PAMEKASAN, MADURANET – Universitas Islam Negeri (UIN) Madura sukses menggelar International Conference of Islamic Studies (ICONIS) 2025, Rabu (30/7/2025), di Ballroom lantai 4 kampus setempat.
Konferensi internasional bergengsi ini mengusung tema “Islam, Culture and STEM: Change and Sustainability in Disruptive Era”, yang bertujuan membangun dialog lintas keilmuan antara Islam, budaya, dan ilmu sains dalam menghadapi tantangan era disrupsi.
Rektor UIN Madura, Saiful Hadi, menyampaikan bahwa ICONIS merupakan momentum penting dalam transformasi UIN Madura sebagai kampus yang mengusung integrasi antara ilmu agama dan sains.
“Kami sedang bertransformasi dari IAIN Madura menjadi UIN Madura, dan membawa semangat integrasi keilmuan Islam dan sains sebagai pijakan akademik,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi antara nilai-nilai Islam, kemajuan teknologi, serta pelestarian budaya menjadi strategi krusial untuk menjawab tantangan zaman.
“Nilai-nilai spiritual tidak boleh lepas dari inovasi teknologi dan perkembangan global,” tambahnya.
Hal senada juga diungkapkan Ketua Panitia ICONIS 2025, Agung Bachtiar. Ia menekankan pentingnya sinergi antar keilmuan yang tidak hanya religius, tetapi juga relevan secara teknologi dan budaya.
“Konferensi ini kami harapkan mampu menghasilkan rekomendasi konkret bagi pengembangan pendidikan dan penelitian yang holistik,” katanya.
Konferensi yang dihadiri secara online oleh para akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara ini menampilkan tiga narasumber utama, yaitu, Sumanto Alqurtuby dari Satya Wacana Christian University dan Kyoto University, Novel Anak Lyndon dari Universiti Kebangsaan Malaysia, dan Myra Mentari Abubakar dari National University of Singapore.
Ketiganya dikenal sebagai akademisi dan peneliti dengan pengalaman luas dalam integrasi keilmuan Islam, sosial, dan teknologi.
Agung melanjutkan, ICONIS 2025 semakin memperkuat posisi UIN Madura sebagai pusat keilmuan yang terbuka, progresif, dan berdaya saing global.
“Adapun peserta konferensi berasal dari berbagai negara, seperti Jerman, Pakistan, Bangladesh, dan India menunjukkan daya tarik serta relevansi tema dalam lingkup internasional,“ pungkasnya.













