• Terkini
  • Trending
  • Semua
Ketika Guru Besar Sibuk dengan Angka, Siapa yang Menjaga Makna

Ketika Guru Besar Sibuk dengan Angka, Siapa yang Menjaga Makna

5 bulan lalu

Gus Ipul Minta Data Anak Miskin Dimutakhirkan untuk Program Sekolah Rakyat

18 jam lalu

Bupati Pamekasan Titip Doa ke Jemaah Calon Haji agar Pembangunan Pamekasan Lancar

19 jam lalu

Polres Selidiki Pencurian Gelang Emas Rp 25 Juta di Toko Emas Jakarta

2 hari lalu

BPS Pamekasan Imbau Warga Jujur Saat Sensus Ekonomi 2026

2 hari lalu

Menyamar Pembeli Wanita Berparas Ayu Embat Gelang Emas di Toko Perhiasan Jakarta Pamekasan

2 hari lalu

Nelayan Pamekasan Merasa Diperas Rp 30 Juta dengan Tudingan Merusak Terumbu Karang di Sumenep

3 hari lalu

30 Koperasi Desa di Pamekasan Dapat Mobil Pickup dari PT Agrinas

3 hari lalu

Saat Keberangkatan Haji Arek Lancor Streril dari Kendaraan Pengantar Jemaah Haji

3 hari lalu

Calon Haji Lansia dan Disabilitas Pamekasan Dapat Pelayanan Khusus

3 hari lalu

Polres Pamekasan Tangkap Dua Pengedar Narkoba di Proppo

4 hari lalu

BPS Pamekasan Buka Kesempatan Kerja untuk 1.109 Petugas Sensus Ekonomi

4 hari lalu

Satpol PP Pamekasan Tertibkan 300 Reklame Bermasalah

4 hari lalu
  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Media Siber
  • Periklanan
  • Login
  • Register
Senin, Mei 11, 2026
Maduranet.com
  • Home
  • Politik
  • Bola
  • Khazanah
  • Gaya
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
Maduranet.com
Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Bola
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Budaya
  • Agama
  • Olahraga
  • Daras
  • Gaya
  • Plesir
  • Kulinari
  • Editorial
Home Daras

Ketika Guru Besar Sibuk dengan Angka, Siapa yang Menjaga Makna

Guru Besar seharusnya tampil sebagai sosok yang menenangkan, mencerahkan, dan menyatukan, bukan sekadar sibuk membangun menara gading akademik

oleh Taufiqur Rahman
16 Desember 2025
in Daras
11 0
0
Ketika Guru Besar Sibuk dengan Angka, Siapa yang Menjaga Makna
0
SHARES
109
VIEWS

PAMEKASAN, MADURANET – Menjadi Guru Besar sering dipandang sebagai puncak karier akademik. Gelar ini identik dengan keberhasilan intelektual, reputasi ilmiah, dan pengakuan institusional. Namun pertanyaannya sederhana, setelah sampai di puncak, lalu untuk apa?.

Momentum pengukuhan 116 profesor rumpun ilmu agama oleh Menteri Agama Republik Indonesia memberi kita bahan renungan penting. Dalam sambutannya, Menteri Agama menegaskan bahwa Guru Besar bukan sekadar gelar akademik, melainkan amanah keilmuan dan moral. Guru Besar diharapkan menjadi mursyid, pembimbing, bukan hanya bagi mahasiswa, tetapi juga bagi masyarakat.

Pesan ini terasa relevan di tengah dunia akademik yang kian sibuk dengan urusan angka, angka publikasi, angka sitasi, angka kredit, dan peringkat. Semua itu memang penting, tetapi jika berhenti di sana, ilmu bisa kehilangan ruhnya. Kampus menjadi tempat produksi pengetahuan, tetapi miskin keteladanan. Dosen pandai berbicara teori, namun absen dalam memberi contoh.

Dalam tradisi Islam, ilmu bukan hanya soal pintar, tetapi juga soal bersihnya niat dan akhlak. Al-Qur’an mengajarkan bahwa proses pendidikan dimulai dari membaca ayat-ayat Allah, dilanjutkan dengan penyucian diri, baru kemudian pengajaran ilmu dan hikmah. Artinya, karakter dan integritas seharusnya mendahului kepandaian. Jika urutan ini dibalik, ilmu bisa menjadi kering dan bahkan berbahaya.

Di sinilah peran Guru Besar menjadi sangat strategis. Guru Besar bukan hanya pakar di bidangnya, tetapi juga rujukan moral. Ucapannya didengar, sikapnya ditiru, dan pandangannya memengaruhi arah keilmuan. Karena itu, Guru Besar seharusnya tampil sebagai sosok yang menenangkan, mencerahkan, dan menyatukan, bukan sekadar sibuk membangun menara gading akademik.

Tantangan lain yang tak kalah penting adalah krisis ekologis. Dunia sedang menghadapi kerusakan lingkungan yang serius. Kampus dan para akademisi tidak boleh diam. Menteri Agama mengingatkan pentingnya ekoteologi dan kurikulum cinta, agar ilmu yang diajarkan tidak merusak, tetapi merawat bumi. Guru Besar punya peran besar untuk menanamkan kesadaran ini, baik melalui riset, pengajaran, maupun keteladanan hidup.

Opini ini bukan untuk menafikan prestasi akademik. Ppublikasi, riset, dan inovasi tetap penting. Namun semua itu perlu diarahkan pada tujuan yang lebih besar, yakni kemaslahatan manusia dan keberlanjutan kehidupan. Guru Besar yang ideal adalah mereka yang ilmunya tinggi, tetapi hatinya tetap membumi.

Sudah saatnya kita memaknai ulang gelar Guru Besar. Bukan sekadar simbol keberhasilan pribadi, tetapi tanggung jawab sosial dan spiritual. Sebab pada akhirnya, yang dibutuhkan bangsa ini bukan hanya orang-orang pintar, tetapi orang-orang bijak yang mau membimbing dan memberi arah.

Oleh: Achmad Muhlis, Guru Besar UIN Madura Bidang Ilmu Sosiologi Pendidikan Islam sekaligus Direktur Utama IBS PKMKK Pamekasan

ShareTweetSendShareShare

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Berhenti berlangganan
Taufiqur Rahman

Taufiqur Rahman

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Maduranet.com

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Navigate Site

  • Tentang kami
  • Kebijakan Privasi
  • Periklanan
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Tidak ditemukan hasil
Tampilkan semua hasil
  • Home
  • Politik
    • Pemerintahan
    • Parlementaria
  • Peristiwa
    • Hukum
    • Kriminal
    • Ekonomi
    • Agama
    • Kesehatan
  • Olahraga
    • Bola
  • Plesir
    • Budaya
    • Gaya
    • Kulinari
  • Daras
  • Editorial

Copyright © 2020 -2025 Maduranet.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
Go to mobile version