PAMEKASAN, MADURANET – Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan melibatkan 84 orang binaan kesehatan jiwa, dalam Festival Kesehatan Mental Pamekasan 2026. Kegiatan ini menjadi ruang bagi peserta, untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitas, sekaligus mengajak masyarakat menghapus stigma terhadap persoalan kesehatan jiwa.
Festival bertema “Dengarkan Suaranya, Pahami Keunikannya, Hadirkan Perubahan” tersebut digelar di halaman Stadion Gelora Ratu Pamelingan, Desa Ceguk, Kecamatan Tlanakan, Rabu (4/11/2026). Kegiatan ini diikuti perwakilan dari 21 puskesmas se-Kabupaten Pamekasan.
Kepala Dinas Kesehatan Pamekasan Saifudin mengatakan, peserta kegiatan terdiri dari 21 koordinator kesehatan jiwa puskesmas, 84 orang binaan kesehatan jiwa, 42 kader kesehatan jiwa, serta 50 orang dari unsur panitia dan tim penyelenggara.
“Melalui festival ini, kami ingin menghadirkan ruang kebersamaan, edukasi, apresiasi, dan pemberdayaan, sekaligus memperkuat peran keluarga, masyarakat, tenaga kesehatan, serta lintas sektor dalam mendukung kesehatan jiwa,” kata Saifudin.
Rangkaian kegiatan diisi dengan senam bersama, pameran hasil karya peserta melalui stan kecamatan, talkshow kesehatan jiwa bersama psikolog, serta lomba penampilan seni antarkecamatan. Kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi peserta binaan untuk menampilkan kreativitas dan potensi mereka.
Sekretaris Daerah Pamekasan Taufikurrachman mengatakan, kesehatan mental memiliki kedudukan sama pentingnya, dengan kesehatan fisik. Namun, persoalan kesehatan mental, masih kerap dianggap tabu, sehingga orang yang mengalaminya berisiko mendapat stigma dan kurang memperoleh dukungan.
“Melalui festival ini, kita ingin menegaskan bahwa kesehatan mental, bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Setiap orang berhak didengarkan, dipahami, dihargai, serta mendapatkan pertolongan,” ujar Taufikurrachman di hadapan 84 binaan.
Dia menegaskan, upaya membangun masyarakat sehat, tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan. Dukungan keluarga, lingkungan sosial yang peduli, dan keterlibatan berbagai sektor juga diperlukan, agar masyarakat dengan persoalan kesehatan jiwa, mendapat ruang yang aman dan kesempatan yang sama.
“Jangan memberikan stigma dan jangan ragu mencari bantuan tenaga profesional ketika menghadapi persoalan kesehatan mental,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, pihaknya berharap, kepedulian terhadap kesehatan jiwa semakin tumbuh di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, hingga masyarakat.
”Festival ini juga diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi berlanjut menjadi gerakan bersama, untuk mewujudkan lingkungan yang inklusif dan ramah kesehatan mental,” pungkasnya.













