PAMEKASAN, MADURANET– Pemuda Tani Indonesia (PTI) Pamekasan terus berupaya meningkatkan kualitas pertanian lokal.
Pada Senin pagi (18/8/2025), PTI memberikan edukasi langsung tentang polinasi manual semangka non biji dengan praktik di lahan percontohan, Jalan Basar, Jungcangcang, Pamekasan, yang kini menanam 1.800 pohon semangka non biji. Edukasi dipandu langsung oleh koordinator PTI, Ketua DPC PTI Pamekasan Noer Kholis.
Menurutnya, polinasi atau pengawinan semangka penting agar panen bisa serempak, seragam, dan tepat waktu. Hal ini sekaligus menjawab persoalan yang kerap dialami petani tingkat penyerbukan alami yang rendah.
“Kalau mengandalkan polinasi alami, persentasenya kurang dari 10 persen. Jadi solusinya memang harus manual,” jelas Kholis.
Pandangan itu sejalan dengan Ilham Wahyudi, anggota PTI, yang menyebut polinasi manual dilakukan karena penyerbukan alami jarang berhasil. Menurutnya, tanaman semangka berbunga pada umur 25–35 hari setelah tanam (hst), dengan waktu optimal polinasi pada umur 28–32 hst.
Polinasi terbaik dilakukan pagi hari, antara 04.30–09.00 WIB, saat bunga sudah mekar dan serbuk sari masih segar. Karena jika terlalu siang serbuk sari jantan akan cepat layu.
Langkah teknisnya sederhana, beber Ilham, petani cukup mengambil bunga jantan segar dari tanaman berbeda, lalu mengoleskannya ke bunga betina yang sedang mekar.
“Kebutuhan bunga jantan sekitar 10 persen dari total populasi, dan boleh dari jenis semangka berbiji apa saja. Sedangkan bunga betina sebaiknya dari jenis premium,” terang Ilham.
Ia menambahkan, perbandingan bunga jantan dan betina idealnya 1 banding 1 hingga 1 banding 3 agar peluang keberhasilan polinasi semakin tinggi.
Polinasi manual biasanya dilakukan selama 4 hari berturut-turut. Penting bagi petani untuk mencatat waktu kawin, karena itu menentukan prediksi panen.
“Acuan panen serempak mengikuti tanaman yang dikawinkan pada hari ke-3. Kalau lebih dari 35 hari setelah polinasi, daging buah bisa berongga dan mutunya menurun,” kata Ilham.
Dengan polinasi yang disiplin, semangka bisa dipanen pada umur 30–35 hari setelah polinasi dengan kualitas buah lebih baik, manis, dan padat.
Ilham Wahyudi menegaskan bahwa edukasi yang diberikan PTI bukan sekadar teori.
“Kami praktek langsung di lahan, supaya petani benar-benar paham tekniknya. Harapannya nanti mereka bisa menerapkan metode ini,” ujarnya.
Selain polinasi, PTI juga membimbing perawatan semangka seperti penyiraman rutin, pemupukan berimbang, serta pemangkasan untuk memastikan nutrisi terfokus ke buah utama.
“Dengan pola ini, petani bisa lebih terjamin hasilnya. Polinasi manual bukan hanya meningkatkan produksi, tapi juga membantu panen lebih serempak sehingga lebih mudah dipasarkan,” tambah Ilham.













