PAMEKASAN, MADURANET – Kasus stunting di Kabupaten Pamekasan masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Berdasarkan data terbaru, angka stunting di Pamekasan mencapai 1.880 kasus.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Pamekasan, Munapik menjelaskan, stunting merupakan ancaman besar bagi kualitas generasi mendatang jika tidak ditangani secara serius.
“Faktor utama yang membuat stunting menjadi masalah besar adalah dampaknya terhadap kualitas generasi yang akan datang, kalau tidak ditangani secara benar,” ujarnya, Kamis (21/8/2025).
Munafik menambahkan, berdasarkan SSGI (Survei Status Gizi Indonesia), angka prevalensi stunting di Pamekasan menunjukkan fluktuasi dalam tiga tahun terakhir.
“Untuk di Pamekasan berdasarkan SSGI, tahun 2022 berada di angka 38,1%, 2023: 8,1% dan di 2024: 22,10%. Kalau angka riilnya sekarang, ada 1.880 anak yang mengalami stunting,” tambahnya.
Untuk menekan angka stunting, kata Munapik, pemerintah terus menggencarkan program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang menjadi salah satu pendorong penanganan stunting di Pamekasan. Namun, ia mengakui masih ada kendala besar, yakni rendahnya kesadaran masyarakat.
“Kendala paling besar adalah kesadaran masyarakat. Masih banyak anak muda menikah di bawah umur 19 tahun. Indikatornya jelas, masih banyak permohonan DISKA (Dispensasi Nikah) yang masuk ke pengadilan,” ungkapnya.
Munapik mengungkapkan, pihaknya terus melakukan penanganan agar angka tersebut tidak mengalami kenaikan.
“Kalau berbicara tentang penanganan dari DP3AP2KB, sifatnya bantuan tidak langsung. Seperti dalam bentuk sosialisasi. Bantuan langsungnya di Dinkes berupa pemberian makanan bergizi seperti susu dan lain-lain,“ pungkas Munapik.













