PAMEKASAN, MADURANET – Dinas Pendidikan Kabupaten Pamekasan mengajak generasi muda mengenal kembali teknologi pertanian tradisional melalui pameran temporer digelar di Museum Umum Daerah Mandhilaras, Selasa (28/7/2026).
Pameran tahunan tersebut menampilkan berbagai peralatan pertanian dan pengolahan pangan yang pernah digunakan masyarakat Madura sebelum hadirnya teknologi modern.
Kepala Dinas Pendidikan Pamekasan Akhmad Basri Yulianto mengatakan, pameran itu menjadi sarana edukasi agar pelajar memahami bahwa perkembangan teknologi saat ini merupakan hasil dari perjalanan panjang peradaban.
“Peradaban hari ini tidak harus melupakan peradaban masa lampau. Anak-anak harus tahu bagaimana masyarakat dulu memenuhi kebutuhan hidup dengan alat-alat yang sangat sederhana,” kata Basri.
Menurut dia, alat-alat tradisional seperti bajak sawah yang ditarik sapi, lesung, hingga gilisan menjadi bukti perkembangan teknologi yang kemudian melahirkan berbagai peralatan modern yang digunakan saat ini.
Basri menilai, tanpa adanya inovasi pada masa lalu, masyarakat tidak akan mengenal alat pertanian modern seperti hand tractor maupun peralatan rumah tangga seperti rice cooker.
“Tidak akan ada hand tractor, tidak akan ada rice cooker kalau dulu tidak ada bajak sawah, tidak ada gilisan, tidak ada lesung, dan peralatan tradisional lainnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tema “Pangonong Nyerrèt Tènong” dipilih untuk memperkenalkan cara masyarakat Madura mengolah lahan pertanian hingga mengolah hasil panen menggunakan teknologi sederhana pada zamannya.
Melalui pameran tersebut, pelajar diajak memahami bahwa sejarah perkembangan teknologi tidak terlepas dari kehidupan masyarakat pada masa lampau.
Basri berharap kegiatan itu mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda untuk menghargai sekaligus melestarikan warisan budaya daerah.
“Tujuannya memberikan edukasi kepada generasi muda, khususnya pelajar dan pengunjung, tentang pentingnya mempelajari perkembangan teknologi tradisional pada zaman dahulu,” katanya.
Pameran temporer tersebut berlangsung mulai 28 hingga 30 Juli 2026 dan terbuka untuk masyarakat umum. Selain melibatkan sekolah-sekolah di bawah Dinas Pendidikan, kegiatan itu juga menggandeng madrasah di bawah naungan Kementerian Agama.
Basri menambahkan, memahami sejarah peradaban daerah menjadi penting agar generasi mendatang tidak kehilangan identitas budaya di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
“Peradaban sebuah daerah itu perlu dilestarikan, dipelajari, dan diingat. Apa yang kita gunakan hari ini juga akan menjadi bagian dari sejarah pada masa yang akan datang,” tandas Basri.
