• Terkini
  • Trending
  • Semua
Kepergian Sang Muharrik

Kepergian Sang Muharrik

11 bulan lalu
Upacara Kemerdekaan RI Awali Pembelian Tembakau Bawang Mas

Bos Bawang Mas Haji Her Apresiasi Karya Buruh

13 jam lalu

Kepala Sekolah Rakyat Pamekasan Klaim Tindak Lanjut Evaluasi BPKP Sudah Tuntas

14 jam lalu
Sekolah Rakyat Pamekasan Usung Pembelajaran Inklusif Berbasis STEAM

Sekolah Rakyat Pamekasan Kekosongan Guru Agama dan Kelebihan Tenaga Kebersihan

1 hari lalu

Dishub Pamekasan: Fungsi Stiker Parkir Berlangganan Bebas Parkir Bersyarat

1 hari lalu
61 Persen Pemilik Dapur MBG Belum Daftarkan Karyawan ke BPJS Ketenagakerjaan

BPJS Ketenagakerjaan Sasar Pesantren Sebagai Peserta

2 hari lalu

Minta Keadilan Pengusaha Rokok Madura Dorong Pemberlakuan SKM Golongan III

2 hari lalu

Tiga Desa Diproyeksikan Jadi Kampung Nelayan Merah Putih di Kabupaten Pamekasan

2 hari lalu

Pemkab Pamekasan Serap Aspirasi Pengusaha Tembakau soal Cukai SKM Golongan III

3 hari lalu

BPJS Ketenagakerjaan Ancam Laporkan Pengusaha Pamekasan ke Kejaksaan

4 hari lalu

BPJS Ketenagakerjaan Temui Bupati Pamekasan, Bahas Strategi Kejar Target Kepesertaan

4 hari lalu

Polisi Patroli SPBU di Pamekasan, Cegah Penimbunan BBM

5 hari lalu

Dekopinda Pamekasan Siap Dampingi KDKMP, Pembangunan Capai 95 Persen

5 hari lalu
  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Periklanan
  • Login
  • Register
Sabtu, Mei 2, 2026
Maduranet.com
  • Home
  • Politik
  • Bola
  • Khazanah
  • Gaya
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
Maduranet.com
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Bola
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Budaya
  • Agama
  • Olahraga
  • Daras
  • Gaya
  • Plesir
  • Kulinari
  • Editorial
Home Daras

Kepergian Sang Muharrik

oleh Taufiqur Rahman
16 Juni 2025
in Daras
32 1
0
Kepergian Sang Muharrik

KH. Taufik Hasyim, Ketua PCNU Pamekasan

0
SHARES
333
VIEWS

MADURANET – Pukul 02.48 WIB Sabtu dini hari, saya menonton tayangan Youtube kegiatan pelantikan ISNU se-kecamatan Pamekasan. Saya tak bisa hadir ke acara tersebut karena sedang perjalanan pulang dari Yogyakarta. Ketua PCNU Pamekasan KH. Taufik Hasyim memberikan sambutan tampil dengan pakaian sarung putih, kemeja putih dibalut jas berwarna gelap dan berkemeja hitam.

Dalam sambutannya, Kiai Taufik menyinggung tentang posisi peradaban Islam yang berada di tengah-tengah peradaban barat (Romawi) dan peradaban timur (Persia). Dua peradaban ini sama-sama luar biasa, namun keduanya minim ahlak. Di situlah Rasulullah diutus sebagai solusi dari dua peradaban besar.

Misi peradaban yang dilandasi ahlak dan ilmu itu, yang harus dibawa oleh sahabat-sahabat PAC ISNU se-Pamekasan. Pesan Kiai Taufik, singkat padat dan “daging” semua.

Tiba-tiba, sekitar pukul 06.17 WIB, notifikasi voice di grup whatsapp PCNU Pamekasan dari KH. Ihya’uddin Yasin, Katib Syuriah PCNU Pamekasan mengabarkan bahwa Kiai Taufik bersama keluarganya, wafat dalam kecelakaan di Tol Pasuruan Probolinggo. Kabar ini seperti petir menyambar. Saya terdiam dan tak mampu menahan tetesan air mata karena kesedian yang mendalam. Saya belum percaya bahwa beliau betul-betul wafat dalam satu peristiwa bersama dengan istrinya.

