PAMEKASAN, MADURANET – Santri Pondok Pesantren Syekh Abdurrahman Rabah (PP Syabar) Pamekasan, dijadwalkan berangkat ke China pada akhir Oktober hingga awal November 2026. Kesempatan tersebut diperoleh setelah, mereka meraih juara dalam kompetisi debat Bahasa Mandarin, yang digelar Harian Disway di Pakuwon City Mall, Surabaya, pada (6/9/2026).
Pengasuh PP Syabar, Abdul Hamid, menjelaskan, keberangkatan tersebut merupakan bagian dari hadiah, yang diberikan panitia kepada para pemenang. Menurut dia, perjalanan itu bukan sekadar liburan, tetapi menjadi kesempatan bagi santri untuk mendapatkan pengalaman dan pengetahuan secara langsung.
“Ini tour pendidikan sebenarnya. Ini sangat bermanfaat sekali untuk anak-anak untuk menambah wawasan, pengalaman, pengetahuan secara langsung,” kata Hamid saat diwawancarai Maduranet.com, Rabu (23/9/2026).
Hamid menilai, pengalaman melihat langsung perkembangan China, dapat membuka wawasan santri mengenai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena, terang dia, para santri nantinya akan diajak mengunjungi sejumlah tempat industri, sehingga mereka dapat melihat perkembangan serta budaya kerja masyarakat China.
“Mereka akan studi komparasi ke beberapa tempat-tempat, termasuk ke beberapa perusahaan,” ujarnya.
Ia pun menyatakan dukungan penuh, terhadap kesempatan tersebut. Bahkan, Hamid mengaku ikut mengawal persiapan keberangkatan para santri, agar hadiah yang diberikan kepada pemenang lomba benar-benar dapat diwujudkan.
Menurutnya, pengalaman langsung di China akan memberikan gambaran yang berbeda, dibandingkan pembelajaran yang hanya diperoleh dari dalam kelas atau lingkungan pesantren.
Dalam kegiatan pemberian penghargaan, Rabu (23/9/2026) kemarin, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, dan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, turut hadir memberikan dukungan kepada para peserta. Keduanya hadir karena kegiatan tersebut melibatkan sejumlah pihak, termasuk Dahlan Iskan Way, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan PWNU Jawa Timur.
Hamid mengatakan kehadiran mereka lebih sebagai bentuk apresiasi dan dukungan terhadap prestasi para santri. Karena, kemampuan berbahasa asing, memiliki posisi penting bagi santri di tengah hubungan Indonesia dengan negara-negara lain.
Karena itu, Hamid berharap, bahasa Mandarin dapat dikembangkan di lingkungan pesantren, berdampingan dengan bahasa Arab dan Inggris.
“Saya berharap bahwa di samping bahasa Inggris, bahasa Arab, Mandarin ini pun juga bisa ditumbuhkembangkan di beberapa pesantren,” katanya.
Hamid berharap, prestasi tersebut menjadi gambaran bahwa pendidikan pesantren dapat melahirkan santri, yang menguasai ilmu agama sekaligus terbuka terhadap perkembangan pengetahuan dunia.
“Jangan sampai, banyak dari kalangan santri buta terhadap ilmu pengetahuan, di luar ilmu pengetahuan agama,” pungkasnya.













