PAMEKASAN, MADURANET – Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, mengalami kekosongan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite, Senin (3/8/2026). Akibatnya, pengendara roda dua maupun roda empat terpaksa kembali dan sebagian beralih ke Pertamax.
Pantauan di SPBU Pertamina 54.693.02 atau SPBU Asri di Jalan Trunojoyo, Pamekasan, sementara dispenser Pertalite tidak dapat melayani pembelian karena stok habis. Petugas SPBU, Zainal, mengatakan kekosongan bukan disebabkan berkurangnya kuota, melainkan keterlambatan distribusi dari Terminal BBM Tanjung Perak, Surabaya.
“Kuotanya tidak berkurang. Masalahnya hanya pengiriman yang sering terlambat,” kata Zainal.
Ia menjelaskan, sebelumnya pasokan Pertalite dikirim dari Terminal BBM Camplong, Kabupaten Sampang, sehingga distribusi lebih cepat karena jaraknya lebih dekat.
“Sekarang kiriman harus dari Perak, Surabaya. Tadi pagi memang ada kiriman, tetapi itu sebenarnya jadwal pengiriman hari Sabtu,” ujarnya.
Untuk alasan perubahan jalur distribusi tersebut, Zainal mengaku tidak tau menau hal yang terjadi. Menurutnya, saat masih distribusi dari Camplong Sampang, semuanya normal.
Kondisi itu dikeluhkan masyarakat. Yeni (37), warga Kelurahan Bugih, mengaku terpaksa membeli Pertamax setelah berkeliling ke sejumlah SPBU di kawasan Kota Pamekasan namun tidak menemukan Pertalite.
“Tidak adanya Pertalite ini sangat berat bagi kami karena menambah pengeluaran. Mau tidak mau saya isi Pertamax, masa motornya didorong,” ujarnya sambil tersenyum.
Menurut Yeni, sudah tiga hari terakhir dirinya kesulitan mendapatkan Pertalite.
“Tentu ini sangat berpengaruh bagi masyarakat menengah ke bawah. Kami berharap pemerintah segera mengatasi persoalan ini. Kalau bisa harga BBM juga kembali normal,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Hambali (50), warga Kecamatan Pademawu. Ia berharap distribusi Pertalite kembali lancar agar aktivitas ekonomi masyarakat tidak terganggu.
“Kami berharap pasokan kembali normal setiap hari supaya aktivitas masyarakat tidak tersendat. Kasihan masyarakat kecil, karena bahan bakar ini menjadi penunjang utama untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tandas dia.