Wafatnya Kiai Taufik betul-betul menjadikan Kabupaten Pamekasan dan Jawa Timur kehilangan sosok ulama muda yang visioner. Kiai Taufik telah membangun pondasi organisasi NU yang kuat untuk memberdayakan umat sebagai tanggungjawabnya (ri’ayatul ummah).

Keraguan Sosok Pemimpin

Tahun 2015, menjelang Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama Pamekasan, saya diajak oleh para pemuda aktivis NU bertemu untuk mencari sosok pemimpin NU yang akan datang. Muncullah nama Kiai Taufik, yang sebelumnya belum pernah muncul ke permukaan, ataupun pernah aktif sebagai pengurus di Cabang NU. Sepengetahuan saya, Kiai Taufik pernah menjadi peserta Pelatikan Kader Penggerak (PKP) Ranting di pondok pesantren asuhan Ketua MUI Pamekasan. Di luar itu, saya tak mengenal beliau di aktivitas NU.

Sosok Kiai Taufik tiba-tiba menjadi kuat sebagai calon Ketua PCNU Pamekasan. Dukungan ulama sepuh ia genggam, sekaligus aksi ‘gerilya’ aktivis muda NU ke ranting-ranting untuk menyatukan suara kepadanya. Di Konfercab, Kiai Taufik menang dengan mulus mengalahkan KH. Ihya’uddin Yasin. Sorban merah dan jaz abu-abu yang ia kenakan, menjadi simbol kemenangannya.

Banyak pihak yang menyangsikan tentang kemampuan Kiai Taufik untuk memimpin NU Pamekasan. Tentu dengan berbagai alasan, seperti minimnya pengalaman di NU dan jejaring di NU. Namun, perlahan tapi pasti, Kiai Taufik yang secara geneologis masih bersambung dengan pendiri NU Pamekasan, mampu memberikan jawaban atas keraguan banyak pihak. Sebagai ketua NU paling muda di Jawa Timur, Kiai Taufik melangkah dengan penuh keyakinan meskipun dibayangi keraguan.

Dari mana beliau memulai menata NU? Saya sebagai Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya (Lakpesdam) NU, sering menyampaikan bahwa modal dasar untuk menggerakkan NU adalah sumber daya manusia NU. Atas masukan itulah, beliau bekerja keras untuk menata orgaisasi NU dengan memproduk kader. Maka, kaderisasi menjadi salah satu yang beliau prioritaskan.

Sayapun memulai kaderisasi dari wilayah utara Pamekasan, tepatnya di Kecamatan Pasean. Mengapa Kiai Taufik meminta Pantura sebagai sasaran utama produksi kader, karena Pantura merupakan titik paling lemah untuk mengembangkan NU. Banyak kiai NU yang sudah mengalami disorientasi, anak-anak orang NU yang tak peduli kepada NU. Bahkan banyak orang NU dan anak-anak NU yang lebih bangga menjadi anggota FPI.

Ini tugas berat, namun harus kami terjang. Kaderisasi berjalan tidak begitu mulus. Mengapa? Maindset orang NU ketika itu, hadir ke dalam forum-forum NU pasti akan dapat bayaran, bukan memberikan sumbangan. Hampir tidak ada bedanya antar forum PKB dengan forumnya NU. Tantangan ini kami jawab dengan separuh memberikan subsidi kepada peserta. Itupun masih banyak peserta yang hilang secara misterius.

Produk kaderisasi itu mulai menuai buahnya. Kecamatan Pasean yang selama kurun waktu 25 tahun hampir sepi kegiatan NU, mendadak menjadi salah satu kekuatan NU Pantura. MWC bergerak hingga ke tingkat ranting dan anak ranting, produk dari Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU).

Melihat output kaderisasi dengan lahirnya kader-kader militan, semakin meneguhkan Kiai Taufik untuk menjadikan kaderisasi sebagai pilar utama untuk menggerakkan NU. Secara bergantian dan bergiliran, produksi kader laki-laki dan perempuan terus melipah. Hingga di ujung kepengurusan pertama Kiai Taufik, saya dan tim kaderisasi mampu memproduk kader 1.000 orang lebih.

