PAMEKASAN, MADURANET — Universitas Islam Negeri (UIN) Madura mencatat capaian akademik penting dengan diterbitkannya prosiding International Conference of Islamic Studies (ICONIS 2025) melalui Atlantis Press, penerbit bereputasi internasional yang terindeks Web of Science (WoS), Senin (22/9/2025).
Prosiding ini menghimpun hasil penelitian dan gagasan akademisi, peneliti, praktisi, serta pembuat kebijakan dari berbagai negara.
Dengan tema “Islam, Culture, and STEM: Change and Sustainability in the Disruptive Era”, ICONIS 2025 menyoroti tantangan global di era disrupsi, khususnya dalam bidang pendidikan, sains, dan keberlanjutan budaya.
Rektor UIN Madura, Saiful Hadi, menyebut konferensi ini sebagai wujud nyata upaya kampus meneguhkan falsafah Asta Helix Tanèyan Lanjhâng sebagai kerangka pengembangan ilmu Islam integratif.
“Konferensi ini menjadi jembatan antara tradisi dan inovasi, sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan keilmuan harus berpijak pada iman, budaya, dan etika,” ujarnya.
Falsafah Tanèyan Lanjhâng lahir dari tradisi sosial budaya Madura, menggambarkan ruang terbuka tempat masyarakat hidup dalam kebersamaan. Dalam kerangka akademik, falsafah ini diadaptasi untuk menghubungkan ilmu Islam dengan sains, teknologi, dan budaya global.
Ketua Panitia ICONIS ke-9, Agung Dwi Bahtiar El Rizaq, menegaskan Tanèyan Lanjhâng bukan sekadar simbol kultural, melainkan paradigma integratif yang menjembatani tradisi lokal, nilai Islam, dan tantangan global.
“Dengan kerangka ini, UIN Madura berkomitmen melahirkan generasi yang berakar kuat pada budaya dan spiritualitas, sekaligus adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern,” katanya.
Terbitnya prosiding di Atlantis Press membuat karya-karya akademik ICONIS 2025 dapat diakses luas oleh masyarakat internasional. Langkah ini memperkuat posisi UIN Madura dalam percaturan akademik global sekaligus menegaskan komitmen kampus pada pengembangan ilmu yang membumi, solutif, dan relevan dengan zaman.













