PAMEKASAN, MADURANET – Jalan menuju sebuah rumah, berakhir di sebuah tanjakan sempit di Dusun Pangganten, RT 04 RW 04, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan. Sepeda motor pun tak mudah melintas. Hanya pengendara yang terbiasa melewati jalan ekstrim yang berani memaksa kendaraan menanjak hingga ke halaman rumahnya.
Rumah itu berdiri agak jauh dari permukiman warga. Sunyi, tak ada suara televisi, dering telepon, atau mesin kendaraan. Listrik yang menerangi rumah itu pun masih menumpang dari tetangga.
Di rumah sederhana itulah Sutiyama menghabiskan hari-harinya seorang diri. Perempuan yang rambutnya mulai memutih ini mencari nafkah dengan menganyam tikar tembakau. Upahnya Rp 40 ribu untuk satu lembar tikar. Satu tikar baru selesai dikerjakan dalam empat hari.
“Itu juga kalau ada pesanan,” katanya pelan, Senin (27/7/2026).
Jika dihitung, penghasilannya bahkan tak sampai Rp10 ribu sehari. Agar dapur tetap mengepul, Sutiyama menerima pekerjaan lain. Ia merawat sapi milik orang di kandang yang letaknya tak jauh dari rumah. Di sela pekerjaan itu, ia menanam cabai dan jagung di samping rumah. Bukan untuk dijual.
“Ini buat makan sendiri,” ujarnya sembari tersenyum.
Senyum itu nyaris tak pernah lepas selama bercerita. Padahal hidupnya menyimpan kehilangan yang panjang. Dulu ia tak tinggal sendirian. Ada suami yang menemani, juga seorang anak yang menjadi harapan keluarga. Namun anaknya meninggal saat masih kecil. Tiga tahun lalu, suaminya menyusul.
Sejak itu, rumah kecil di ujung dusun menjadi saksi hari-harinya sebagai sebatang kara. Di dalam rumah hampir tak ditemukan barang elektronik. Tak ada sepeda motor. Tak ada telepon genggam, kulkas atau mesin cuci. Perabotnya pun sederhana. Saat ditanya apa barang paling berharga yang dimilikinya, Sutiyama sempat tertawa kecil.
“Magic com,” jawabnya singkat sambil mengangkat sudut bibir.
Jawaban itu terdengar sederhana. Namun di rumah yang nyaris tanpa perabot modern, penanak nasi listrik memang menjadi benda yang paling ia jaga.
Sutiyama mengaku masih memiliki sepupu. Sesekali mereka datang mengantarkan makanan. Namun rumah kerabatnya cukup jauh sehingga ia lebih banyak menjalani hari seorang diri.
Meski hidup dalam keterbatasan, perempuan itu tak banyak mengeluh. Ia tetap menyapa setiap tamu dengan ramah dan senyum yang sama.
Di balik kesederhanaannya, perlindungan sosial yang diterima Sutiyama juga belum sepenuhnya lengkap. Berdasarkan data pada aplikasi Cek Bansos, ia tercatat sebagai penerima PBI-JK dengan kategori Desil 3. Namun namanya tidak terdaftar sebagai penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) maupun bantuan sembako.
Bagi Sutiyama, hidup tampaknya telah lama mengajarkan satu hal, menerima kenyataan tanpa kehilangan senyum.
Setiap empat hari sekali, jika pesanan datang, selembar tikar selesai dianyam. Upah Rp 40 ribu itu mungkin tak cukup mengubah hidupnya. Namun dari tangan yang terus bekerja itu, ia menjaga agar rumah kecil di ujung Dusun Pangganten tetap menyala, setidaknya untuk satu hari berikutnya.