Dalam periode pertama kepengurusan Kiai Taufik, 13 kecamatan sudah diisi oleh kader-kader militan NU yang mampu menggerakkan struktur dan kultur NU. Buahnya, Kiai Taufik terpilih secara aklamasi untuk periode keduanya.

Pembela Aswaja dan NKRI

Banyak sorotan dari berbagai kalangan tentang eksistensi Kiai Taufik di media sosial. Ia tak segan ‘melawan’ pihak-pihak yang secara terang-terangan menyudutkan NU, Ulama NU, Aswaja dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Beliau tidak segan terlibat diskusi sengit di media sosial. Bahkan beliau dicap sebagai ulama muda yang agresif dan progresif.

Kiai Taufik hadir di tengah-tengah kondisi keagamaan di Indonesia dan di lokal Pamekasan yang mulai banyak dipengaruhi oleh gerakan Islam kanan, Islam kiri dan Islam fundamental. Meskipun kadang-kadang ia mendapat teguran dari beberapa kiai sepuh, karena kecintaannya kepada NU dan NKRI, beliau tetap melawan gerakan-gerakan anti NU-Aswaja dan anti NKRI.

Agresifitas Kiai Taufik itu, sampai beliau dituduh sebagai antek PKI oleh salah satu pemilik akun facebook bernama Izzul. Tuduhan itulah yang memicu reaksi massal warga NU mengepung Maporles Pamekasan, agar polisi segera menangkap Izzul.

Begitu pula ketika ada orang menghina-hina pemimpin negara dan Indonesia. Kiai Taufik tak akan diam. Sebab, menjaga Indonesia di antaranya menjaga pemimpinnya agar bangsa ini tidak mudah dipermainkan. Menjaga pemimpin bangsa, merupakan bagian dari implementasi kadar keimanan (hubbul wathan minal iman). Beliau menggambarkan negara-negara Islam di sebagian timur tengah dan Afrika yang hancur, terlibat perang saudara, diawali dengan ketidakpercayaan rakyatnya kepada pemimpinnya. Propaganda trus dimainkan untuk memupuk rasa benci rakyatnya kepda pemimpinnya, seperti yang terjadi di Syiria.

Menggerakkan Ekonomi

Kiai Taufik sadar bahwa menggerakkan organisasi tak cukup dibangun dengan militansi, namun juga dengan amunisi. Ide bahwa NU harus mandiri terus mengiang-ngiang di kepala beliau. Kiai Taufik memulainya dengan membentuk koperasi atau Baitul Mal wa Tamwil (BMT). Gerakan ekonomi ini memang berat karena ada stigma negatif terhadap NU, bahwa NU selalu gagal membangun pondasi ekonomi karena ketidakmampuan SDM dan menejerial. Oleh sebab itu, dengan optimisme tinggi Kiai Taufik di bawah bimbingan Rois Syuriah, memulai gerakan itu.

Membangun BMT di Pamekasan tidaklah mudah. Rintangannya, banyak pengurus MWCNU yang sudah terlanjur membangun komitmen dengan BMT NU Sumenep dan sudah mengakar. Keberadaan BMT NU Sumenep ini, di mata Kiai Taufik tidak bisa dibiarkan berkembang di lingkungan PCNU Pamekasan. Oleh sebab itu, ia kemudian membuat kebijakan moratorium kepada MWC NU agar tidak bekerjasama dengan BMT NU Sumenep, mealainkan membangun pondasi baru dan mengembangkan BMT NU yang dibangun oleh PCNU Pamekasan sendiri.

Setahap demi setahap, BMT NU Mandiri tumbuh di MWCNU. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, MWCNU yang tanpa BMT sudah bisa menjalankannya dengan keuntungan yang bervariasi.

Dua ide besar yang lahir dari kepemimpinan Kia Taufik, soal kemandirian NU yakni membangun pabrik air minun dalam kemasan (AMDK). Bisnis ini sempat kembang kempis. Berkembang di awal, namun kempis di tengah hingga kandas di akhir. Ini disebabkan model bisnis masih belum mandiri dan tergantung kepada perusahaan lain yang tak kasatmata menjadi rival bisnis NU sendiri.

