PAMEKASAN, MADURANET – Suasana belajar berbeda tampak di Pantai Jumiang, Desa Mongging, Kecamatan Pademawu, Selasa (10/2/2026). Puluhan siswa Islamic Boarding School (IBS) PKMKK tidak duduk di kelas, melainkan menyusuri pesisir pantai sambil mengamati lorjuk atau kerang bambu.
Guru pendamping kegiatan, Meilina Tri Purwani, menjelaskan, melalui kegiatan outing class, para siswa diajak mempelajari langsung potensi lorjuk sebagai salah satu komoditas khas Madura, bukan sekadar dari sisi wisata, tetapi juga ilmu pengetahuan, ekonomi, hingga kajian keagamaan.
”Kegiatan tersebut dirancang sebagai pembelajaran kontekstual dengan mengintegrasikan enam mata pelajaran sekaligus dalam satu objek studi,” ujarnya.
Meilina memaparkan, para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja. Masing-masing kelompok mendapat tugas pengamatan berbeda sesuai disiplin ilmu.
Pada bidang biologi, jelas Meilina, siswa meneliti morfologi lorjuk, mengidentifikasi ciri-ciri khusus, serta menentukan klasifikasi ilmiahnya. Mereka juga mempelajari peran kerang bambu dalam ekosistem pesisir.
Sementara itu, tambah guru tersebut, kelompok fisika menganalisis gerak lorjuk saat berada di pasir dan air laut. Mereka mengaitkannya dengan konsep mekanika dan hukum-hukum gerak yang selama ini dipelajari di kelas
”Dari sisi ekonomi, siswa berinteraksi langsung dengan pedagang di sekitar Desa Mongging. Mereka menghitung harga jual, biaya produksi, hingga potensi pasar olahan lorjuk seperti campur lorjuk yang dikenal sebagai kuliner khas setempat,” jelasnya.
Meilina menjelaskan, pada mata pelajaran PPKN lorjuk diposisikan sebagai bagian dari kekayaan hayati dan budaya daerah yang perlu dilestarikan.
”Siswa diajak memahami pentingnya menjaga potensi lokal sebagai identitas sekaligus penggerak ekonomi masyarakat, paparnya.
Kata Meilina, memampuan bahasa asing juga diasah. Dalam pelajaran Bahasa Inggris, siswa menyusun dan mempresentasikan procedure text tentang langkah-langkah mengolah campur lorjuk.
Meilina Tri Purwani, mengatakan pendekatan lintas disiplin tersebut bertujuan agar siswa memahami bahwa ilmu pengetahuan saling terhubung dengan kehidupan sehari-hari.
“Kegiatan ini mengajarkan kami bahwa ilmu pengetahuan tidak berdiri sendiri. Dari satu piring campur lorjuk, kita bisa belajar tentang Tuhan, alam, hingga strategi bertahan hidup secara ekonomi,” kata Meilina.
Ia berharap kegiatan di luar kelas seperti ini dapat menumbuhkan kecintaan siswa terhadap kearifan lokal Madura sekaligus melatih nalar kritis mereka.
“Anak-anak jadi tidak hanya paham teori, tapi melihat langsung realitas di lapangan,” ujarnya.
Melalui outing class tersebut, harap Meilina, lorjuk tak lagi sekadar makanan khas pesisir, melainkan media belajar yang menghubungkan sains, budaya, dan nilai kehidupan.













