PAMEKASAN, MADURANET – Lonjakan harga sejumlah komoditas sayuran mulai dirasakan pedagang dan pembeli di Pasar 17 Agustus, Jalan Pintu Gerbang Nomor 115, Kelurahan Bugih, Kecamatan Pamekasan, Jumat, (17/7/2026).
Aminah, 49 tahun, pedagang asal Kelurahan Nyalabu, mengatakan kenaikan harga terjadi hampir pada seluruh komoditas sayuran yang dijualnya. Menurut dia, harga dari tengkulak sudah lebih dulu naik sehingga pedagang tidak memiliki pilihan selain menyesuaikan harga jual.
“Harga dari tengkulak sudah naik. Kami juga terpaksa menjual lebih mahal,” katanya.
Ia menyebut harga kangkung kini mencapai Rp10 ribu per ikat. Padahal sebelumnya hanya berkisar Rp5 ribu hingga Rp6 ribu. Harga buncis juga naik dari sekitar Rp7 ribu menjadi Rp15 ribu per kilogram.
Kenaikan paling mencolok terjadi pada timun, papar Aminah, jika sebelumnya timun ukuran besar dijual sekitar Rp3 ribu per buah di harga eceran, kini harganya mencapai Rp10 ribu.
“Timun yang biasanya dijual Rp5 ribu per kilogram kini menembus Rp20 ribu per kilogram,” tambah dia.

Sementara itu, lanjut Aminah, harga cabai juga belum sepenuhnya stabil. Cabai besar kini dijual Rp25 ribu per kilogram, naik dari sebelumnya sekitar Rp15 ribu. Sementara cabai rawit merah dijual Rp25 ribu per kilogram dan cabai rawit hijau Rp22 ribu per kilogram.
“Meski demikian, harga tersebut sudah lebih rendah dibanding beberapa waktu lalu yang sempat menyentuh kisaran Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram,” kata dia
Royhan, 24 tahun, warga Desa Billa’an, Kecamatan Proppo, yang ikut berjualan di Pasar 17 Agustus, menilai lonjakan harga mulai terasa sejak aktivitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berjalan setelah libur sekolah.
Menurut dia, ketika program tersebut sempat berhenti selama masa liburan, harga sejumlah komoditas seperti telur ayam dan sayuran perlahan turun. Namun, begitu sekolah kembali aktif, harga kembali merangkak naik.
“Pas MBG libur kemarin harga telur sama sayur mulai turun. Sekarang sekolah masuk, harganya naik lagi,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Zainab, 41 tahun, pedagang lainnya di pasar tersebut. Menurut dia, kenaikan harga membuat daya beli masyarakat ikut menurun. Di sisi lain, kebutuhan rumah tangga para pedagang juga semakin membengkak.
“Yang susah ya masyarakat kecil seperti kami. Belanja rumah naik, modal jualan juga naik,” ujarnya.
Di tengah kenaikan harga tersebut, ia berharap pemerintah turun tangan mengendalikan harga di tingkat pemasok maupun tengkulak. Mereka khawatir lonjakan harga yang berlangsung terlalu lama akan semakin menekan daya beli masyarakat dan mengurangi omzet pedagang pasar tradisional.
Zainab bahkan menyindir kondisi ekonomi yang mereka rasakan saat ini dengan mengutip lirik lagu Rhoma Irama.
“Benar kata Rhoma Irama, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin,” katanya.
Kenaikan harga tidak hanya dikeluhkan pedagang. Yuli, 32 tahun, yang berbelanja di pasar itu mengaku harus mengurangi jumlah belanja karena uang yang dibawanya tidak lagi cukup membeli kebutuhan seperti biasanya.
“Harganya jauh lebih mahal dari biasanya. Terpaksa belinya dikurangi,” kata dia.
Pembeli lainnya, Dila, 30 tahun, berharap pemerintah segera mencari solusi agar harga kebutuhan pokok kembali stabil. Menurut dia, tidak semua masyarakat merasakan manfaat ekonomi dari Program Makan Bergizi Gratis.
“Jangan hanya yang terlibat di MBG yang merasakan dampaknya. Kami yang masyarakat kecil juga harus dipikirkan,” pungkasnya.













