Kalaupun tembakau sawah dioplos dengan tembakau gunung, secara timbangan tidak berpengar. Hanya corak warna dan aroma saja yang berbeda. Dan ini yang sedikit mengangkat harga tembakau,” tegas Ahmad.













