Bocah Ahmad Ghatan Penjual Kerupuk yang Kuasai Warkop dan Puluhan Toko di Pamekasan

Sejak di bangku SD Ahmad Ghatan sudah merintis usaha, meskipun harus bersaing dengan gurunya hingga memilih tidak berjualan di sekolah karena merasa tak nyaman

Ahmad Ghatan dan kerupuk aplang jajahannya saat ditemui di Warkop24 jalan KH Agus Salim, Pamekasan.

PAMEKASAN,MADURANET – Roda sepeda listrik itu melaju dari satu tempat ke tempat lain di Pamekasan. Tumpukan kerupuk Aplang (camilan berbahan ikan dan adonan tepung), menjadi muatan untuk dijajakan dan dititipkan ke sejumlah kedai kopi dan toko.

Tak ada kebisingan mesin motor. Tak ada pula seragam kantor atau kartu nama pengusaha, seorang bocah berusia 16 tahun, Ahmad Ghatan, menerjang jalanan untuk meraup rupiah.

Bocah yang kini menempuh pendidikan di kelas II SMA Negeri 1 Pamekasan ini, telah terikat kerjasama dengan tujuh kedai kopi dan sekitar 50 toko di Pamekasan.

Semuanya bermula sejak tiga tahun lalu, ketika ia masih duduk di kelas I SMP. Saat itu, pada 2023, keluarganya menghadapi persoalan ekonomi setelah ayahnya jatuh sakit.

“Ayah saya sakit diabetes yang mempengaruhi penglihatannya, hingga sulit bekerja,” ucapnya.

Ayah Ghatan sebelumnya bekerja sebagai sales cat Decofresh di Surabaya. Ketika penglihatannya mulai terganggu, pekerjaannya pun tak lagi bisa dijalani seperti biasa.

Ayahnya kemudian hanya bisa bekerja secara freelance. Di tengah keadaan itu, ibunya mulai membuat kerupuk aplang. Ghatan mengambil bagian yang lain.

“Ibu yang produksi. Saya yang nawar-nawarkan ke toko,”ujarnya.

Tidak langsung besar. Tidak pula mudah. Ghatan belajar dari pintu-pintu toko yang dibukanya sendiri. Dari sana, pelanggannya bertambah sedikit demi sedikit hingga kini mencapai puluhan.

Ia juga belajar membagi waktu. Sepulang sekolah sekitar pukul 15.00, ia tidak selalu langsung mengantar dagangan. Tetap, kegiatan sekolah menjadi prioritasnya.

Hari-harinya dibuat bergantian. Ada waktu untuk sekolah, ada waktu untuk berkeliling membawa produk.

“Waktu sama hari dibagi. Jadi selang-seling,” katanya.

Cara itu membuat sekolah tetap berjalan dan usaha tidak berhenti. Ghatan mengaku senang ketika pertama kali memperoleh penghasilan dari hasil usahanya sendiri.

“Ada rasa puas yang sulit ia gambarkan,” ucapnya sambil tersenyum.

Namun, perjalanan berjualan tidak selalu memberinya pengalaman menyenangkan. Saat masih SMP, sekitar tahun 2023, ia pernah mencoba menjual kerupuk di kantin sekolah. Dagangannya laku keras

Berselang beberapa bulan sejak itu, dagangannya laku keras. Namun Justru itu yang kemudian membuatnya merasa tidak nyaman.

Menurut Ghatan, beberapa guru yang juga menitipkan camilan di kantin merasa terganggu karena produknya banyak terjual. Ketika bungkus camilan berserakan, ia mengaku kerap ikut terkena imbas.

“Sempat juga selalu menjadi sasaran guru-guru yang juga jualan di kantin mas,” paparnya.

Bahkan, pernah ada imbauan agar kerupuk dan cireng tidak dijual dalam bazar sekolah. Produknya pun tak bisa masuk.

“Kalau untuk naruh di sekolah yang sekarang saya sudah trauma,” ujarnya.

Di luar lingkungan sekolah, ceritanya berbeda. Toko-toko justru menjadi ruang bagi Ghatan untuk berkembang. Ia mulai memiliki pelanggan tetap dan belajar menjaga hubungan dengan mereka.

Penghasilan dari penjualan pun tidak langsung dihabiskan. Ghatan dan ibunya memutarnya kembali untuk usaha. Sebagian disiapkan sebagai dana darurat, untuk berjaga-jaga jika suatu hari ada kebutuhan mendesak.

“Buat diputar lagi sama ibu. Sekalian nyiapin dana darurat, takut ada kebutuhan ke depannya,” kata dia.

Untuk biaya sekolah, pengusaha cilik itu terbantu Program Indonesia Pintar melalui Kartu Indonesia Pintar. Selebihnya, ia memilih terus menjalankan usaha.

Ada satu hal yang juga berubah dari kesehariannya. Ghatan tak lagi punya banyak waktu untuk bermain Game. Waktunya lebih sering habis di sekolah, mengurus dagangan, dan mengantarkan aplang dengan sepeda listrik.

Dulu ia memiliki cita-cita menjadi taruna. Namun, keterbatasan fisik membuat cita-cita itu harus ia kubur. Sebagai gantinya, Ghatan kini, menjalani sesuatu yang mungkin tidak pernah ia rencanakan ketika masih duduk di bangku SMP, menjadi pengusaha muda.

Usaha itu bermula dari keadaan yang memaksa. Tetapi tiga tahun kemudian, dari sebuah produk rumahan yang dibuat ibunya, Ghatan sudah memiliki puluhan tempat untuk menitipkan dagangan.

Roda sepeda listriknya terus berputar. Bukan sekadar membawa kerupuk aplang, melainkan juga membawa bocah 16 tahun belajar mengenal kerja keras, kegagalan, uang, dan tanggung jawab, jauh sebelum sebagian teman seusianya memikirkan semua itu.

Exit mobile version