Dengan ikhtiar yang kuat, sejumlah investor mebulatkan tekad untuk berinvestasi membangun pabrik AMDK sendiri. Inilah titik awal kebangkitan kembali industri air minum yang dikelola NU hingga saat ini. NUSAQU sebagai produknya, telah mampu mewarnai industri air minum di Pamekasan dan sebagian di Sumenep dan Sampang.

Hingga di ujung hayatnya Kiai Taufik, cita-cita besar PCNU Pamekasan yang belum terwujud yaitu membangun rumah sakit. Mengapa rencana ini muncul, sebab mayoritas warga Pamekasan adalah orang NU. Maka NU harus hadir di tengah-tengah mereka sebagai implementasi pengabdiannya kepada umat.

Berkali-kali upaya membangun rumah sakit ini dilakukan. Mulai dari pertemuan dengan para pengusaha lokal Pamekasan, hingga studi banding ke beberapa rumah sakit NU dilakukan, namun masib belum menemukan formulasi yang tepat.

Salah satu wujud dari cita-cita mendirikan NU, pembelian sebidang tanah di sebelah barat kantor NU yang sampai saat ini masih dalam proses pelepasan. Meskipun proyeksi tanah tersebut tidak untuk rumah sakit, namun bisa saja di kemudian hari, lahan tersebut bisa difungsikan.

Dunia Politik

Sebagai pucuk pimpinan organisasi kemasyarakatan terbesar, Kiai Taufik sering didatangi para politisi. Kepentingan para politisi itu, bisa saja meminta doa dan dukungan moral, atau bisa saja mengajak bergabung ke salah satu partai politik. Namun ajakan untuk bergabung ke salah satu partai, berhasil ditolak deng halus dan tegas.

Menurut Kiai Taufik, NU tidak bisa menjadi pelindung dan pendukung bagi salah satu kepentingan politik, namun NU harus menjadi rumah bersama bagi kepentingan partai politik. Kebijakan itu logis karena masyarakat Pamekasan tidak bisa diklaim sebagai pendukung PKB atau PPP, yang merupakan partai yang secara historis dekat dengan NU.

Komitmen itu ditunjukkan dalam berbagai kegiatan NU yang lebih warna-warni seragam partai politik. Bahkan, tamu-tamu politisi yang menginjakkan kaki di kantor PCNU merasa nyaman karena sama-sama merasakan dirinya diakui sebagai bagian dari keluarga besar NU.

Tawaran politik tidak hanya di ranah partai, namun juga di kontestasi politik pimpinan kepala daerah dalam Pilkada. Berbagai tokoh politik, tokoh masyarakat, pengusaha, datang silih berganti merayu Kiai Taufik untuk maju dalam kontestasi Pilkada. Bahkan, rayuan itu bukan cek kosong melainkan lengkap dengan segala pembiayaannya. Namun, cara beliau menolak tawaran itu dilakukan dengan cara halus. Di momentum Pilkada 2024 kemarin, beliau menebar ratusan baleho berisi ucapan selamat Idul Fitri, yang oleh banyak kalangan dimaknai sebagai keinginan beliau untuk maju dalam Pilkada.

Dalam satu kesempatan Kiai Taufik berkata, jika dirinya didatangi tokoh pengusaha untuk maju dalam Pilkada Pamekasan dan sudah disediakan dana awal untuk kampanye. Kiai Taufik tak sanggup menolak secara terang-terangan permintaan mereka. Ia seolah-olah menerima tawaran itu dengan cara menabar baleho. Padahal, dalam hati kecilnya hal itu bertolak belakang. Ia ingat pesan dan komitmen politik bersama warga NU dan para ulama NU, bahwa selama dirinya menjabat Ketua PCNU Pamekasan, tidak akan bersentuhan dengan kontestasi politik apapun. Namun, NU memilih sikap politik sendiri sesuai dengan arahan dan petunjuk para ulama sepuh.

Padahal, jika Kiai Taufik memiliki ‘syahwat’ politik, kemungkinan besar ia akan mudah menjalaninya. Ia tokoh yang secara popularitas sangat tinggi. Secara kualitas juga sangat kapabel, dan secara intelektualitas cukup teruji. Ia juga akan mudah menggerakkan massa menggunakan jejaring dan struktur NU sampai ke tingkat dusun. Ditambah lagi kekuatan badan otonom NU, mulai yang muda hingga yang tua, yang sama-sama memiliki struktur dan kultur sampai akar paling bawah, akan mudah menggerakkan mesing-mesin politik.

