KUALA LUMPUR, MADURANET — Santri Islamic Boarding School Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK), Desa Lancar, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk berkarya.
Hingga Oktober 2025, para santri yang sebagian besar masih di Madrasah Tsanawiyah, telah menerbitkan 174 yang terdaftar di International Standar Book Number (ISBN). Dengan jumlah buku yang diterbitkan itu, IBS PKMKK sebagai salah satu pesantren dengan produktivitas literasi tertinggi.
Capaian itu menjadi latar belakang kunjungan literasi delegasi IBS PKMKK ke Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) pada Selasa (7/10/2025).
Kunjungan yang juga difasilitasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur ini, bertujuan memperkuat semangat literasi pelajar Indonesia di luar negeri sekaligus memperluas jejaring kolaborasi lintas negara.
Delegasi IBS PKMKK dipimpin oleh Ustadz Mochammad Cholid Wardi, Direktur Pengembangan Bahasa dan Kajian Kitab Kuning, didampingi Heni Listiana, Direktur Pengembangan Soft Skill dan Literasi, serta Zilvania Qadrun Nada, Ketua Pengurus Santri Putri IBS PKMKK.
“Kami ingin santri menjadi produsen pengetahuan, bukan hanya konsumen informasi,” uja Mochammad Cholid Wardi.
Menurutnya, keterampilan menulis dan literasi digital menjadi pondasi penting bagi generasi muda agar mampu bersaing secara global, tanpa meninggalkan akar keislaman dan kearifan lokal Madura.
Di IBS PKMKK, kegiatan menulis bukan sekadar ekstrakurikuler, melainkan bagian dari kurikulum utama. Santri diajak menggabungkan kajian agama klasik (kitab kuning) dengan teknologi digital, hingga lahirlah karya tulis bertema sosial, pendidikan, dan spiritual.
Pegawai KBRI Kuala Lumpur, Shohehuddin, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi terhadap IBS PKMKK.
“Gerakan literasi seperti ini penting untuk menyiapkan generasi muda yang berpikir kritis, berakhlak, dan mampu berkontribusi secara global,” katanya.
Kegiatan ini ditutup dengan diskusi interaktif dan rencana kerja sama pengembangan literasi antara IBS PKMKK dan SIKL, termasuk rencana penerbitan buku kolaboratif lintas negara.
Direktur IBS PKMKK, Achmad Muhlis, menyebut kunjungan itu sebagai bagian dari ekspedisi literasi santri IBS ke Asia Tenggara, yang juga menyasar Singapura dan Thailand.
“Kami ingin menunjukkan bahwa santri Madura bisa berkontribusi dalam percakapan global tentang literasi dan pendidikan,” ujarnya.
Menurutnya, prestasi 174 buku yang ditulis oleh santri usia SMP merupakan bukti konkret bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga pusat lahirnya gagasan, inovasi, dan karya.
“Santri bukan hanya penerima ilmu, tapi harus berkarya. Dan literasi adalah jalan menuju kemandirian berpikir,” tegas Muhlis.













