PAMEKASAN, MADURANET – Garam, yang selama ini identik dengan Madura, kembali menjadi perbincangan. Di tengah hujan yang sempat mengguyur empat kabupaten, harga garam di Pamekasan memang naik. Namun, kenaikan ini tak membawa senyum lebar bagi petani.
“Hanya seratus ribu kenaikan harga garam,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pamekasan, Abdul Fata, Kamis (28/8/2025).
Kenaikan yang dimaksud, naik 100 ribu per ton. Kenaikan ini terjadi sejak 20 Agustus 2025 lalu. Tetapi, angka ini dianggap jauh dari harapan petani, jika dibandingkan situasi dua tahun lalu.
“Kondisi sekarang sebenarnya mirip dengan tahun 2023. Waktu itu cuaca juga sempat ekstrem, tetapi harga garam mencapai Rp5,5 juta per ton,” ujar Fata.
Pada 2023, produksi garam Pamekasan mencapai 100.024 ton. Stok melimpah, namun harga tetap tinggi. Ironisnya, kini produksi justru rendah karena panen baru berlangsung tiga sampai empat kali sebelum hujan turun.
“Kenaikan harga sekarang tidak signifikan. Kasihan petani, mereka berharap ini jadi momentum perbaikan bagi ekonomi mereka,” imbuhnya.
Menurut Fata, ketidak pastian harga membuat petani gamang. Ia menegaskan perlunya kebijakan yang berpihak.
“Harus ada penetapan harga pokok garam agar stabil. Jangan sampai Madura yang disebut Pulau Garam, tapi petaninya tak ada yang memperhatikan kesejahteraannya,” tegasnya.
Fata mengungkapkan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan DKP Jawa Timur dan pusat untuk membahas solusi jangka panjang. Salah satunya, menetapkan harga dasar garam.
“Pemerintah harus membuat kajian serius. Kalau tidak, setiap tahun cerita ini akan berulang,” ujarnya.
Mohammad Dikrih, petani garam asal Desa Lembung, Galis, mengaku sempat rugi karena jelang panen, garamnya terguyur hujan. Meski kini harga saat ini ada sedikit kenaikan. Beban biaya produksi tak ikut turun.
“Kami senang ada kenaikan, tapi seharusnya bisa lebih. Kami hanya ingin cuaca stabil dan harga pantas,” katanya.
Julukan Pulau Garam seakan kontras dengan realitas di lapangan. Petani tetap harus berjibaku dengan cuaca, modal, dan pasar yang tak menentu.
“Konsentrasi kami memang ke petani, karena mereka ujung tombak. Tapi tanpa regulasi yang jelas, percuma,” ucap Fata.
Madura punya sejarah panjang sebagai penghasil garam. Namun, hingga kini, mereka masih menunggu satu hal, yaitu kepastian yang bisa menjamin kesejahteraan.
“Garam ini sudah jadi identitas. Tapi jangan hanya jadi identitas, harus bisa jadi sumber hidup layak,” pungkasnya.