Namun lagi-lagi, Kiai Taufik tidak tergiur dengan hal itu. Jalur pengabdian di NU dan perjuangan di NU, sama besarnya dengan perjualan lainnya yang memilih jalur politik. Beliau juga tidak sampai hati menanggalkan dan meninggalkan pondok pesantren yang ia warisi dari orang tua dan mertuanya.

Kiai Taufik, sampai di akhir hayatnya mampu menjaga NU dan menjadikan NU sebagai rumah besar politik warga NU dan non NU.

Menuntut Ilmu Hingga Akhir Hayat

Sebagaimana pepatah Arab menerangkan, Utlubul Ilma Mina Mahdi Ila Allahdi. Pepatah ini yang menjadi prinsip Kiai Taufik bahwa dirinya selalu haus akan ilmu pengetahuan. Padahal, modal ilmu yang ia peroleh dari Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bettet, Pondok Pesantren Lirboyo dan dari Makkah, sudah cukup untuk menjadi bekal. Namun tidak, Kiai Taufik tetap haus akan ilmu pengetahuan.

Di tengah kesibukannya, Ia masih menyempatkan waktu menempuh program doktoral di kampus Unisma Malang. Ini luar biasa dan di luar nalar. Bagaimana ia mengatur tempo dengan baik, antara mengisi pengajian di pesantrennya, menghadiri undangan masyarakat, memimpin NU dan memimpin perguruan tinggi, serta menambah pengabdiannya sebagai salah satu wakil ketua PWNU Jawa Timur.

Saya menilai, hanya orang-orang pilihan yang mampu melakukan hal itu semua. Termasuk manusia pilihan itu adalah ajunan Kiai Taufik.

Penyambung Generasi 1 Abad NU menuju Kebangkitan Kedua

Hadis yang diriwayatkan Imam Abu Daud tentang adanya utusan untuk umat di setiap penghujung 100 tahun, korelatif dengan sosok Kiai Taufik. Beliau menjadi pemimpin NU di saat NU berusia satu abad dan mengantarkan NU menuju kebangkitan kedua NU setelah tahun 1334 H. Tidak mudah memimpin organisasi besar seperti NU, untuk menyambungkan generasi abad pertama dengan abad kedua.

Ibarat dua potongan pipa besi yang ingin dilas kembali menjadi satu. Dibutuhkan kemampuan luar biasa agar sambungan besi yang satu dengan satunya bisa kuat,. Begitu juga Kiai Taufik. Ia mampu menyambungkan geneasi awal NU dengan generasi baru di abad kedua kebangkitan NU. Jika sambungan itu tidak kuat, maka dipastikan besi akan patah. NU juga demikian, jika pemimpinnya tidak mampu, maka besi tak akan bersambung dan mengurangi kemanfaat dari besi tersebut.

“Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini pada setiap penghujung 100 tahun seorang yang memperbaharui agamanya” (HR. Abu Daud)

Sosok Kiai Taufik, persis seperti apa yang dijelaskan dalam hadis tersebut. Ia merupakan sosok yang diutus di penghujung 100 tahun NU, kemudian menjalankan NU di 100 tahun berikutnya. Namun, takdir setiap manusia akan menghadapi kematian, tak ada kekuatan apapun yang bisa menghalanginya.

Selamat jalan Sang Muharrik NU. Semoga tempat terbaik di sisi Allah untukmu.

*Ditulis oleh : Taufiqur Rahman Khafi, Wakil Ketua PCNU Pamekasan Periode 2021-2026

Tags: KH. Taufik HasyimPCNU PamekasanPWNU Jawa Timur
ShareTweetSendShareShare

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Berhenti berlangganan
Taufiqur Rahman

Taufiqur Rahman

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Maduranet.com

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Navigate Site

  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
    • Pemerintahan
    • Parlementaria
  • Peristiwa
    • Hukum
    • Kriminal
    • Ekonomi
    • Agama
    • Kesehatan
  • Olahraga
    • Bola
  • Plesir
    • Budaya
    • Gaya
    • Kulinari
  • Daras
  • Editorial

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
Go to mobile version