PAMEKASAN, MADURANET – Ketua Senat UIN Madura, Ahmad Muhlis, menegaskan bahwa kebebasan berpendapat bagi mahasiswa merupakan hal wajar dan harus dilakukan sepanjang tidak melampaui norma etika dan moral. Hal ini disampaikan dalam wawancara, Rabu (27/8/2025), menanggapi dinamika aksi mahasiswa yang belakangan ramai di media sosial.
“Gerakan mahasiswa saat ini sebenarnya tidak terbatas, asal tidak melampaui norma etika serta moral. Kebebasan menyampaikan gagasan sangat wajar dan harus dilakukan oleh mahasiswa yang inspiratif dengan cara-cara santun dan beretika,” ujar Mukhlis.
Direktur Islamic Boarding School (IBS) Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning (PKMKK) ini membantah, tudingan adanya upaya pembungkaman terhadap mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa justru diposisikan pada level tertinggi sebagai akademisi yang memiliki identitas, ilmu, dan karakter.
“Mahasiswa tidak boleh diperintah oleh siapapun karena mereka punya ilmu, pemahaman, identitas, norma, dan etika. Mereka harus mempengaruhi, bukan dipengaruhi,” tegasnya.
Mukhlis juga mengingatkan bahwa aksi mahasiswa seharusnya berbasis data dan ilmu pengetahuan, bukan sekadar opini. Ia menyoroti fenomena inkonsistensi tuntutan mahasiswa yang berubah ubah, yang menurutnya membuat publik kehilangan kepercayaan.
Dalam pandangannya, mahasiswa ideal adalah mereka yang kritis dan transformatif.
“Kritis itu memaknai dan memahami kebijakan dengan ilmu, disampaikan secara santun dan beretika, menggunakan logika dan konsisten,” katanya.
Ia menambahkan, transformasi berarti mendorong perubahan yang bermanfaat bagi banyak orang, bukan sekadar memenuhi keinginan personal atau kelompok.
“Mahasiswa hebat itu tidak mau di perintah dan tidak mau di pengaruhi. Mereka harus berkarakter, berbasis ilmu dan etika,” pungkasnya.













