PAMEKASAN, MADURANET – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dsidikbud) Pamekasan, Jawa Timur, menggelar Pameran Museum Temporer se-Madura. Kegiatan tersebut mengusung tema “The Colonial“, Senin (28/7/2025). Acara berlangsung di depan gedung Museum Mandilaras, Jalan Cokroaminoto.
Pameran ini menampilkan koleksi benda-benda bersejarah dari masa kolonial dan dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Bupati Pamekasan Kholilurrahman, Wakil Bupati Sukriyanto, para kepala perangkat daerah, Kepala Museum Cakraningrat Bangkalan, Kepala Museum Keraton Sumenep, serta siswa-siswi dari SMA Negeri 1 Pamekasan.
Dalam sambutannya, Bupati Kholilurrahman menegaskan pentingnya peran sejarah dalam membangun karakter dan arah masa depan bangsa.
“Bangsa yang tercabut dari sejarah dan budayanya akan lemah, bahkan hilang dari peradaban. Dulu ada sebuah bangsa bernama Babilonia yang cukup besar dan maju. Bangsa itu lenyap karena tidak mempertahankan budaya dan sejarahnya,” terang Kholilurrahman.
Bupati menambahkan, dirinya memiliki koleksi 47 bilah keris pusaka, termasuk keris pawang hujan dan tolak hujan. Jika kondisi Museum Mandilaras sudah memadai, ia berkomitmen akan meminjamkan koleksi tersebut untuk dipamerkan kepada publik.
“Saya punya koleksi pusaka yang bisa ditaruh di musem, namun bukan untuk dimiliki. Silahkan nanti ditindaklanjuti ke depan,” imbuhnya.
Mantan anggota DPR RI ini mengungkapkan, Museum Mandilaras saat ini masih membutuhkan perbaikan, baik infrastrukturnya maupun kelengkapan koleksinya. Oleh karena itu, dirinya berharap kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan akan terus mendorong penguatan sarana dan prasarana museum agar dapat berfungsi maksimal sebagai pusat edukasi budaya.
Senada dengan Bupati, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pamekasan, Mohamad Alwi, menyampaikan bahwa pameran ini dirancang untuk menumbuhkan semangat nasionalisme, terutama di kalangan pelajar.
“Barang-barang bersejarah yang ditampilkan bukan hanya koleksi, tetapi juga pengingat atas jasa para pahlawan. Ini penting untuk menanamkan cinta tanah air dan memperkuat karakter generasi muda,” ujarnya.
Menurut Alwi, kegiatan ini didukung dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan dilaksanakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Sebagai bagian dari pelestarian budaya lokal, pameran ini turut dimeriahkan oleh penampilan tari tradisional dari siswa-siswi tingkat SD dan SMP di Pamekasan. Pertunjukan tersebut menjadi penegas bahwa seni dan budaya masih tumbuh dan mendapat ruang dalam sistem pendidikan lokal.
Pemkab Pamekasan dalam arah pembangunan ke depan, juga menetapkan sektor budaya dan keberadaan museum sebagai salah satu dari tiga prioritas utama pembangunan daerah. Tiga sektor tersebut meliputi seni, buda dan olahraga untuk mengajak anak-anak muda Pamekasan berkreasi.













